Bitcoin Berjuang di Tengah Sentimen Pasar Bearish dan Inflasi Global, Prediksi Jangka Panjang Tetap Optimis

Avatar of PortalMadura.com
Harga Bitcoin Hari Ini: Menanjak ke Rp1,37 Miliar di Tengah Aksi Jual Masif Investor Institusi
Harga Bitcoin Hari Ini: Menanjak ke Rp1,37 Miliar di Tengah Aksi Jual Masif Investor Institusi

PortalMadura.com – Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada akhir Mei 2026, diperdagangkan di kisaran Rp1,31 miliar di pasar domestik Indonesia, sementara secara global nilainya berada di sekitar $73.800.

Fluktuasi ini terjadi di tengah sentimen pasar yang cenderung bearish dalam jangka pendek, dipicu oleh beragam faktor makroekonomi global dan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut.

Pada Jumat, 31 Mei 2026, Bitcoin tercatat berada di angka Rp1.316.065.116 menurut data Pluang, menunjukkan sedikit kenaikan dalam 24 jam terakhir namun masih di bawah puncak sebelumnya.

Sementara itu, CoinMarketCap melaporkan harga Bitcoin hari ini mencapai Rp1.315.086.062,60 IDR dengan volume perdagangan 24 jam yang signifikan.

Di bursa Indodax, harga BTC diperdagangkan pada Rp1.312.427.000, mengindikasikan variasi tipis antar platform perdagangan.

Kapitalisasi pasar Bitcoin secara keseluruhan tetap kokoh di kisaran Rp26.408,75 triliun, dengan volume perdagangan harian mencapai Rp523,23 triliun.

Secara year-to-date (YtD) hingga 29 Mei 2026, Bitcoin telah terkoreksi sekitar 16% dari nilainya di awal tahun.

Dalam rentang sepekan terakhir sebelum tanggal tersebut, harga Bitcoin turun sekitar 4,80% menjadi $73.528, menandakan adanya tekanan jual yang cukup kuat.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh ketidakpastian geopolitik, terutama konflik yang kembali memanas antara Iran dan Israel sejak awal tahun 2026.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, pada 29 Mei 2026, menjelaskan bahwa ketidakpastian semacam ini membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti kripto.

Konflik tersebut juga berkontribusi pada kenaikan harga energi, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan inflasi global karena biaya transportasi dan produksi yang lebih mahal.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar akan risiko stagflasi, yaitu perlambatan ekonomi yang disertai inflasi tinggi.

Selain faktor geopolitik, data makroekonomi dari Amerika Serikat juga membebani sentimen pasar kripto.

Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS, indikator inflasi pilihan Federal Reserve, tercatat naik 3,8% secara tahunan pada April 2026, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang sebesar 3,5%.

Core PCE, yang tidak termasuk komponen makanan dan energi, juga meningkat menjadi 3,3%, mencapai salah satu level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.

Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan ini memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, menahan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Arus keluar yang signifikan dari dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot di AS juga menjadi pemicu utama koreksi harga.

Lebih dari $2,8 miliar dana ditarik dari ETF Bitcoin spot selama sembilan hari, termasuk penarikan harian sebesar $733 juta pada 27 Mei 2026.

ETF iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik Blackrock sendiri menyumbang lebih dari $528 juta dari total penarikan tersebut.

Secara teknis, Bitcoin saat ini diperdagangkan di antara level support S1 Rp1.293.975.778 dan resistance R1 Rp1.327.134.083.

Level $72.000 menjadi titik krusial yang perlu dipertahankan Bitcoin untuk menjaga peluang kenaikan lebih lanjut, menurut analisis trader Jasper de Maere pada 24 Mei 2026.

Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, prospek Bitcoin untuk jangka panjang tetap kuat.

Sebanyak 13 model kecerdasan buatan (AI) yang ditanyakan oleh Bitcoin News pada 31 Mei 2026, memproyeksikan harga BTC akhir tahun 2026 berkisar antara $50.000 hingga $145.000.

Mayoritas model AI tersebut memperkirakan pemulihan harga ke kisaran antara $88.000 dan $122.000 pada akhir tahun.

Institusi global seperti Standard Chartered dan Bernstein juga merilis proyeksi bullish, dengan Standard Chartered memprediksi sekitar $100.000 dan Bernstein melihat potensi hingga $150.000-$200.000 pada siklus berikutnya.

Peluang utama untuk kenaikan harga Bitcoin jangka panjang terletak pada adopsi institusional yang terus meningkat dan sifat kelangkaan token Bitcoin.

Bitcoin semakin dipandang sebagai aset makro dan alternatif lindung nilai di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan daya beli dolar AS dan utang pemerintah AS yang membengkak.

Pertumbuhan pasokan uang global, sifat disinflasioner Bitcoin, dan tingkat adopsi juga menjadi faktor pendorong jangka panjang.

Namun, volatilitas tinggi, tekanan regulasi, dan sentimen pasar yang rapuh tetap menjadi risiko utama yang harus dipertimbangkan investor.

Investor disarankan untuk mempertimbangkan horizon investasi jangka panjang dan disiplin dalam manajemen risiko di tengah kondisi pasar yang dinamis ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses