Baru Diungkap! Direktur Eksekutif PPI Bongkar Fakta Politik Kemenangan Fauzi-Eva

Penulis: HartonoEditor: Putri Kuzaifah
Direktur Eksekutif PPI Bongkar Fakta Politik Kemenangan Fauzi Eva
dok. Kanan, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno, pada seminar nasional di Sumenep, Minggu (27/3/2022). (@portalmadura.com)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Sumenep – Pada penghujung Maret 2022 menandai Achmad Fauzi – Dewi Khalifah sudah bertugas lebih satu tahun menjalankan amanah rakyat sebagai Bupati-Wakil Bupati Sumenep.

Fauzi-Eva, sebutan Achmad Fauzi – Dewi Khalifah dilantik dan diambil sumpahnya pada Jumat (26/2/2021). Fauzi-Eva ini diumumkan meraup 319.876 suara oleh KPU Sumenep, Kamis (17/12/2020) sore, dengan selisih 23.200 suara dari rival politiknya.

Baca Juga : Final, KPU Sumenep Umumkan Hasil Rekapitulasi, Fauzi-Eva Unggul 23.200 Suara

Fakta politik kemenangan Achmad Fauzi – Dewi Khalifah tersebut, baru diungkap ke publik oleh Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno, Minggu (27/3/2022).

Adi Prayitno datang ke Sumenep, selain berkepentingan untuk mengisi seminar nasional, pria alumni Annuqayah ini juga pulang kampung.

Disela-sela mengisi seminar nasional bertajuk ‘Santri dalam Dinamika Politik dan Kekuasaan’ yang diselenggarakan Ikatan Alumni Annuqayah (IAA), ia menyampaikan hasil servie yang dilakukan lembaganya pada Pilkada Sumenep tahun 2020.

“Saya tiga kali survei di Pilkada Sumenep. Ngelawan Fauzi itu melarat [berat],” kata Adi Prayitno.

“Kalau mau jujur saat itu, Fauzi itu berpasangan dengan sandel jepit pun menang, pak,” tandasnya.

Menurut Adi, popularitas Fauzi itu menyebar di semua kecamatan. Penantang-penantang politiknya Fauzi itu hanya sebagian, satu-dua kecamatan saja.

Baca Juga : Adi Prayitno: IAA Jangan Bicara Siapa Yang Akan Jadi Bupati atau Dewan

Pada Pilkada Sumenep 2020, pihaknya juga secara diam-diam mengikuti prosesnya. Disebutkan, bahwa identitas kepartaian di Sumenep itu cuma 5 persen yang merasa bagian dari partai politik.

“Selebihnya itu ababil alias tidak jelas mau pilih yang mana,” ucapnya.

Yang aneh bagi Adi Prayitno, santri itu setiap hari mendengarkan ceramah, ngaji dan dakwah, tetapi perangnya pasca Pilkada justru tidak selesai-selasai.

Padahal, kata dia, politik itu soal untung rugi bukan jalan menuju surga. “Di Sumenep itu, ada satu-dua orang partainya banyak. Hari ini partai merah, besok kuning dan partai macem-macem,” ungkap Adi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.