oleh

Cara Redam Berita Buruk dalam Ajaran Islam

PortalMadura.Com“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui”, (QS an-Nur : 19). Maka dari itu, Allah SWT telah memberikan umat Islam rambu-rambu yang tegas menyangkut dasar-dasar moral dan etika dalam membangun masyarakat yang beradab dan berbudaya.

Dari ayat di atas Allah juga memerintahkan umat Islam untuk tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang tidak sehat, prasangka, gibah, dan segala bentuk kekejian lainnya, dikutip PortalMadura.Com, Kamis (31/10/2019) dari laman Republika.co.id.

Bahkan, Allah SWT melarang umat Muslim untuk mencari-cari kesalahan dan berprasangka negatif terhadap orang lain. Sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS al-Hujurat : 12).

Islam juga melarang orang beriman untuk saling menggunjing sesamanya. Sebab, Alquran menganalogikan orang yang suka bergunjing itu seperti seseorang yang memakan daging saudaranya yang telah meninggal.

Seperti itulah cara Islam menjaga kehormatan sesama manusia dengan larangan mempermalukan orang lain dan menyiarkan aib seseorang. Kendatipun mungkin dari sudut pandang ekonomi berita-berita gosip mendatangkan keuntungan bagi media, namun dari segi moral dan psikologi masyarakat jelas hal itu merugikan.

Dalam masyarakat sudah menjadi Sunnatullah, bahwa suatu kejahatan dan keburukan yang diekspose akan tumbuh semakin subur. Di sinilah Anda harus meyakini hikmah larangan Allah untuk tidak menyiarkan aib dan keburukan sesama manusia.

Baca Juga: Umat Islam, Kenali 5 Tanda Manusia Berwajah Buruk Menurut Rasulullah

Seperti tentang berita pornografi, sadisme, perkosaan, dan berbagai tindak kejahatan lainnya yang tumbuh di masyarakat adalah untuk ditindak dan dibasmi, bukan sebaliknya menjadi tuntunan bagi masyarakat untuk turut meniru dan melakukannya. Berita itu harusnya menjadi filter bagi setiap pribadi Muslim untuk mengambil hikmah agar senantiasa berbuat yang terbaik.

Adapun berita-berita buruk seperti perselingkuhan, kejahatan seksual, pembunuhan, dan perampokan, jelas meninggalkan bekas mendalam pada masyarakat. Sadar atau tidak, dengan tersiarnya berita buruk, apalagi disajikan berulang-ulang, dapat membangkitkan pikiran bawah sadar orang yang rusak akhlaknya untuk melakukan perbuatan yang sama.

Karena itu, larangan dalam agama Islam tidak hanya terhadap perbuatan menyiarkan berita buruk, tapi orang yang suka dirinya diekspose sebagai bahan berita buruk juga diperingatkan risikonya.

“Seluruh umatku dapat diampuni dosanya, kecuali orang-orang yang terang-terangan melakukan dosa. Dan, termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari sampai paginya Allah menutupi (rahasianya), tapi kemudian ia sendiri yang membuka (rahasianya) dan berkata, “Tadi malam saya melakukan perbuatan ini dan itu.” Dia sengaja membukakan sesuatu yang oleh Allah telah ditutupi” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebagai umat Muslim yang beriman, sudah sepatutnya Anda tidak mencari kelemahan dan keburukan orang lain. Namun, Anda dianjurkan untuk mengajak orang lain agar berbuat kebaikan dan melarang berbuat kemungkaran. Meredam berita buruk tentu bukan untuk melindungi keburukan dan pelakunya, melainkan untuk melindungi masyarakat dari pengaruh keburukan yang merusak. Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : republika.co.id

Komentar