oleh

3 Adab Menghafal Alquran Menurut Imam Nawawi

PortalMadura.Com – Membaca dan mengamalkan ayat-ayat suci Alquran merupakan anjuran bagi seluruh umat Muslim, apalagi sampai menghafalnya. Karena, ada banyak keutamaan yang bisa didapatkan dengan mempunyai amalan ini.

Salah satu keutamaannya yaitu bisa mendapat kemudahan dari Allah SWT dalam segala urusan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam kitab suci Alquran Surah Al Qamar Ayat 17:

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ

Artinya: “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Alquran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

Tidak hanya sekali, Allah Subhanahu wa ta’ala mengulang ayat tersebut sebanyak empat kali pada ayat 7, 22, 32, dan 40 Surat Al Qamar. Para ulama tafsir umumnya berpendapat ayat ini mengandung makna bahwa Allah telah memudahkan bagi seseorang yang ingin membaca, menghafal dan menggali ilmu Alquran.

Pendapat senada diungkapkan pula oleh Imam Ath Thabari dalam kitab tafsirnya yaitu Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an. Sementara dalam kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an karya Imam Nawawi Al Dimasyqi dijelaskan beberapa adab bagi para penghafal Alquran yang perlu diperhatikan. Mengingat Alquran bukan kitab bacaan buatan manusia, melainkan kumpulan firman Allah Yang Maha Suci.

Lantas, apa saja adab menghafal Alquran?. Berikut ini tiga adab menghafal ayat-ayat suci Alquran menurut Imam Nawawi, sebagaimana dilansir Okezone.com yang dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI):

Menyucikan Hati dan Diri

Saat mendatangi guru ataupun majelis Alquran berpenampilan sempurna serta menjauhkan diri dari hal-hal tercela yang bertolak belakang dengan ajaran Alquran.

Sikap tersebut juga termasuk membersihkan diri dari segala penyakit hati seperti iri, dengki, hasad, dan penyakit hati lainnya. Hati yang bersih menandakan bahwa diri tersebut siap menerima segala keberkahan ilmu dari para guru.

Hal ini dilakukan semata-mata untuk memuliakan Alquran yang akan dipelajari. Menyiapkan penampilan yang sempurna serta hati yang bersih merupakan wasilah agar dibukakannya kemudahan dalam memahami Alquran.

Penyucian diri dari segala dosa sangat penting. Salah satu kisah populer yang dapat diambil hikmahnya yaitu kisah Imam Syafii yang mengadukan kualitas hafalannya kepada guru beliau Imam Waki’ bin Jarrah:

وكيع سوء شكوت حفظي

فأرشدني ترك المعاصي

وأخبرني بأن العلم نور

ونور الله لا يهدى لعاصي

“Aku (Imam Syafii) mengadu kepada Imam Waki’ tentang buruknya hafalan. Lalu beliau menasihatiku agar meninggalkan perbuatan maksiat. Karena sesungguhnya hafalan itu anugerah dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Sedangkan Allah tidak memberikan anugerah hafalan kepada orang yang ahli maksiat”.

Konsentrasi Belajar

Imam Nawawi berpendapat bagi penghafal Alquran harus menjauhi hal-hal yang menyibukkan, kecuali melakukan hal yang berkaitan dengan belajar dan untuk suatu kebutuhan.

Pendapat yang hampir sama dikemukakan pula oleh Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bahwa apabila pikiran peserta didik telah terbagi maka kuranglah kesanggupannya untuk mendalami ilmu pengetahuan.

Bagi seseorang penghafal Alquran proses mengulang bacaan merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan, kesungguhan dan kesabaran yang tinggi, kecerdasan saja tidak cukup. Konsentrasi penuh sangat diperlukan, terlebih hal ini akan semakin sulit dilakukan saat berada pada situasi dan kondisi yang kurang mendukung.

Dalam perjalanan menghafal Alquran bukan mereka yang memiliki memiliki IQ tinggi ataupun kecerdasan di atas rata-rata yang mampu menyelesaikan hafalan. Namun, mereka yang sungguh-sungguh serta konsentrasi penuh saat proses menghafallah yang akan sampai pada target.

Sekalipun seseorang memiliki IQ di atas normal, jika tidak dibarengi dengan keseriusan dalam belajar, maka tinggal menunggu kegagalan dalam proses belajarnya. Hal ini membuktikan bahwa kecerdasan yang tinggi bukan faktor utama bagi seseorang untuk menyelesaikan hafalannya.

Komitmen dalam Belajar

Komitmen merupakan sikap seseorang yang mencerminkan kemantapan kemauan, keteguhan sikap, kesungguhan, dan tekat untuk berbuat yang lebih baik. Dalam hal ini Imam Nawawi menekankan kepada penghafal Alquran untuk gemar dan tekun menuntut ilmu.

Khususnya bagi penghafal Alquran yang memiliki kontrak seumur hidup untuk mengulang-ngulang hafalannya agar tetap terjaga. Jika sikap konsisten ini tidak ada dalam diri penghafal Alquran maka akan sulit untuk menyelesaikan hafalannya.

Sebab sering kali saat proses menghafal Alquran ditemui berbagai macam kendala, baik itu jenuh karena harus selalu mengulang hafalan ataupun lingkungan yang kurang kondusif untuk mengaji. Wallahu a’lam bishawab.

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar