oleh

Hotel di Bali Bersiap Sambut Wisatawan

PortalMadura.Com – Pandemi Covid-19 membuat industri perhotelan dan restoran di Indonesia, khususnya di Bali, terpuruk setelah tingkat hunian hotel anjlok sebagai dampak pembatasan sosial dan ekonomi.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyampaikan, ada lebih dari 2.000 hotel dan 8.000 restoran di berbagai kota yang tutup akibat pandemi.

iklan pilbup

Perhitungan PHRI memperkirakan sekitar Rp70 triliun potensi pendapatan sektor perhotelan hilang dari Januari hingga April 2020.

Tingkat okupansi hotel di Bali sendiri anjlok hingga mencapai 1 persen, sedangkan di DKI Jakarta baru meningkat kembali menjadi 15 persen sejak pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan.

Direktur Eksekutif PHRI Bali, Ida Bagus Purwa Sidemen menuturkan, tingkat hunian hotel di Bali bahkan sempat anjlok hingga 0 persen, terutama di wilayah selain Badung dan Gianyar.

“Akibatnya ribuan pekerja terdampak, ada yang dirumahkan ada juga yang di-PHK,” katanya.

Sebagian kecil hotel dan penginapan di Bali bertahan dengan melayani turis asing yang tertahan dan belum bisa kembali ke negara mereka.

“Beberapa hotel ada yang masih melayani sepasang tamu atau hanya dua-tiga kamar. Mereka tetap layani walau dengan tenaga yang minim,” ujar dia.

Menurut Purwa, ada sekitar 7.000 turis asing di Bali yang diharapkan memperpanjang visa mereka dan berkontribusi terhadap sektor pariwisata termasuk hotel dan restoran.

Secercah harapan di Bali

Dibukanya sektor pariwisata untuk masyarakat lokal Bali menjadi secercah harapan bagi bisnis hotel, restoran hingga agen perjalanan untuk kembali bergeliat.

Namun menurut Purwa, sejauh ini belum nampak geliat yang signifikan.

Meski demikian, pembukaan ini disambut baik oleh para pelaku industri ini setelah empat bulan tidak beroperasi akibat pandemi.

Apalagi, sebagian besar masyarakat Bali menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.

Pemerintah Provinsi Bali dan para pelaku usaha kini menyiapkan konsep wisata yang disesuaikan dengan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

Misalnya dengan membatasi jumlah pengunjung maksimal 50 persen dari kapasitas, memastikan protokol jaga jarak terpenuhi, hingga tidak membuka layanan seperti spa untuk sementara waktu.

Bali juga akan membuka akses bagi wisatawan domestik pada 31 Juli dan bagi wisatawan mancanegara pada 11 September 2020 jika situasi pandemi tidak memburuk.

“Sejauh ini pergerakan dari wisatawan lokal belum nampak signifikan, namun sambutan masyarakat terutama yang bergelut di sektor ini luar biasa,” katanya.

“Ketika akhir Juli nanti dibuka untuk wisatawan domestik, kami harap mulai terlihat pertanda bergeliatnya pariwisata Bali dan mudah-mudahan terus terjaga sampai Bali juga dibuka untuk wisatawan mancanegara,” lanjut dia.

Purwa menuturkan hotel, objek wisata, hingga restoran menyatakan siap menerima tamu meski Bali saat ini masih terus mencatat penambahan kasus baru Covid-19.

Pada Rabu, ada 63 kasus baru Covid-19 di Bali sehingga total kasus menjadi 2.421 orang.

Menurut dia, ada mekanisme verifikasi yang menjadi standar bagi pelaku usaha wisata di era adaptasi kebiasaan baru (new normal).

“Verifikasi ini untuk meyakinkan para tamu bahwa tempat usaha atau objek wisata itu sudah memenuhi standar prosedur protokol kesehatan,” lanjut dia.

Di sisi lain, para pelaku industri juga menyimpan kekhawatiran jika situasi pandemi menjadi lebih buruk dan seluruh kegiatan terpaksa dihentikan.

“Ini kekuatan terakhir yang kami punya untuk bisa buka kembali. Kalau kondisi ini berulang, habis lah sudah,” tutur Purwa.

Dia berharap keseriusan untuk menjaga situasi tetap aman dan produktif juga datang dari pemerintah dan seluruh masyarakat.

“Percuma jika hotel dan restoran menerapkan protokol kesehatan, tetapi di tempat lain seperti pasar kasus penularan itu masih terjadi,” kata Purwa.

“Kalau karena itu timbul satu sampai dua kasus saja, seperti bunuh diri jadinya. Kami sangat serius dalam membangkitkan kembali pariwisata, jadi kami harap setiap individu di Bali ikut menjaganya bersama,” ujar dia.

Dua juta potensi wisatawan asing hilang

Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Aswata mengatakan kondisi ekonomi menjadi salah satu pertimbangan besar ketika pemerintah daerah memutuskan untuk kembali membuka Bali.

Pada 2019, Bali dikunjungi 16,8 juta wisatawan domestik dan mancanegara dengan rata-rata 530 ribu wisatawan asing per bulan.

“Dengan empat bulan sudah tidak ada wisatawan, jadi sudah lebih dari 2 juta potensi wisatawan asing yang hilang,” kata Putu.

Pelaku pariwisata di Bali, lanjut dia, berharap banyak dengan pembukaan sektor ini agar roda ekonomi kembali bergerak.

Meski situasi pandemi masih tidak pasti, dia berharap pada roda pariwisata bisa bergerak lebih baik pada Oktober-Desember 2020 yang biasanya menjadi puncak kunjungan turis mancanegara.

Pemerintah daerah, kata Putu, akan semaksimal mungkin mengawasi aktivitas wisata agar tidak berujung pada penambahan kasus baru.

Pintu masuk di Bali baik melalui jalur udara, darat maupun laut akan diawasi dan setiap orang yang berkunjung diminta membawa hasil rapid test atau PCR.

“Kalau sudah terbukti dia negatif, silakan masuk ke Bali, tetapi kalau positif otomatis harus dikarantina,” ujar Putu.(*)

Sumber : AA
Editor : Salimah
Tirto.ID
Loading...

Komentar