oleh

Bank Dunia: Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Melambat

PortalMadura.Com – Laporan ekonomi Indonesia triwulan III, Bank Dunia mengatakan, pendorong pertumbuhan domestik Indonesia melambat sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III sedikit melambat.

World BankActing Country Director untuk Indonesia dan Timor Leste, Rolande Pryce mengatakan, pertumbuhan investasi terus melemah pada kuartal ketiga akibat penurunan signifikan harga komoditas serta ketidakpastian politik.

“Total pertumbuhan konsumsi juga melambat, dengan konsumsi pemerintah menurun tajam,” ujar Pryce di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Dalam laporan tersebut, Pryce mengatakan melemahnya permintaan domestik menyebabkan penurunan impor dalam jumlah besar.

Selain itu, defisit transaksi berjalan turun menjadi 2,9 persen dari PDB selama empat kuartal hingga kuartal ketiga 2019, dibanding 3,1 persen pada dua kuartal pertama tahun ini.

Kemudian arus masuk modal naik, yang mengakibatkan surplus lebih besar dalam financial account.

Pryce mengatakan, di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit melambat menjadi 5,0 persen pada kuartal ketiga 2019 dari 5,1 persen pada kuartal sebelumnya.

“Meski begitu, fondasi makroekonomi Indonesia tetap kuat,” ujar Pryce.

Dia menilai kuatnya fondasi makroekonomi Indonesia telah mendukung pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga.

Selanjutnya dengan adanya penciptaan lapangan kerja yang kuat, inflasi yang rendah, serta perluasan program bantuan sosial, telah berkontribusi pada turunnya tingkat kemiskinan hingga rekor terendah 9,4 persen pada bulan Maret tahun ini.

Bank Dunia memproyeksikan PDB Indonesia tumbuh 5,0 persen pada 2019 dan kemudian naik menjadi 5,1 persen pada 2020.

Proyeksi ini didasarkan pada berkurangnya ketegangan perdagangan internasional dan berkurangnya ketidakpastian politik dalam negeri.

Meski begitu, Pryce mengatakan risiko terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional masih signifikan, berasal dari ketegangan perdagangan yang berkepanjangan sehingga bisa membawa risiko bagi harga komoditas dan sentimen bisnis global.

Selain itu, risiko lebih lanjut berasal dari pelambatan ekonomi China sehingga mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia.(*)

Sumber : Anadolu Agency
Editor : Putri Kuzaifah
Tirto.ID
Loading...

Komentar