BI: Ekonomi Indonesia Masih Kuat Meski Rupiah Jatuh

  • Bagikan
BI 1
Mayarakat Jakarta menyeberang jalan dengen latar Gedung Bank Indonesia, Selasa, 3 Juli 2018. Eko Siswono Toyudho(Anadolu Agency)

PortalMadura.Com, Jakarta – Bank Indonesia mengatakan ketahanan ekonomi Indonesia masih kuat meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus tergerus hingga ke level Rp14.700.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa BI terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi, khususnya stabilitas nilai tukar rupiah.

“Oleh karena itu, kita intensifkan dan tingkatkan langkah kita untuk melakukan intervensi pasar khususnya dalam dua hari ini kita tingkatkan volume intervensi di pasar valas,” ujar Perry seusai salat Jumat di Jakarta.

Selain itu, Perry mengatakan BI juga terus melakukan pembelian SBN dari pasar sekunder.

“Tadi pagi jelang jam 11 WIB kita beli hampir semua SBN yang dijual asing hingga Rp3 triliun,” jelas dia. dilaporkan Anadolu Agency, Jumat (31/8/2018).

Langkah lain yang dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar menurut Perry, adalah dengan terus membuka lelang FX swap.

Pada hari ini dia menargetkan transaksi FX swap dapat tercapai USD400 juta.

“Insya Allah yang masuk lebih besar dari itu. Kita juga buka window swap hedging sebagai langkah stabilisasi,” lanjut Perry.

Perry menambahkan bahwa koordinasi dengan Kementerian Keuangan dan OJK terus ditingkatkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah.

Perry menegaskan BI terus mewaspadai kondisi ekonomi yang terjadi di negara lain seperti Turki dan Argentina serta dampaknya bagi Indonesia.

Namun, dia memastikan secara fundamental ekonomi Indonesia masih lebih baik dari kedua negara tersebut.

“Pertumbuhan ekonomi kita cukup bagus. Inflasi Agustus ini juga insya Allah sangat rendah sekitar 0 persen dan bahkan deflasi,” ungkap dia.

Sampai minggu keempat Agustus, berdasarkan survei BI, Perry menyebut pada Agustus akan mengalami deflasi 0,02 persen sehingga inflasi secara year on year sebesar 3,24 persen.

“Kita tunggu dalam 1-2 hari ke depan BPS akan umumkan,” ujar Perry.

Kondisi lain yang membedakan Indonesia dengan Turki dan Argentina yang saat ini terdampak krisis ekonomi menurut Perry, adalah kebijakan fiskal, moneter, serta upaya menjaga stabilitas sistem keuangan dilakukan dengan hati-hati (prudent).

“Presiden juga memiliki komitmen yang kuat untuk menurunkan current account deficit (CAD),” tambah Perry.

Beberapa langkah yang diambil untuk menekan CAD menurut dia, adalah dengan implementasi B20 pada bahan bakar yang dapat menekan impor hingga USD2,2 miliar dan dapat menambah devisa hingga USD9-10 miliar pada tahun depan.

Selain itu, pemerintah menurut Perry juga sangat berkomitmen menggenjot sektor pariwisata, menunda proyek yang memiliki komponen impor tinggi, serta meningkatkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dalam setiap aktivitas produksi.

“Ke depan CAD diharapkan dapat semakin rendah. Tahun ini kita harapkan di level 2,5 persen dari PDB. Ini yang membedakan kita dengan Turki dan Argentina,” tegas Perry. (AA)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.