oleh

Bukit Pal Batang-batang Saksi Bisu Seni Arsitektur Islam Pada Batu Nisan Berlanggam Madura

PortalMadura.Com, Sumenep – Seni arsitektur Islam, salah satunya dapat dilacak pada bentuk makam dan nisan kubur. Begitu para ahli peneliti penyebutnya.

Seperti yang ada di puncak Bukit Pal, Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Tepatnya diperbatasan Desa Batang-batang Laok dan Batang-batang Daya, pada awal bulan April 2020 ditemukan oleh warga yakni sembilan makam Islam.

Pada batu-batu nisannya memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Selain bertuliskan Arab Pegon, juga bercorak langgam Madura pada batu kumbung kuning yang mengelilingi batu-batu nisan itu.

Maka, Bukit Pal di Kecamatan Batang-batang tidak berlebihan bila disebut menjadi salah satu saksi bisu seni arsitektur Islam berlanggam Madura yang ada di Kabupaten Sumenep.

Baca Juga : Makam Islam Pakai Batu Nisan Langgam Madura Ditemukan di Batang-batang Sumenep

Bila merujuk pada hasil penelitian Hasan Muarif Ambary (1984) terungkap bahwa nisan kubur di satu daerah memiliki perbedaan dengan daerah lainnya (kebudayaan.kemdikbud.go.id).

Secara garis besar, Hasan Muarif Ambary membagi bentuk-bentuk nisan berupa bentuk pipih, bentuk kerucut tegak, bentuk persegi tegak dengan pelebarannya.

Ia juga menggolongkan tipe nisan kubur lebih rinci dan dibagi atas 14 subtipe yang diberi nama tipe Othman A sampai tipe Othman N. (Othman adalah seorang ahli dari Malaysia dengan nama lengkap Othman Muhammad Yatim -1988).

Disesuaikan dengan data angka tahun yang terdapat pada nisan kubur itu secara kronologis. Dikatakan bahwa tipe A berasal dari tahun 1400.

Tipe B sampai G berasal dari tahun 1500. Dan tipe H berusia dari tahun 1600. Tipe I sampai dengan N berasal dari tahun 1700 sampai tahun 1800.

Batu nisan bertuliskan dua kalimat syahadat
Batu nisan bertuliskan dua kalimat syahadat (@portalmadura.com)

Pada Batu Nisan berlanggam Madura dan bertuliskan Arab Pegon di Bukit Pal Kecamatan Batang-batang, Sumenep lebih cenderung Tipe I sampai dengan N berasal dari tahun 1700 sampai tahun 1800.

Hal ini juga bila mencermati pada salah satu batu nisan dengan kondisi cukup sulit untuk diurai, yakni mirip penulisan angka arab 1232. Entah tahun masehi atau hijriyah. Atau angka yang bermakna lain.

Ukuran dan langgam batu nisan juga mencerminkan sebuah simbol dari status sosial jasad yang dimakamkan, seperti tokoh agama (ulama/kiai, bangsawan dan lain-lain) sebagai perwujudan memelihara perbedaan status.

Sekaligus menjaga kehormatan sebagai orang penting terefleksi melalui struktur makam yang diatur oleh keluarga, kerabat atau pengikutnya yang masih hidup.

Letak Makam

Peta lokasi penemuan makam Islam dengan batu nisan langgam Madura di Kecamatan Batang batang Sumenep
Kotak merah adalah peta lokasi penemuan makam Islam dengan batu nisan berlanggam Madura di Kecamatan Batang-batang Sumenep, Madura, Jawa Timur (google)

Sejak abat ke-13 sampai abad ke-19 Masehi, mobilitas sosial di berbagai daerah di Nusantara sudah terjadi. Itu dibuktikan dengan adanya kesamaan bentuk nisan kubur yang dihasilkan oleh para peneliti.

Bahkan, mobilitas sosial disebutkan bukan hanya terjadi di wilayah Nusantara, namun hingga masyarakat Asia Tenggara. (Othman Muhammad Yatim -1988).

Letak makam bagi orang-orang yang dianggap suci, misalnya Wali, Raja dan Sultan juga tidak sembarang, melainkan di tempat-tempat tertentu. Salah satunya, di dataran tinggi atau bukit dan ada yang di makamkan dekat masjid.

Antara lain yang lokasi makamnya di dataran tinggi, yakni makam Ratu Ibu dengan Raja-Raja Madura di Aer Mata, makam Asta Tinggi (Bangkalan-Sumenep Madura).

Mirip tulisan tahun dari huruf Arab
Terdapat tulisan mirip tahun dari huruf Arab (@portalmadura.com)

Sedangkan Bukit Pal di Kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, sebagai lokasi ditemukannya makam kuno adalah salah satu wilayah dengan dataran cukup tinggi.

Desa Batang-batang Laok, ketinggian dari permukaan laut (DPL) mencapai 88 meter dan Batang-batang Daya mencapai 83 meter.

Dua wilayah desa tersebut lebih tinggi dibanding desa yang berada di sebelah timurnya, yakni Desa Totosan dengan ketinggian dari permukaan laut 77 meter.

Desa yang bersebelahan dengan Desa Batang-batang Laok pada wilayah barat adalah Desa Tamedung. Tinggi wilayah Desa Tamedung dari permukaan laut mencapai 87 meter.

Di Desa Tamedung ini terdapat permukiman dengan sebutan Radin. Di daerah ini, ada makam dan pada batu nisannya bertuliskan Arab Pegon dan Carakan. Namanya, Kien Bie Seng, lahir di tahun 1602 dan wafat di tanggal 20 Shafar 1793.(*)

Artikel Batu Nisan Islam Berlanggam Madura di Bukit Pal Batang-batang, Sumenep terus akan di update PortalMadura.Com hingga terungkap siapa tokoh tersebut.

Penulis : Hartono
Editor : Hartono

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.