oleh

Begini Berbohong Demi Kebaikan Menurut Islam

PortalMadura.Com – Pada prinsipnya berbohong atau berkata dusta atau berperilaku tidak jujur dilarang dalam Islam. Alquran dan hadis secara tegas mencela mereka yang suka berbohong. Alquran menganggap berbohong adalah perilaku orang yang tidak beriman. Sebuah perbuatan pasti menuai pro dan kontra. Banyak orang yang sepakat bahwa berbohong bukan perbuatan baik, tapi bohong demi kebaikan adalah hal yang baik namun tak boleh sering-sering dilakukan.

Kebohongan adalah suatu sifat yang harus dihindari karena membawa banyak kerugian. Tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk banyak orang. Lebih baik jujur dan menyampaikan dengan cara yang baik daripada berbohong. Sekali berbohong, Anda akan terikat dengan dalil “Satu kebohongan menghasilkan kebohongan lainnya”. Sekali berbohong, Anda terlatih atau terpaksa berbohong lagi. Lama-lama Anda akan terbiasa berbohong. Apa bisa karena biasa, kan?

Mungkin Anda pernah mendengar istilah white lie. Kebohongan yang satu ini dilakukan untuk mengejar kebaikan yang lebih besar. Biasanya, kebohongan ini dilakukan untuk menghindari mudarat-mudarat seperti meledaknya emosi, terputusnya silaturrahmi, tindakan mencelakakan dari lawan bicara, hingga hilangnya nyawa.

Kebohongan kecil juga biasanya kita lakukan pada anak-anak. Saat anak-anak bertanya sesuatu yang kita rasa sedikit ekstrim atau belum konsumsi usianya, kita biasanya berbohong untuk menjawab mereka. Maksud hati ingin menyayangi dan menjaganya dari hal-hal yang belum konsumsinya, suatu hari bisa menjadi jebakan bagi si kecil karena pemahaman dasarnya yang telah salah.

Lantas Bagaiman Berbohong Demi Kebaikan dalam Islam?

Bagaimanapun, dalam Islam, berbohong bukanlah suatu tindakan yang terpuji. Tapi, jika Anda harus berbohong untuk manfaat yang lebih besar, Anda dapat melakukan dua hal berikut ini.

Pertama, Anda bisa gunakan kata yang ambigu/ tarwiyah, atau suatu kata yang lebih luas maknanya. Syariatnya dapat Anda lihat dalam kisah Nabi Ibrahim dan Siti Sarah yang sedang berada di daerah seorang raja yang ingin memperistri Siti Sarah yang saat itu berstatus istri Nabi Ibrahim.

Melansir dari Dalamislam.com dikutip oleh Konsultasi Syariah, disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: Suatu ketika Nabi Ibrahim pernah bersama istrinya Sarah. Mereka berdua melewati daerah yang dipimpin oleh penguasa yang zalim. Ketika rakyatnya melihat istri Ibrahim, mereka lapor kepada raja, di sana ada lelaki bersama seorang wanita yang sangat cantik sementara penguasa ini punya kebiasaan merampas istri orang.

Bahkan membunuh suaminya, penguasa itu mengutus orang untuk menanyakannya. “Siapa wanita ini?” tanya prajurit. “Dia saudariku.” Jawab Ibrahim. Setelah menjawab ini, Ibrahim mendatangi istrinya dan mengatakan, “Wahai Sarah, tidak ada di muka bumi ini orang yang beriman selain aku dan dirimu. Orang tadi bertanya kepadaku, aku sampaikan bahwa kamu adalah saudariku. Karena itu, jangan engkau anggap aku berbohong.”

Kedua, Anda terpaksa berbohong. Tapi, sebelum berbohong, pastikan bahwa kondisi Anda masuk ke dalam yang disebutkan hadis ini. Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti Uqbah, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan seorang pendusta, orang yang berbohong untuk mendamaikan antar-sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua kondisi pertama, peperangan dan perselisihan, adalah dua kondisi yang tidak boleh terjadi berkepanjangan dalam Islam, apalagi jika keduanya terjadi sesama muslim. Sebagai strategi, sebaiknya Anda pilih kebohongan yang paling dekat dengan kejujuran.

Ada baiknya pula untuk tidak sering-sering berbohong (gombal) pada pasangan. Kejujuran adalah aspek yang sangat penting dalam pernikahan. Jika Anda rasa tak dapat memuji keindahan paras pasangan, pujilah Ia dengan karakternya yang lain, misal kesholehannya atau kebaikannya.

Rewriter : Nurul Hijriyah
Sumber : Dalamislam.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar