3 Cara Allah SWT Mendidik Rasulullah yang Patut Umat Islam Ketahui

  • Bagikan
3 Cara Allah SWT Mendidik Rasulullah yang Patut Umat Islam Ketahui
ilustrasi

PortalMadura.Com“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzab : 21). Rasulullah merupakan hamba terbaik yang diutus Allah SWT di sepanjang sejarah kehidupan manusia hingga akhir masa, seperti dilansir dari Republika.co.id, Rabu (13/11/2019).

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Rasulullah bersabda: “Tuhanku telah mendidikku, maka Dia menjadikan pendidikanku yang terbaik”. Untuk itu, umat Islam harus meneladani Rasulullah dalam segala aktivitasnya.

Setidaknya, Allah SWT mendidik Rasulullah dalam tiga cara yang patut umat Muslim ketahui, berikut ini uraiannya:

Pertama, pendidikan by design. Pendidikan Rasulullah sudah direncanakan dan didesain Allah SWT. Perhatikanlah silsilah Rasulullah. Ayahnya bernama Abdullah, berarti hamba Allah. Ibunya bernama Aminah, artinya dapat di percaya. Lalu kakeknya, Abdul Muthalib, memberi nama Muhammad yang artinya orang yang terpuji. Silsilahnya sampai kepada Nabi Ismail bin Ibrahim AS.

Dalam kandungan, ayah Rasulullah wafat. Begitupula saat usia Rasulullah masih anak-anak, bunda tercinta juga dipanggil Allah. Muhammad menjadi yatim piatu. Meski yatim piatu, beliau dididik di lingkungan yang baik sehingga mendukung pertumbuhan mental dan fisiknya. Rasulullah diasuh kakeknya, lalu berpindah pada pamannya, Abu Thalib.

Baca Juga: Para Orang Tua, Ini 5 Strategi Rasulullah Atasi Problem Anak yang Patut Ditiru

Ketika ditanya soal perjalanan hidupnya yang berpindah-pindah pengasuhan ini, Rasulullah menjawab, “Begitulah cara Allah mendidikku sehingga tidak ada satu orang pun yang sangat berpengaruh dalam hidupku, termasuk orang tuaku sendiri”.

Kedua, pendidikan berbasis prophetic atau kenabian. Di usia 40 tahun, Muhammad diangkat menjadi Rasul. Penetapannya sebagai Nabi dan Rasul menunjukkan bahwa Allah SWT mendidik Muhammad mengandung pendekatan profan atau bermuatan “kelangitan”.

Sebagai Nabi, Allah mendidiknya dengan tuntunan wahyu melalui Malaikat Jibril. Perkataan dan perbuatannya mengandung ajaran mulia karena didasari oleh wahyu, bukan hawa nafsu. Saat Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah, ia berkata, “Dan akhlak Nabi itu adalah Alquran”.

Ketiga, pendidikan dalam pemeliharaan dan pengawasan Allah. Di antara bentuk pengawasan Allah adalah memeliharanya dari perbuatan maksiat. Misalnya, di saat remaja Rasulullah pernah ingin melihat pesta yang dipenuhi oleh hiburan sarat maksiat. Tiba-tiba saja beliau merasa letih dan mengantuk berat sehingga tertidur. Saat terbangun, hari sudah siang sehingga Rasulullah tidak melihat hiburan bermaksiat tersebut. Hal itu juga terjadi keesokan harinya. Demikian Allah menjaga Rasulullah dari lingkungan buruk.

Maka dari itu, sebagai umat Rasulullah, Anda perlu merancang pendidikan berbasis Islam, mengandung misi prophetic, dengan tauhid sebagai poros utama. Wallahu A’lam.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.