oleh

7 Cara Atasi Balita yang Sering Melempar Barang

PortalMadura.Com – Usia balita merupakan masa dimana anak mulai banyak mengalami perkembangan. Ia bahkan seringkali penasaran dengan sesuatu hal dan ingin untuk mencobanya. Salah satu kebiasaan yang muncul ketika balita sudah bisa menggenggam barang adalah melempar.

Hampir semua barang dilempar sehingga rumah berantakan. Sebenarnya, ada banyak alasan balita melepar barang. Gerakan tersebut adalah salah satu cara anak mengekspresikan perasaannya, baik perasaan senang maupun marah, karena anak belum tahu cara mengekspresikan perasaan dengan cara lain.

Terkadang, balita juga melempar barang karena rasa ingin tahu mereka. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika suatu barang dilempar. Meski sudah mengerti alasan dibaliknya, tidak jarang Mama tersulut emosi karena kebiasaan anak ini.

Sayangnya, kebanyakan Mama keliru saat menanggapi dengan teriakan atau amarah. Nah, berikut ini ada beberapa cara seperti yang dikutip dari laman Popmama.com untuk cara mengatasi kebiasaan melempar barang.

Tetap Tenang dan Pahami Alasan Anak Melempar Barang
Sebagian besar orang tua akan otomatis berteriak ketika melihat anak melempar suatu barang. Tidak jarang, teriakan tersebut juga diikuti oleh emosi. Sayangnya, marah adalah reaksi yang keliru. Saat anak melempar barang, Mama harus tetap tenang.

Pahami bahwa anak belum mengerti melempar barang adalah tindakan yang tidak baik. Seperti yang telah disebutkan di atas, ada banyak alasan anak melempar barang. Oleh karena itu, tanyakan alasan anak melakukannya dan berikan penjelasan dengan nada netral dan kata-kata yang mudah dipahami ya, Ma.

Tidak Perlu Menghukum Anak
Jika meneriaki atau memarahi anak saja tidak boleh, maka menghukum anak harus lebih dihindari. Mungkin Mama melakukannya karena ingin membuat anak jera. Tapi, hal tersebut tidak baik untuk perkembangan mentalnya.

Apalagi jika Mama melakukannya di depan umum. Hukuman hanya boleh diberikan ketika lemparan anak membahayakan atau membuat orang lain terluka.

Ajak Anak Merapikan Barang yang Ia Lempar
Orang tua mudah terpancing emosi saat anak melempar barang hingga membuat rumah berantakan. Bahkan, Mama bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajarkan tanggung jawab pada anak. Alih-alih merapikan sendiri, ajaklah anak untuk merapikan barang yang telah ia lempar bersama-sama.

Beri Tahu Risiko Melempar Barang
Saat Anak melempar suatu barang hingga rusak, itulah kesempatan Mama untuk menjelaskan risiko melempar barang kepada anak. Dengan cara ini, anak akan belajar bahwa setiap tindakan memiliki risiko tersendiri dan tidak mengulanginya lagi.

Baca juga: Bangkalan Darurat Sampah, 200 Ton Tertahan di TPS dan Berserakan di Wilayah Kota

Namun, jelaskan dengan nada netral ya, Ma. Sekali lagi, merespon lemparan anak dengan teriakan dan emosi adalah hal yang keliru.

Kenalkan Barang yang Boleh dan Tidak Boleh Dilempar
Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka ingin tahu apa yang akan terjadi ketika suatu barang dilempar. Nah, Mama bisa memenuhi rasa ingin tahu anak dengan memberikan penjelasan. Kenalkan barang-barang yang aman untuk dilempar dan yang tidak. Mama juga perlu menjelaskan risikonya.

Alihkan Energi Anak ke Aktivitas Lain
Melempar adalah salah satu latihan motorik untuk anak lho, Ma. Jika anak sangat suka melempar barang dan memiliki energi lebih, alihkan saja energi tersebut ke aktivitas lain.

Mama bisa mengajak anak saling lempar tangkap bola atau meminta anak melempar target di dinding. Dengan permainan-permainan ini, anak akan belajar bahwa melempar boleh dilakukan asal dengan barang, waktu, dan tempat yang tepat.

Berikan Teladan yang Baik
Perlu diingat, anak adalah peniru ulung, ia akan meniru segala tindakan yang ia lihat termasuk tindakan Mama. Oleh karena itu, pastikan Mama memberikan teladan yang baik di rumah ya, Ma. Jika Mama melarang anak melempar barang, maka Mama juga tidak boleh melempar barang tersebut.

Itulah beberapa cara untuk mengatasi kebiasaan melempar barang. Lakukan cara tersebut agar kebiasaan melempar segera hilang ya, Ma. Bagaimanapun, tindakan tersebut tidak boleh dijadikan kebiasaan.

Rewriter : Nurul Hijriyah
Sumber : popmama.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar