oleh

Indonesia Butuh 4 Juta Pengusaha Baru

PortalMadura.Com, Jakarta – Indonesia membutuhkan paling tidak 4 juta pengusaha baru untuk turut mendorong penguatan struktur ekonomi, ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Selasa.

Menurut Menteri Airlangga, saat ini saat ini rasio pengusaha di dalam Negeri sekitar 3,1 persen dari total populasi penduduk.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Angka ini sebenarnya sudah melampaui standar Internasional, yakni sebesar 2 persen, namun Indonesia perlu menggenjot lagi untuk mengejar capaian Negara tetangga.

Apabila dihitung populasi penduduk Indonesia 260 juta jiwa, jumlah pengusaha Nasional mencapai 8,06 juta jiwa, ujar Menteri Airlangga.

Menurut Menteri Airlangga Pemerintah, menurut dia fokus untuk menumbuhkan dan pengembangan wirausaha industri baru khususnya untuk menciptakan sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Potensi ini bahkan muncul dari warga binaan pemasyarakatan yang cukup banyak memiliki keterampilan dalam menghasilkan produk kreatif dan berdaya saing.

“Warga yang sedang dibina di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) juga punya jiwa wirausaha, sehingga nantinya ada kompetensi atau kemampuan dalam melanjutkan karir di luar secara mandiri,” kata Menteri Airlangga pada pembukaan Pameran Produk Unggulan Narapidana 2019 di Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Bekas warga binaan sudah berkembang menjadi menjadi desainer atau pengrajin. Bahkan, di antara mereka ada mampu membuka lapangan kerja dan produknya telah diekspor.

Menurut Menteri Airlangga, pertumbuhan wirausaha ini harus didukung dengan pengembangan pasar online, untuk mendorongnya di pasar dalam Negeri maupun dunia.

Pemerintah menyiapkan dukungan dengan program e-Smart IKM, yaitu sistem basis data IKM yang tersaji dalam bentuk profil industri, produk, dan sentra yang diintegrasikan dengan marketplace yang sudah ada.

Program ini bekerja sama dengan Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia.

Hingga akhir 2018, Workshop e-Smart IKM telah diikuti sebanyak 5.945 pelaku usaha dengan total omzet sebesar Rp2,37 miliar. dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (27/3/2019).

Berdasarkan sektornya, industri makanan dan minuman mendominasi hingga 31,87 persen dari total transaksi di e-Smart IKM, kemudian disusul sektor industri logam sebesar 29,10 persen, dan industri fesyen sebesar 25,87 persen.

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar