oleh

Ekonom Prediksi Neraca Perdagangan Bakal Defisit Lagi

PortalMadura.Com, Jakarta – Jika tidak ada gebrakan dalam ekspor, neraca perdagangan Indonesia akan melulu defisit, kata Ekonom. Maka, Pemerintah diminta terus mewaspadai pergerakan negatif neraca perdagangan, meski pada Juni lalu sempat surplus USD1,7 miliar.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan surplus perdagangan pada Juni bersifat semu yang terjadi karena libur panjang Lebaran. Surplus ini juga tidak mencerminkan kenaikan ekspor nonmigas yang signifikan. dilaporkan Anadolu Agency, Selasa (24/7/2018).

Para pengusaha, menurut Bhima, sudah menumpuk stok bahan baku pada Mei karena menghadapi Puasa dan Lebaran.

“Jika aktivitas industri sudah berjalan normal lagi, pada Juli ini akan kembali terjadi defisit perdagangan,” ujar Bhima kepada Anadolu Agency.

Defisit perdagangan ini, menurut Bhima, bisa kembali terjadi pada semester depan. Padahal, semester ini defisit perdagangan sudah mencapai USD1 miliar.

“Pelemahan rupiah dan perang dagang picu perlambatan ekspor dan pembengkakan impor,” ujar dia.

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan, Kasan mengatakan surplus perdagangan pada Juni memperbaiki defisit neraca perdagangan semester I-2018 secara keseluruhan.

Defisit pada Januari-Juni 2018 sebesar USD1,02 miliar, turun dari sebelumnya Januari-Mei 2018 defisit sebesar USD2,83 miliar.

Meski masih negatif, kata Kasan, surplus Juni ini didukung dengan membaiknya neraca perdagangan, baik di sektor migas maupun nonmigas. Neraca perdagangan migas dari defisit sebesar USD1,21 miliar pada bulan sebelumnya, kini hanya defisit USD393,90 juta. Sementara neraca perdagangan nonmigas dari defisit USD 235,80 juta menjadi surplus sebesar USD2,14 miliar.

“Defisit neraca perdagangan semester I tahun ini perlu mendapat perhatian dan penanganan ekstra dari semua pihak. Pemerintah fokus akselerasi peningkatan ekspor dan mengendalikan impor barang, terutama barang yang dapat disubstitusi industri dalam negeri,” ujar dia.

Menurut Kasan, ekspor Januari-Juni menguat secara kumulatif menjadi mencapai USD 88,02 miliar atau tumbuh positif sebesar 10,03 persen secara tahunan.

Kenaikan ini terdiri dari peningkatan ekspor nonmigas sebesar 9,66 persen menjadi USD 79,38 miliar dan kenaikan ekspor migas 13,49 persen menjadi USD 8,64 miliar.

Kinerja ekspor secara kumulatif terjadi peningkatan pada semua sektor, kecuali sektor pertanian yang turun sebesar 7,70 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang naik 23,20 persen. Sementara sektor yang mengalami kenaikan adalah pertambangan sebanyak 36,20 persen, dan industri sebesar 5,30 persen.

Namun pada Juni, ekspor melemah 19,8 persen atau USD13 miliar. Namun, nilai ini masih meningkat 11,47 persen dibanding Juni tahun lalu.

Pada sisi impor, nilainya pada Juni USD11,26 miliar atau turun 36,27 persen dibanding Mei lalu, namun naik 12,66 persen dibanding Juni tahun lalu.

Impor bahan baku naik sebesar 14,60 persen dan impor barang modal sebesar 19,90 persen. Secara kumulatif, total impor selama semester I tahun 2018 mencapai USD 89,04 miliar, atau naik 23,10 persen dibandingkan periode yang sama 2017 (YoY).

“Peningkatan nilai impor tersebut didorong kenaikan impor seluruh barang yaitu barang modal, bahan baku/penolong serta barang konsumsi,” ujar dia.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, pemerintah harus mewaspadai tren defisit ini. Surplus pada Juni terjadi bukan hal-hal fundamental seperti peningkatan ekspor, tapi karena impor yang turun tajam dengan penyebab musiman seperti Lebaran.

“Ekspor justru turun,” ujar dia.

Menurut Faisal, pemerintah bisa saja menjalankan berbagai strategi perdagangan untuk mendongkrak ekspor. Pemerintah bisa mencoba dua strategi promosi secara paralel, yaitu promosi perdangangan dan kesepakatan kerja sama bilateral dengan negara mitra dagang.

“Juga harus memahami selera pasar dengan menguatkan peran integensi pasar,” ujar dia.

Menurut Bhima, promosi pemerintah belum cukup efektif mendongkrak kinerja ekspor. Menurutnya, pelaku usaha lebih membutuhkan informasi kebutuhan di negara tujuan.

Menurutnya, perlu ada kerja sama atas perdagangan dengan kamar dagang di pasar ekspor Indonesia agar produk yang kompetitif dapat lebih dikenal konsumen luar negeri.

Pemerintah juga harus aktif membuka buka pasar alternatif dan melakukan diplomasi dagang dengan negara tujuan ekspor yang menerapkan hambatan tarif dan nontarif.(AA)


Komentar