oleh

4 Cara Bertahan Hidup dalam Ujian Allah

PortalMadura.Com – Setiap manusia pasti pernah di uji oleh Allah SWT. Namun, seperti seperti apa bentuknya tidak ada yang tahu dan akan berbeda satu sama lain.

Sebagai mukmin tentunya harus sadar dan faham terhadap ujian yang diberikan oleh Allah agar senantiasa bisa menghadapi dan tidak berputus asa.

Dalam kesulitan itu, hendaklah menyikapi dengan cara-cara yang ditunjukkan oleh Allah SWT. Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com dari laman okezone.com, berikut beberapa cara bertahan hidup di masa sulit.

Wajib Berhusnu-zhan kepada Allah SWT

Yang pertama dan utama hendaklah setiap hamba berhusnu-zhan (berprasangka baik) kepada Allah SWT atas musibah dan kesusahan yang menimpanya. Karena sesungguhnya keimanan dan tauhid seseorang tidak akan sempurna kecuali dengan husnu-zhan kepada Allah Azza wa Jalla .

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah berkata: “Engkau wajib husnu-zhan kepada Allah SWT terhadap perbuatan-Nya di alam ini. Engkau wajib mengetahui bahwa apa yang Allah lakukan itu merupakan hikmah yang sempurna, terkadang akal manusia memahaminya atau terkadang tidak. Dengan inilah keagungan Allah dan hikmah-Nya di dalam takdir-Nya diketahui.

Maka janganlah engkau menyangka bahwa jika Allah melakukan sesuatu di alam ini, adalah karena kehendak-Nya yang buruk. Termasuk kejadian-kejadian dan musibah-musibah yang ada, Allah tidak mengadakannya karena kehendak buruk yang berkaitan dengan perbuatan-Nya.

Adapun yang berkaitan dengan makhluk, bahwa Allah menetapkan apa yang Dia kehendaki, itu terkadang menyusahkannya, maka ini seperti firman Allah: Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah, jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” [al-Ahzâb/33:17][1]

Harus Bersabar

Kemudian senjata hamba di dalam menghadapi kesusahan dalah kesabaran. Sabar adalah sifat yang agung. Sabar menghadapi kesusahan adalah menahan jiwa dari berkeluh-kesah, menahan lisan dari mengadu kepada manusia, dan menahan anggota badan dari perkara yang menyelisihi syariat.

Bagi seorang Mukmin sabar merupakan senjatanya untuk menghadapi kesusahan. Dan hal itu akan membuahkan kebaikan baginya.

Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata: dahulu Rasulullah melewati beberapa malam berturut-turut dengan keadaan perutnya kosong, demikian juga keluarganya, mereka tidak mendapati makan malam. Dan sesungguhnya kebanyakan rotinya mereka adalah roti gandum.

Bersikap Qanaah

Selain kesabaran, maka sikap yang tidak kalah penting adalah qanâah. Yang dimaksud dengan qanâah yaitu rida terhadap pembagian Allah. Karena sesungguhnya hakikat kaya itu adalah kaya hati, bukan kaya harta. Dan qanâah merupakan jalan kebahagiaan.

Rasulullah bersabda: “Ketahuilah bahwa kemiskinan itu terpuji. Namun, sepantasnya orang yang miskin itu bersifat qanaah, tidak berharap kepada makhluk, tidak menginginkan barang yang berada di tangan orang, dan tidak rakus mencari harta dengan segala cara, namun itu semua tidak mungkin dilakukan, kecuali dia qanâ’ah dengan ukuran minimal terhadap makanan dan pakaian”.

Rasulullah bersabda: sesungguhnya meminta-minta itu merupakan cakaran seseorang pada wajahnya. Kecuali seseorang yang meminta kepada pemerintah atau dalam perkara yang tidak ada pilihan baginya.

Hidup Berhemat

Kemudian di antara kita terpenting dalam menghadapi kesulitan yaitu bersikap hemat di dalam pengeluaran. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang. Yaitu jangan sampai pengeluaran lebih banyak daripada pemasukan. Karena hal ini tentu akan berakibat fatal. Sebagian orang akhirnya terperosok ke dalam lubang hutang yang tidak ada kesudahannya.

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” [Al-Furqan/25:67]

Rewriter : Desy Wulandari
Sumber : Okezone.com

Komentar