oleh

Ach Rifai : Deny Abu Said Sosok Wartawan Teladan

PortalMadura.Com, Sumenep – Kabar meninggalnya Deny Abu Said, wartawan senior di Sumenep, Jawa Timur, Kamis (7/1/2021) pagi, menjadi duka mendalam bagi wartawan yunior di ujung timur pulau garam Madura.

Selama ini, Deny Abu Said dikenal sebagai sosok teladan bagi wartawan lain atau insan pers, khususnya di Kabupaten Sumenep.

Pengakuan itu, salah satunya diungkapkan keluarga besar PWI Sumenep, Ach. Rifai.

Ach Rifai Deny Abu Said Sosok Wartawan Teladan
Ach Rifai (IST)

Ia mengenal sosok Deny Abu Said sejak tahun 1996. Waktu itu, almarhum sebagai wartawan Jawa Pos dan menjabat sebagai Ketua PWI Sumenep (dulu disebut perwakilan) sebagai pengganti dari ketua PWI pertama di Sumenep, Usman Saleh.

“Almarhum dikenal sebagai sosok bersahaja. Jadi, tidak hanya sebagai ketua PWI. Beliau tidak merasa kaku dan canggung. Dimana saja, beliau selalu memberikan masukan atau koreksi terhadap pemberitaan. Waktu itu, saya sebagai wartawan muda di Radar Madura,” terang Ach Rifai.

Almarhum, kata Rifai, tidak segan-segan untuk mengarahkan dan memberikan contoh bagaimana menulis yang benar dan melakukan komunikasi dengan nara sumber. Bahkan, bagaimana menghadapi persoalan yang berkaitan dengan sumber-sumber berita.

Misalnya, berbagai kegiatan ekonomi, sosial, politik dan persoalan lain yang dihadapi masyarakat Sumenep. “Lebih dari itu, beliau adalah sosok pemimpin organisasi yang bagus. Ia selalu mengajari kita, bagaimana berorganisasi dan bagaimana menjadi leader yang baik,” katanya.

Dari sikap keteladanan yang patut dicontoh itu, ia akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan PWI Sumenep pada tahun 1999. “Berkat didikan dan arahan beliau, saya juga bisa menjadi ketua PWI Sumenep selama dua periode,” kenangnya.

Baca Juga : Deny Abu Said Wafat, Nyai Eva: Kami Merasa Kehilangan Tokoh Pers

Baca Juga : Pesan Terakhir Almarhum Deny Abu Said Bagi Wartawan

Baca Juga : Breaking News-Wartawan Senior Deny Abu Said Wafat

Tidak hanya itu, selama Rifai memangku Ketua PWI Sumenep, banyak mengadopsi program-program yang ditelorkan almarhum.

“Saya menduplikasi. Contoh, santunan pada anak yatim, khususnya pada saat ramadan. silaturrahmi dengan wartawan senior PWI atau wartawan di luar PWI yang banyak berjasa di Sumenep,” urainya.

Selain mengadopsi program, Rifai mengaku banyak pelajaran yang diajarkan. Misalnya, isi dan data berita agar tidak sumir. “Akhirnya, saya bisa mengukir prestasi seperti yang beliau terima saat di Jawa Pos,” terangnya.

Salah satu prestasi tertinggi di lingkungan PWI yakni Piala Prapanca. “Berkat arahan beliau, saya sebagai wartawan daerah, pernah juga merasakan dua kali sebagai wartawan terbaik di Jatim. Piala Prapanca. Ini penghargaan tertinggi,” ucapnya.

Dari amatan Rifai, almarhum bukan sekedar sosok teladan di lingkungan wartawan. Almarhum, adalah sosok yang mampu mendidik anak dan cucu-cucunya.

“Sering saya temui di jalan, beliau sering bersama cucu-cucunya. Sambil jalan santai. Itu gambara beliau selama hidupnya,” ujarnya.

Keteladanan almarhum, menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan Rifai. Meski tidak mampu mencontoh sebaik almarhum. “Saya tentu akan mencontoh sosok dan sikap beliau meski tidak sebaik beliau,” katanya.

“Selamat jalan Deny Abu Said. Saya berterima kasih karena sudah memberikan dedikasi terhadap dunia pers di Sumnenep. Dan sangat layak menjadi panutan di Sumenep,” pungkasnya.(*)

Penulis : Lisa Mana L
Editor : Raudatul Fitrah

Komentar