oleh

BI: Ekonomi Amerika Tumbuh, Indonesia Juga Ikut Bangkit

PortalMadura.Com — Stimulus fiskal untuk penanganan pandemi Covid-19 di Amerika Serikat sebesar USD1,9 triliun diyakini membawa efek positif bagi perekonomian Indonesia, ujar pejabat Bank Indonesia.

“Dampak stimulus itu pada ekonomi AS akan positif, apalagi pada 2020 mereka terpuruk cukup dalam. Ini akan menggerakkan ekonomi,” ujar Riza Tyas Utami, kepala grup ekonomi makro pada departemen kebijakan ekonomi makro BI.

“Kalau (ekonomi) mereka jalan kita juga jalan. AS tidak bisa memenuhi dirinya sendiri, akan impor,” tambah dia.

Indonesia, kata dia, harus memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan ekspor, bukan saja ke Amerika tapi ke negara-negara yang sudah mulai menggeliat perekonomiannya.

“Amerika minta manufaktur, China komoditas, India minta CPO. Dari volume dan harga kita harus manfaatkan,” ujar dia.

Permintaan ekspor ke AS ini, menurut dia, akan membuat perekonomian domestik menggeliat.

Dengan demikian, ekonomi Indonesia akan bergerak meningkat, dari dorongan dari jalur perdagangan eksternal dan stimulus domestik, ujar dia.

Tugas BI adalah memastikan para produsen di dalam negeri bisa mengakses dana murah dengan cara konsisten dengan kebijakan moneter menjaga likuiditas perbankan.

Namun Riza mengingatkan dalam jangka pendek masih ada potensi gejolak akibat kebijakan Amerika ini, termasuk peluang The Fed, menaikkan suku bunga.

BI, kata dia, sudah melakukan persiapan jauh hari sebelumnya, bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda.

Bahkan sudah mengantisipasi terjadinya taper tantrum, yaitu kondisi terjadi pelemahan mata uang karena kebijakan bank sentral Amerika, seperti yang terjadi pada 2013.

Kebijakan BI menurut Riza terjadi dari tiga langkah, yaitu melakukan intervensi, berkoordinasi dengan Lembaga-lembaga terkait dan memperluas kerja sama internasional.

Intervensi, menurut dia tidak hanya dilakukan di pasar spot, namun juga di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga intervensi di pasar sekunder Surat Berharga Negara (SBN).

Sedangkan koordinasi akan dilakukan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yakni Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Kita sudah punya LCS local currency settlement (LCS) dengan Malaysia, Thailand, Jepang dan saat ini sedang dalam proses dengan China,” ujar dia.

BI juga berkoordinasi melalui forum-forum internasional seperti G20 atau IMF untuk mengetahui respons negara lain terhadap krisis.

–Masih negatif

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan pertumbuhan pada kuartal pertama tahun ini masih negatif, dari -2 persen hingga 1 persen.

Kondisi ekonomi pada Januari-Februari, menurut dia, masih belum pulih secara signifikan.

Namun, kondisi bisa lebih baik pada kuartal kedua yang diprediksi tumbuh hingga 6 persen, karena ekspektasi yang tinggi dari dampak terkontraksinya ekonomi tahun lalu.

“Tapi di kuartal II akan terjadi yang dialami juga oleh beberapa negara di dunia bahwa low base effect di tahun lalu itu akan bisa mendongkrak ekonomi kuartal II cukup tinggi,” ujar dia.

“Perbaikan ekonomi ini juga didukung oleh kemajuan vaksinasi yang masih di beberapa negara,” tambah dia.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : AA

Komentar