oleh

Debat Calon Presiden Putaran Keempat Lebih Substantif

PortalMadura.Com, Jakarta – Debat keempat antara calon Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto berlangsung menarik, menunjukkan komitmen kebangsaan yang kuat dan ide-ide yang cukup substantif.

Dalam debat, Presiden Jokowi mengungkapkan komitmennya pada ideologi bangsa dan menggambarkannya sebagai “kesepakatan bersama pendiri bangsa dari berbagai daerah, organisasi, ras, suku dan agama di Indonesia.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

“Oleh sebab itu, menjadi kewajiban kita bersama untuk menjaga, merawat, dan menjalankan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara,” ujar Jokowi dalam debat yang digelar di Hotel Shangrila, Jakarta, Sabtu.

Sedangkan Prabowo mengatakan “Pancasila berhasil mempersatukan ratusan kelompok etnis, ratusan suku, agama-agama besar, budaya-budaya berlainan, dengan bahasa yang berlainan.”

“Kompromi ini yang menghasilkan Republik Indonesia karena itu kami bertekad untuk mempertahankan Pancasila sampai titik darah yang terakhir.”

Untuk menanamkan Pancasila tanpa pendekatan indoktrinasi, Prabowo mengatakan harus memasukkannya ke dalam pendidikan usia dini, harus masuk dalam kurikulum baru.

“Dengan demikian, kita ada pemahaman universal karena ini adalah kesepakatan bangsa. Jadi generasi penerus harus mengerti dari mana datangnya Indonesia walaupun tidak bersifat indoktrinasi tapi harus bersifat edukatif harus dimasukkan ke dalam program pendidikan seterusnya sampai pendidikan lanjut.”

Jokowi juga ingin mengajarkan Pancasila mulai dari usia dini, namun yang paling penting adalah bagaimana memberikan pendidikan Pancasila ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Anak-anak harus diberi tahu bagaimana bertoleransi karena kita ini memiliki 714 suku,” kata Jokowi.

“Anak-anak Indonesia juga harus diberitahu bagaimana berkawan dengan saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang memiliki lebih dari 1.100 bahasa daerah yang berbeda-beda, sambung dia.”

Jokowi menekankan pendidikan Pancasila harus dilakukan dengan cara kekinian lewat visual, baik yang ada di Facebook, Instagram, maupun Twitter.

“Sehingga relevansi antara Pancasila dan anak-anak muda ini bisa sambung,” ujar Jokowi.

Direktur Populi Center, Usep S. Ahyar mengatakan Prabowo tampil seperti biasa. Tema apa pun, narasi yang dibangun selalu sama yakni kekayaan mengalir ke luar Negeri, Pemerintahan korup dan institusi- institusi Pemerintahan lemah

Menurut dia, kritik itu sangat relevan pada zamannya, tetapi hari ini konteks sudah berubah dengan demikian kritik itu sah konteks. dilaporkan Anadolu Agency, Senin (1/4/2019).

“Tapi bisa saja jika diulang-ulang begini, bisa jadi ada “social fact” yang diterima publik. Bagi sebagian orang akan memenuhi keinginan mimpinya,” ujar Usep.

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar