Baddrut Tamam, Sosok Bupati Pamekasan Yang Tak Mau Berjarak dengan Rakyatnya

Avatar of PortalMadura.com
Baddrut Tamam, Sosok Bupati Pamekasan Yang Tak Mau Berjarak dengan Rakyatnya
Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, (Foto: Marzukiy @portalmadura.com)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Pamekasan – Bupati Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Baddrut Tamam, menjadi pemimpin termuda sepanjang sejarah di kabupaten dengan slogan Gerbang Salam tersebut. Sebab, di usianya yang ke 44, dia dipercaya masyarakat setelah menang dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2018.

Bupati Milenial ini tampak berbeda dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya dalam hal cara memimpin, dia lebih terbuka dan selalu tampil eksentris. Bahkan, tidak canggung berfoto selfie dengan masyarakat umum dari berbagai kalangan. Sebab menurutnya, jabatan hanya sebatas alat pengabdian.

Ketika terjun ke masyarakat, mantan aktivis PMII ini juga tidak sungkan berbaur dengan cara menyapa langsung untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Kebiasaan positif itu dia lakukan sejak menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur selama dua periode.

Baca Juga:  Anggota Dewan Desak Pemkab Sampang Segera Gelar Pilkades Serentak

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin berjarak dengan siapapun. Termasuk dengan rakyatnya, karena program yang dicanangkan tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kerja sama semua elemen masyarakat.

“Saya dengan pak wabup memilih manajemen kepemimpinan yang tidak mau berjarak dengan siapapun. Saya memilih pendekatan yang menyatu, tumbuh bersama masyarakat dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan,” katanya, Senin (20/7/2020).

Baca Juga: DPRD Pamekasan Gelar Rapat Paripurna Penetapan Dua Raperda

Dikatakan, apabila seorang pemimpin selalu berjarak dengan masyarakat dan pejabat di lingkungannya, maka besar kemungkinan rawan terjadinya kesalahpahaman yang berakibat pada lambatnya pembangunan di daerah tersebut. Tipe pemimpin saat ini tidak lagi meminta dilayani masyarakat, melainkan harus melayani masyarakat.

Baca Juga:  Anggota Dewan Desak Pemkab Sampang Segera Gelar Pilkades Serentak

“Salah paham bisa diperbaiki, tetapi kalau pahamnya yang salah, maka butuh waktu yang panjang untuk memperbaiki. Tidak ada yang lebih terhormat menjadi kondektur atau sopir, semuanya sama. Kalau dalam struktur kendaraan, tidak ada yang lebih mulia antara mesin dengan ban, meskipun mesinnya bagus tapi bannya kempos, maka tidak bisa berjalan,” tandasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.