Waspada! Ini 4 Risiko Biarkan Anak Terlalu Lama Menangis

Avatar of PortalMadura.com
Waspada! Ini 4 Risiko Biarkan Anak Terlalu Lama Menangis
ilustrasi

PortalMadura.Com – Anak kecil memang mudah sekali untuk menangis. Entah karena dimarahi atau keinginannya tidak dipenuhi serta jatuh dan sebagainya. Akan tetapi, orang tua harus segera membujuk mereka agar dapat berhenti menangis. Mengapa demikian?.

Sebab, jika anak terlalu lama menangis dapat menyebabkan bahaya yang sangat fatal terhadap pertumbuhannya. Sayangnya, terkadang orang tua membiarkannya, bahkan mereka beranggapan si anak nanti akan capek dengan sendirinya.

Nah, ternyata ada empat bahaya yang harus orang tua ketahui agar hal ini tidak terjadi lagi:

Membiarkan Anak Menangis Terlalu Lama Bisa Merusak Perkembangan Otaknya
Menurut seorang pakar kesehatan anak, Penelope Leach, menemukan, bayi atau anak yang tertekan berkali-kali dan dibiarkan menangis lama berisiko mengembangkan masalah di kemudian hari.

Studi membuktikan, otak anak yang dibiarkan menangis untuk jangka waktu lama, berisiko mengalami kerusakan dalam perkembangannya sampai 15% yang dapat mengurangi kapasitasnya untuk belajar.

”Ini bukan sekadar pendapat, tapi sebuah fakta bahwa membiarkan bayi menangis berpotensi merusak 1 miliar sel otaknya. Jadi mengapa harus mengambil risiko seperti itu?” ujar Leach.

Merusak Mental Anak-Anak dan Hubungan Jangka Panjang
Dalam banyak penelitian, akhirnya diketahui bahwa praktek membiarkan anak menangis dapat merusak jiwa anak-anak dan kemampuan mereka dalam berelasi dengan orang-orang di sekitanya dalam jangka panjang.

Sehingga, anak yang dibiarkan menangis akan membuatnya menjadi tidak sehat, kurang cerdas, lebih mudah cemas, tidak kooperatif terhadap orang lain. Ketika anak sangat tertekan, hormon kortisol dilepaskan secara berlebihan yang akan membunuh neuron.

Ketidakstabilan Hormon dan Bahan Kimia di Dalam Otak
Kajian mendapati, anak yang sering dibiarkan sendirian dalam suasana yang tertekan mempunyai tahap lambakan hormon Kortisol (stress related hormone) yang abnormal.

Dr. Allan Schore dari UCLA School of Medicine, menjelaskan, lambakan hormon ini memusnahkan hubungan antara saraf di bagian penting otak bayi yang sedang berkembang.

Kajian lanjutan berkaitan dampak negatif tangisan terhadap otak menunjukkan, bayi mengalami potensi peningkatan 10 kali ganda menjadi kanak-kanak ADHD (Attention Deficit and Hyper Activity Disorder). Yaitu, kurang tumpuan pembelajaran di sekolah dan kemahiran sosial yang lemah.

Kemunduran Perkembangan Emosi dan Kecerdasan Sosial
Pasukan Dr Rao dari National Institutes of Health USA, membuktikan, anak yang mengalami episode tangisan yang berkepanjangan pada tiga bulan pertama hidupnya mempunyai tahap IQ rendah menjelang usia lima tahun berbanding anak-anak lain.

Selain itu, anak-anak ini juga menunjukkan kelambanan perkembangan fungsi motorik. (tipspendidikananak.com/Lala)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.