oleh

Celakalah Orang-orang yang Lalai dalam Salat

PortalMadura.Com – Dalam ajaran agama Islam, salat merupakan ibadah terpenting yang wajib dilakukan oleh umat Muslim di seluruh dunia. Jangankan tidak melakukannya, melalaikannya pun menjadi sebuah pelanggaran bagi siapa saja yang melanggar.

Sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan bahwa “Maka, celakalah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya“(QS al-Maun: 4- 5). Kelalaian ini sebenarnya dibentuk karena kebiasaan dari seseorang itu sendiri dalam menunaikan salat sehingga celakalah orang yang berbuat demikian.

Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Jumat (14/2/2020) dari laman Republika.co.id, dalam menafsirkan ini, Imam Ibnu Katsir menukil salah satu pendapat ulama generasi tabiin, yakni Atha ibnu Dinar. Dia memuji Allah SWT yang telah menyebut lalai dari salat dan bukan lalai dalam salat. Mereka lalai karena tidak menunaikannya pada awal waktu. Mereka menangguhkannya sampai akhir waktu terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan.

Dalam menunaikan salat, ada kalanya mereka tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Kondisi lainnya, mereka melakukan salat tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Adakalanya juga mereka tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya. Menurut Atha, pengertian lalai dalam ayat tersebut mencakup semua itu.

Walaupun begitu, dia memberi catatan, orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini. Barang siapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah bagiannya. Jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya.

Salah satu tujuan adanya perintah salat, yakni untuk mengingat Allah SWT. “Dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku“(QS Thaha: 14). Imam Al Ghazali berkata, lalai adalah lawan dari ingat. Karena itu, barang siapa lalai dalam seluruh salatnya, tidaklah mungkin ia mendirikan salat untuk mengingat-Nya. Di sisi lain, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah engkau termasuk dalam golongan orang-orang lalai” (QS al-Araf: 205).

Ayat tersebut bermakna larangan yang memiliki makna lahir sebagai pengharaman. Tidak hanya cukup di situ, Allah SWT pun berkata, “Hingga kalian mengerti apa yang kalian katakan” (QS an-Nisa: 43). Keadaan ini menjadi sebab dilarangnya orang mabuk untuk salat.

Kondisi ini pun berlaku kepada orang-orang yang lalai serta orang yang pikirannya timbul dan tenggelam. Dia selalu waswas dalam salatnya. Pikirannya dipengaruhi oleh dunia meski berada dalam rukuk dan sujud. Bukankah ini sudah menjadi hal biasa yang banyak orang lakukan?.

Maka dari itu, amat benar perkataan Rasulullah, “Sesungguhnya salat hanya kemantapan hati dan kerendahan diri.” Nabi SAW juga membatasi sabdanya dengan alif dan lam serta dengan kata ‘innama’. Maksudnya, menetapkan dan menguatkan.

Begitu juga sabda Rasulullah, “Barang siapa salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, ia tidaklah bertambah dari Allah kecuali jauhnya“. Menurut Imam Al Ghazali, salatnya orang lalai itu tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Tidak heran jika Rasulullah bersabda, “Betapa banyak orang yang melaksanakan salat, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari salatnya selain kelelahan dan kepayahan”. Bukankah Rasulullah juga bersabda, “Tidaklah seorang hamba mendapatkan sesuatu dari salatnya selain apa yang disadari oleh akalnya“.

Lebih lanjut, Al-Ghazali menghimpun sikap-sikap batin dalam enam ungkapan. Kehadiran hati, pemahaman (makna), sikap mengagungkan, rasa takut, rasa harap, dan rasa malu. Berikut penjelasannya:

Kehadiran Hati

Maksudnya, kosongnya hati dari segala sesuatu selain dari apa yang dia kerjakan dan ucapkan. Jadi, ilmu tentang perbuatan dan perkataan selalu mengiringi keduanya. Pikiran pun tidak beredar selain kepada keduanya.

Pemahaman terhadap Makna Perkataan

Hal ini merupakan sesuatu yang berada di balik kehadiran hati, yaitu mengandungnya hati atas ilmu tentang makna lafal. Betapa banyak makna-makna halus yang dipahami oleh orang yang mengerjakan salat mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar.

Sikap Mengagungkan

Sesuatu yang berada di balik kehadiran hati dan pemahaman serta meningkatkan keduanya. Rasa takut meningkatkan sikap mengagungkan, yakni rasa takut yang ditumbuhkan oleh pengagungan dan pemuliaan. Rasa harap adalah hasrat untuk mendapat pahala dari Allah SWT.

Rasa Takut

Penyeimbangnya adalah rasa takut terhadap siksaan dari Allah atas kelalaiannya dalam menjalankan syariat-Nya.

Rasa Malu

Hal ini bermakna merasa diri berkekurangan dalam menjalankan syariat dan merasa banyak dosa.

Lantas, apa penyebab hadirnya sikap batin ini?. Al Ghazali melanjutkan, kehadiran hati disebabkan oleh perhatian. Ia tidak hadir pada apa yang tidak Anda perhatikan. Hati itu tercipta demikian dan tunduk kepada hal tersebut. Ketika dia tidak hadir dalam salat, ia sedang beredar pada urusan-urusan dunia yang menarik perhatian.

Pemahaman disebabkan oleh pemusatan hati untuk memahami makna. Cara memperolehnya, yakni dengan pemusatan pikiran disertai dengan kesiagaan penuh untuk menghalau segala bisikan ketika salat.

Baca Juga : Umat Islam, Ini 3 Hal yang Termasuk Lalaikan Salat

Caranya, berlepas diri dari berbagai sebab yang memancing bisikan setan. Sikap mengagungkan disebabkan oleh dua keadaan hati. Pertama, pengenalan tentang kemuliaan dan keagungan Allah Azza wa Jalla. Kedua, pengenalan tentang kehinaan dan kerendahan diri serta kejadian diri sebagai hamba yang ditundukkan dan dipelihara.

Pada hakikatnya, rasa takut timbul dari keadaan jiwa yang lahir dari pengenalan terhadap kekuasaan Allah dan keberpengaruhan-Nya dan keterlaksanaan kehendak-Nya. Tanpa disertai dengan menyombongi-Nya. Adapun rasa harap lahir dari pengenalan tentang ke lembutan Allah, kemurahan-Nya, kemerataan pemberian-Nya, dan kecermatan ciptaan-Nya.

Sementara itu, rasa malu muncul karena adanya perasaan kekurangan dalam beribadah dan mengetahui ketidakmampuan diri untuk menegakkan hak-hak Allah Azza wa Jalla. Wallahu A’lam.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : Republika.co.id
Tirto.ID
Loading...

Komentar