oleh

7 Fakta Mengerikan Hutan Aokigahara, Yakin Berani Berkunjung?

PortalMadura.Com – Hutan Aokigahara merupakan salah satu hutan yang ada di Jepang. Hutan tersebut juga dikenal sebagai hutan tempat bunuh diri. Sebab, terdapat puluhan hingga ratusan orang ditemukan tewas di hutan ini setiap tahunnya.

Konon hutan yang berada di kaki Gunung Fuji tersebut menyimpan sisi misterius di dalamnya. Penasaran? Berikut ini sejumlah hal menakutkan yang tersimpan di hutan Aokigahara.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Kapal Karam dan Dua Kerangka Jenazah Berhasil Dievakuasi Tim Sar Polda Jatim

Hutan yang Sunyi
Hutan Aokigahara mempunyai pepohonan yang rata-rata memiliki tinggi sepuluh kaki. Pepohonan tersebut juga mempunyai daun-daun yang rimbun dan padat sehingga seperti membentuk kanopi pada hutan.

Oleh karena itu, cahaya matahari tak sepenuhnya dapat menyinari area hutan. Alhasil hutan Aokigahara selalu erat dengan nuansa yang kelam dan damai.

Kemudian jarang sekali ditemukan hewan liar yang berkeliaran di dalam hutan. Mungkin karena tak banyak sumber makanan di sana, para hewan menjauhi hutan tersebut. Dibalik itu, hutan Aokigahara juga dianggap sebagai hutan yang sangat sunyi.

Bahkan bagi para pejalan kaki, munculnya suara burung merupakan pemandangan yang jarang ditemui, sehingga dapat membuat mereka terkejut ketika mendengarnya. Karena kesunyian dari hutan tersebut, dikabarkan suara-suara hantu yang merintih dan menangis bisa terdengar dari jarak yang jauh.

Bisa Membuat Anda Tersesat
Dari jauh Anda bisa melihat pemandangan Gunung Fuji yang menenangkan bersama dengan hutan Aokigahara di bawah kakinya.

Hanya saja pemandangan indah itu sebenarnya tak seindah dengan kenyataanya. Pepohonan yang rimbun dan seragam dapat dengan mudah membuat Anda tersesat.

Itu sebabnya, para pejalan kaki di Aokigahara biasanya mengikuti jalan setapak dan membawa pita berwarna untuk menandai jalan. Jika sampai tersesat, GPS dan ponsel tak akan berguna untuk digunakan di sana.

Tempat Populer untuk Melakukan Bunuh Diri
Aokigahara yang sunyi merupakan tempat sunyi dan damai. Mungkin banyak orang berpikir bahwa hutan ini merupakan tempat yang tepat untuk peristirahatan terakhir mereka.

Sehingga memungkinkan bagi sejumlah orang pergi ke Aokigahara hanya untuk mengakhiri hidup mereka dengan secara tenang tanpa adanya gangguan.

Oleh karenanya, hutan ini dianggap sebagai situs bunuh diri terpopuler setelah Golden Gate Bridge. Pemerintah Jepang sampai harus menyembunyikan angka kematian bunuh diri di Aokigahara, agar menghentikan tempat itu menjadi populer.

Tak heran bila di sana Anda bisa menemukan papan peringatan untuk tidak bunuh diri. Biasanya papan tersebut bertuliskan pesan menggugah seperti “Hidupmu merupakan anugrah berharga bagi orangtuamu” atau “Pikirkan tentang keluargamu!”.

Roh Yurei
Menurut cerita rakyat Jepang, roh gentayangan yang dikenal dengan nama Yurei dianggap menghantui hutan Aokigahara dalam waktu yang lama. Biasanya ia digambarkan dalam sosok wanita yang pucat dengan baju putih panjang dan rambut bewarna hitam.

Bedasarkan tradisi dan kepercayaan di Jepang, jika mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri maka roh mereka tak dapat bergabung dengan para leluhur di dunia lain. Mungkin karena itulah Yurei bisa gentayangan.

Untuk menghindari hal itu, biasanya orang-orang yang meninggal karena bunuh diri, mayatnya akan ditemani oleh seseorang. Petugas hutan Aokigahara biasanya melakukan ritual ini agar arwah orang yang bunuh diri tak sendirian dan menjadi marah.

Populer Sebagai Situs Bunuh Diri Sejak Lama
Memang sudah lebih dari beberapa dekade hutan Aokigahara terkenal sebagai situs bunuh diri. Mungkin sebagian orang hanya mengetahuinya baru-baru ini.

Namun, hutan itu populer untuk dijadikan tempat bunuh diri sejak tahun 1950. Beberapa literatur dianggap sempat mendongkrak kepopuleran hutan Aokigahara sebagai tempat bunuh diri.

Pada 1960, penulis Seicho Matsumoto menulis novel yang disebut dengan Kuroi Kaiju. Kisah yang ditulisnya berakhir dengan tragis yakni dua pasangan yang saling mencintai mati bunuh diri bersama di hutan. Sejak novel itu melejit, kasus bunuh diri dikabarkan juga mengalami peningkatan.

Tak hanya novel Matsumoto, Wataru Tsurumui yang menciptakan buku kontroversial tentang bunuh diri pada tahun 1993, juga menyebutkan hutan Aokigahara merupakan tempat yang paling tepat untuk mengakhiri hidup. Tak kaget jika buku Tsurumui kerap ditemukan dekat dengan jasad orang yang bunuh diri di hutan itu.

Cerita Kuno Orang Tua yang Ditinggalkan
Kehidupan yang sulit serta kemiskinan, membuat para anak tega membuang orang tua mereka ke hutan. Hal ini dilakukan karena zaman dahulu, orang-orang miskin tak memiliki cukup makanan yang bisa diberikan pada seluruh anggota keluarga.

Sehingga, anggota keluarga yang paling tua seperti ibu, mereka perlu singkirkan demi bertahan hidup.

Aokigahara menjadi salah satu hutan dimana orang-orang Jepang dahulu membuang orang tua mereka. Biasanya orang-orang tua yang ditinggalkan akan perlahan meninggal karena kelaparan dan dikabarkan akan menghantui hutan tempat ia meninggal.

Di Jepang, kebiasaan kuno ini disebut ubasute. Sebenarnya tak hanya di Jepang saja yang melakukan tindakan keji ini, di sejumlah negara Asia lain seperti Korea juga pernah melakukan hal ini dalam masyarakatnya.

Baca Juga: Panwascam Waru Dipukul Oknum Caleg, Ini Keterangan Bawaslu Pamekasan

Penjarahan Mayat
Bukan menjadi hal aneh melihat banyaknya barang peninggalan dari orang-orang yang bunuh diri di Aokigahara. Tak heran jika pemulung kerap berkeliaran di sana untuk mencari barang-barang berharga yang bisa mereka ambil.

Bahkan, jika mereka menemukan jasad orang yang bunuh diri terlebih dahulu sebelum petugas. Para penjarah akan mengambil semua barang berharga pada jasad tersebut. Tentunya tindakan tersebut sebenarnya dapat memicu kemarahan dari roh yurei.

Bagaimana, yakin mau berkunjung ke hutan Aokigahara?

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar