oleh

Hikmah Pengucapan Wallahu A‘lam yang Belum Anda Tahu

PortalMadura.Com – Kalimat Wallahu a‘lam mungkin sudah tidak asing lagi didengar saat ada ceramah agama. Apalagi bagi santri yang setiap harinya belajar di pesantren, tentu terbiasa mendengar untaian kalimat tersebut dari ustaz dan kiai. Bisa dikatakan, menjadi salah satu tradisi di kalangannya.

Kalimat ini biasanya terdengar di akhir atau pada saat penutup pengajian. Wallahu a‘lam bish-shawab mempunyai arti “hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya”. Pada dasarnya, penggunaan kalimat Wallahu A’lam digunakan sebagai jawaban ketika Anda ditanya suatu permasalahan ilmu yang Anda tidak ketahui jawabannya.

Dilansir PortalMadura.Com, Sabtu (16/1/2021) dari laman islam.nu.or.id, sebagaimana wasiat shahabat Abdullah bin Mas’ud:

Wahai manusia, barang siapa yang ditanya tentang suatu permasalahan ilmu kepadanya dan ia mengetahuinya maka hendaknya ia menjawabnya. Dan barang siapa yang tidak mengetahui jawabannya, hendaknya ia mengatakan Wallahu a’lam karena sesungguhnya sebagian dari ilmu adalah engkau mengatakan Wallahu a’lam terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui” (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Kairo: Muassasah ar-Risalah, 2001, vol. 7 hal. 180).

Para ulama juga memakai kalimat Wallahu a’lam sebagai kode etik dalam menutup fatwa mereka. Selain itu, mereka juga memakai kalimat Wallahul muwaffiq (hanya Allah yang memberikan petunjuk) dan sejenisnya sebagai penutup penjelasan mengenai permasalahan yang disepakati oleh ulama Ahlusunnah wal Jama’ah.

Dan ketika ulama ahli fatwa selesai memberikan fatwa dalam suatu permasalahan hendaknya ia menulis kalimat Wallahu a‘lam dan sesamanya. Dikatakan juga bahwa hendaknya setelah menjelaskan pendapat yang disepakati ulama Ahlussunnah wal Jama’ah untuk menulis kalimat Wallahul muwaffiq dan sejenisnya” (Syekh Mula Ali bin Sulthan al-Qari, Kitab Syam al-‘Awaidh fi Dzamm ar-Rawafidh, Kairo: Dar ash-Shafwah, 2004, hal. 137).

Kemudian, para ulama juga memakai kalimat Wallahu a’lam bish-shawab sebagai penutup dalam beberapa penjelasan dalam kitab-kitab karya mereka maupun sebagai penutup pengajian mereka.
Menurut Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami, ulama mazhab Syafi’i, hal ini dianjurkan dengan tujuan sebagai bentuk kerendahan hati para ulama serta upaya memasrahkan kembali hakikat permasalahan tersebut kepada Allah.

Sebagian para guru mengatakan, ‘(Dengan memakai lafaz Wallahu a‘lam bish-shawab) seakan-akan penulis bertujuan untuk berlepas diri dari pengakuan paling alim. Al-‘Allamah Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan, maksud kalimat Wallahu a‘lam adalah hanya Allah yang lebih mengetahui dari seluruh orang alim. Sebagian ulama mazhab Hanafi mengatakan tidak seyogianya (makruh) memakai ungkapan demikian, sebagian memutlakkan dan sebagian yang lain menghukumi makruh ketika bertujuan sebagai pertanda ditutupnya pengajian. Dan pendapat ini tertolak karena tidak ada keraguan bahwa di dalam ungkapan Wallahu a‘lam terdapat puncak kepasrahan kepada Allah yang dianjurkan” (Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib, Beirut: Dar al-Fikr, 1995, vol. 4 hal. 503).

Sedangkan, menurut kalangan ulama mazhab Hanafi penggunaan kalimat Wallahu a‘lam dengan tujuan sebatas tanda ditutupnya pengajian adalah makruh. Akan tetapi, bila diniatkan untuk berzikir maka dihukumi sunah.

Apabila diniatkan keduanya (niat tanda ditutupnya pengajian dan zikir) sekaligus, maka menurut mazhab Hanafi dihukumi dengan yang paling dominan. Misal contoh, ketika lebih dominan niat sebagai penutup pengajian maka dihukumi makruh dan begitu juga sebaliknya ketika lebih dominan sebagai niat berzikir maka dihukumi sunah.

Dan (para ulama mazhab Hanafi) memutuskan untuk memakruhkan pengucapan Wallahu A’lam dan sejenisnya dengan tujuan pertanda selesainya pengajian. Adapun ketika tidak ada tujuan pertanda selesainya pengajian maka tidak dimakruhkan. Karena di dalam kalimat tersebut terdapat zikir dan kepasrahan kepada Allah berbeda dengan kasus yang pertama yang menjadikan kalimat Wallahu A’lam sebatas alat untuk pemberitahuan. Adapun ketika bertemu dua niat yang berbeda maka dimenangkan yang paling dominan sebagaimana dalam kasus yang sejenis” (Muhammad Amin bin Umar ibnu Abidin, Hasyiyah Ibnu Abidin Radd al-Muhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar, Beirut: Dar al-Fikr, 1992, vol. 6, hal. 431).

Sedangkan menurut Syekh Ali Jum’ah dalam laman resminya mengutarakan bahwa hikmah pengucapan Wallahu A’lam oleh para ulama adalah sebagai berikut :

Pertama, sebagai bentuk pengakuan mereka bahwa fatwa yang mereka utarakan adalah terbatas yang dapat ditinjau ulang kembali dalam kesempatan yang lain. Dan para ulama juga tidak segan untuk mengubah fatwanya ketik ditemukan sudut pandang ataupun dalil hukum lain yang dapat mengubah pendapatnya.

Kedua, sebagai bentuk pengakuan para ulama bahwa fatwa mereka bersumber dari ilmu yang mereka dapatkan. Dan seluruh ilmu tersebut bersumber dari Allah SWT. Oleh karena itu, ucapan Wallahu a‘lam adalah bentuk tawadhu’ (kerendahhatian) mereka di hadapan Allah yang telah memberikan mereka petunjuk dalam memahami ilmu.

Walhasil, pada dasarnya para ulama menghukumi suatu permasalahan sesuai dengan bentuk lahiriah dan kasuistiknya, sedangkan di balik itu hanya Allah yang mengetahui hakikatnya sebagaimana ungkapan dalam kaidah ushul fiqh.

Kami menghukumi dengan sesuatu yang dhahir (lahiriah), dan Allah yang menangani seluruh yang tersembunyi (samar)”.

Karena itulah ulama sangat berhati-hati dalam berfatwa ataupun menjelaskan ilmu. Dan hal ini diwujudkan dalam bentuk kalimat Wallahu A’lam.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : Islam.nu.or.id
Tirto.ID
Loading...

Komentar