Deteksi Penderita TBC Berkontribusi pada Pencegahan Stunting

Rujukan KSPEditor: Hartono
Deteksi Penderita TBC Berkontribusi pada Pencegahan Stunting
Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden dr. Brian Sri Prahastuti (KSP)

PortalMadura.Com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memprioritaskan pencarian penderita Tuberculosis (TBC) hingga 90 persen pada 2024.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden dr. Brian Sri Prahastuti mengatakan, penanggulangan TBC pada orang dewasa dan anak-anak berkontribusi pada upaya pencegahan stunting.

Terlebih, kata dia, dari estimasi 842.000 kasus TBC di Indonesia pada 2022, sebanyak 60.676 terjadi pada anak.

“Dari delapan ratus dua puluh empat ribu orang yang diduga menderita TBC itu, sepuluh persen di antaranya juga menular pada anak-anak serta berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan,” kata Brian, di gedung Bina Graha Jakarta, Senin (12/9/2022).

Brian menyampaikan, penyakit Tuberculosis (TBC) dengan stunting adalah dua masalah yang saling berhubungan dan memiliki timbal balik. Ia menguraikan, bahwa TBC yang diderita ibu hamil dan anak usia di bawah dua tahun dapat menyebabkan stunting.

Sebaliknya, bahwa imunitas yang menurun akibat masalah gizi yang terjadi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga dapat memperbesar risiko TBC aktif.

“Status gizi yang tidak baik ditambah dengan imunitas tubuh melemah inilah yang menjadikan anak dengan stunting lebih rentan terinfeksi penyakit Tuberculosis jika kontak erat dengan orang dewasa yang menderita TBC. Sebab, TBC ditularkan melalui droplet dahak yang bisa diperparah jika kondisi tempat tinggal tidak memiliki ventilasi yang baik dan terlalu padat,” papar Brian.

Menurut Brian, kasus TBC pada anak seringkali terlewat dideteksi karena gejalanya tidak khas. Namun, jika anak mengalami tanda-tanda seperti berat badan yang tidak kunjung naik, nafsu makan menurun, batuk lebih dari dua minggu, merasa lemah dan lesu, maka penting bagi orang tua untuk segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan, dan dilakukan tes mantoux sebagai upaya skrining untuk mengetahui ada tidaknya bakteri penyebab TBC.

“Tes mantoux ini dilakukan karena tidak mudah untuk mendapatkan dahak pada anak,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Brian menerangkan, untuk mengurangi risiko peyakit TBC pada anak yang berdampak pada stunting, dibutuhkan imunisasi BCG pada bulan pertama kelahiran, serta pemberian ASI dan makanan pendamping ASI sesuai kebutuhan pada 1.000 hari pertama kehidupan.

“Mari kita waspadai bersama kejadian TB anak dan stunting sebagai usaha untuk menurunkan angka kasusnya demi mencapai Generasi Emas Indonesia Maju,” pungkas Brian.

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk menanggulangi masalah Tuberculosis (TBC) di Indonesia. Komitmen tersebut tertutan dalam Peraturan Presiden No 67/2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.