2 Kriteria Karyawan Baik yang Dijelaskan dalam Alquran

  • Bagikan
Kriteria Karyawan Baik yang Dijelaskan dalam Alquran
ilustrasi

PortalMadura.Com – Selain beribadah, manusia juga memiliki kewajiban untuk dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, tanpa menggantungkan diri kepada orang lain. Hal ini termasuk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Apalagi bagi seorang laki-laki yang telah berkeluarga. Mereka memiliki kewajiban untuk dapat menafkahi anak istrinya, karena suami adalah tulang punggung dan kepala keluarga. Oleh karena itu, mereka membutuhkan pekerjaan agar dapat mendapatkan penghasilan, dan sebagian besar profesi yang dipilih masyarakat di negeri ini, yaitu menjadi karyawan atau pekerja.

Lantas, bagaimanakah kriteria karyawan yang baik dalam Alquran?. Bila Anda merujuk pada kisah dialog antara Nabi Syuaib dan anaknya, Anda tentu bisa menyimpulkan jawabannya. Namun, sebelum Anda mengulas dialog yang dimaksud tersebut, mari lebih dulu Anda tengok latar belakang terjadinya dialog tersebut.

Alkisah, sewaktu Musa berhenti berteduh di bawah pohon, beliau melihat serombongan orang yang akan meminumkan kambing-kambingnya, karena di sana terdapat mata air. Untuk mendapatkan air mereka saling berebutan, dan di antara mereka terdapat dua anak gadis yang sedang menunggu sampai selesainya orang laki-laki yang berjejal-jejalan itu. Musa menolong dua gadis yang bersaudara itu untuk meminumkan kambingnya, dan setelah selesai beliau pun duduk di tempat semula.

Setelah itu, salah seorang dari kedua perempuan itu datang kepada Musa, berjalan perlahan-lahan dengan perasaan malu, katanya, “Bapakku mengundang tuan karena ia hendak membalas kebaikan tuan, meminumkan kambing kami. Tatkala Musa tiba di hadapan ayah anak gadis itu, yang ternyata adalah Nabi Syuaib. Dalam pembicaraan tersebut, putri Nabi Syuaib meminta kepada ayahnya agar Nabi Musa dijadikan sebagai pekerja di rumah mereka.

Sebagaimana firman Allah: “Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, ‘Wahai ayahku! Jadikanlah dia sebagai pekerja pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil sebagai pekerja (pada kita) ialah orang yang kuat dan dapat dipercaya” (QS: Alqashash : 26 – 28).

Demikianlah kisah Nabi Musa bertemu dengan Nabi Syuaib, Musa diminta Nabi Syu‘aib untuk bekerja sebagai karyawan yang setiap harinya menggembalakan kambing Nabi Syu‘aib selama sepuluh tahun. Dan di akhir kisah, Nabi Musa menikah dengan salah satu putri Nabi Syuaib.

Berdasarkan dialog tersebut, terdapat dua kriteria seorang karyawan yang baik dalam Alquran. Berikut ini uraiannya:

Pertama, memiliki kualitas kompetensi yang handal. Dalam ayat tersebut disebut dengan “qowiyyun” yang berarti memiliki kekuatan. Yaitu kekuatan atau kemampuan dalam menjalankan tugasnya. Dalam konteks cerita tersebut, pekerjaan yang hendak dijalankan oleh Nabi Musa membutuhkan kekuatan yang besar. Karena tugasnya membantu keluarga Nabi Syuaib merawat hewan ternak mereka. Putri Nabi Syuaib menyatakan kepada ayahnya bahwa Nabi Musa memiliki kekuatan serta kemampuan untuk melakukannya.

Nah, berbicara tentang kualitas keterampilan dalam suatu bidang pekerjaan, memang hal yang mutlak diperlukan. Seseorang yang berkompeten dalam melakukan pekerjaannya, tentu akan makin memperbesar tingkat keberhasilan penyelesaian tugasnya.

Maka dari itu, dunia pendidikan memfasilitasi kebutuhan tersebut dengan model pendidikan kejuruan. Di tingkat SMA, ada SMK dengan berbagai macam bidang kejuruan yang ditawarkan. Seperti otomotif, elektronika, dan bahkan olahraga. Di tingkat Perguruan Tinggi semakin banyak pilihan spesialisasinya. Ada kedokteran, apoteker, teknik sipil, dan masih banyak lagi jurusan lainnya.

Semua hal tersebut bertujuan untuk mengasah aspek “qowiyyun” dalam diri manusia. Dengan “qowiyyun” yang mumpuni, maka mereka akan makin terampil dalam bidang yang mereka gelut. Sebagai dokter, mereka menjadi dokter yang mampu menjalankan tugas medisnya. Sebagai guru. mereka mampu mengajar dengan baik. Dan lain sebagainya.

Kedua,amiin“. Yang dimaksud dengan “amiin” adalah dapat dipercaya. Dalam pengertian luasnya, orang tersebut memiliki kualitas akhlak yang unggul. Atau dengan kata lain, orang itu miliki akhlak yang mulia. Termasuk dalam aspek ini: jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan lain-lain.

Pentingnya kompetensi dalam melaksanakan tugas ini sesuai dengan nasihat Arab yang artinya “Jika sebuah urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu saja saat kebinasaanya”.

Bisa dibayangkan, ada orang yang tidak mengerti teknik sipil atau arsitektur diberi tanggung jawab membuat bangunan. Apa yang terjadi?. Tentu hasilnya akan tidak maksimal, atau bahkan akan gagal terwujud bangunan tersebut. Inti permasalahannya bukan berada pada rancangan bangunannya, tapi kepada pemilihan pelaksana tugas tersebut yang tidak sesuai. Yang dapat melaksanakan tugas itu adalah orang yang memiliki keilmuan dan keterampilan tentang rancang bangun.

Aspek kedua ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Kualitas akhlak sama pentingnya dengan kualitas kompetensi. Bahkan, banyak yang menempatkan akhlak lebih utama daripada kompetensi. Hal ini dapat ditemukan kebenarannya bila Anda merujuk kepada tujuan Rasulullah diutus ke dunia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Jika Anda renungkan dengan saksama, memang penting sekali kemuliaan akhlak dalam bekerja.

Terjadinya penyelewengan dalam pekerjaan sesungguhnya menunjukkan kelemahan dari sisi akhlak. Terutama banyaknya pejabat di negeri ini yang ditangkap oleh KPK membuka kesadaran Anda. Bahwa mereka itu ditangkap bukan karena tidak memiliki kompetensi untuk melaksanakan tugas mereka, namun karena rendahnya kualitas akhlak mereka. Mereka mengambil uang yang bukan hak mereka.

Terutama mereka yang bekerja di bawah meja, sehingga hal yang semestinya tidak boleh, menjadi boleh. Mereka bersekongkol dengan para pihak untuk meluluskan kepentingan mereka, sehingga mereka mendapatkan keuntungan pribadi dalam hal tersebut.

Itulah dua kriteria karyawan baik yang tersurat dalam Alquran. Sesungguhnya hal tersebut benar adanya. Antara kualitas kompetensi dan akhlak haruslah dimiliki oleh seseorang untuk dapat menjadi pekerja yang baik. Wallahu A’lam. (okezone.com/Salimah)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.