PortalMadura.com– Harga perak batangan murni di pasar domestik mencatatkan kenaikan tipis pada Kamis, 12 Februari 2026, berbeda dengan pergerakan harga emas yang cenderung stagnan dalam sepekan terakhir. Berdasarkan pemantauan harga dari sejumlah penyedia logam mulia nasional, termasuk PT Aneka Tambang Tbk (Antam), StarSilver, dan Heraeus, perak kini berada di level Rp45.489 per gram.
Kenaikan ini sejalan dengan penguatan harga perak Antam yang dipicu oleh pengetatan pasokan global. Menurut data perdagangan, harga perak spot internasional bertahan di kisaran 83,50 dolar AS per troy ounce, memberikan dampak positif terhadap harga domestik.
Berikut rincian harga perak hari ini berdasarkan satuan terukur:
– Per gram: Rp45.489
– Per ounce (oz): Rp1.405.818
– 10 gram: Rp884.167
– 100 gram: Rp7.700.000 – Rp14.713.108
– 1 kilogram (1.000 gram): Rp81.540.000 – Rp92.060.000
Analis komoditas dari Malang Economic Research Center, Budi Santoso, menjelaskan bahwa kenaikan harga perak tidak lepas dari tiga faktor utama. Pertama, lonjakan permintaan industri teknologi hijau seperti panel surya dan komponen kendaraan listrik (EV) di awal 2026. Kedua, kebijakan pengetatan ekspor perak dari China sebagai produsen terbesar dunia. Ketiga, ketegangan geopolitik global yang mendorong investor beralih ke aset safe-haven berharga lebih terjangkau dibanding emas.
“Perak semakin diminati karena fungsinya ganda: sebagai logam investasi sekaligus bahan baku industri strategis. Ini membuat harganya lebih responsif terhadap dinamika pasar global,” ujar Budi kepada Kabar Malang, Kamis (12/2/2026).
Bagi calon investor, disarankan memantau pergerakan harga secara real-time melalui situs resmi Logam Mulia Antam atau platform digital terpercaya sebelum melakukan transaksi fisik. Perbedaan spread antar penyedia bisa mencapai 5–10 persen tergantung lokasi dan ukuran batangan.
Dengan tren permintaan industri yang terus meningkat sepanjang 2026, para pelaku pasar memproyeksikan harga perak berpotensi melanjutkan penguatan moderat dalam beberapa pekan ke depan, meski tetap rentan terhadap gejolak kebijakan moneter global.





