oleh

Kinerja Impor Lesu, Rupiah Jadi Melemah 50 Poin

PortalMadura.Com – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (18/8/2020) melemah 50 poin menjadi Rp14.845 per dolar AS yang salah satunya dipengaruhi oleh data kinerja impor bulan Juli yang terkontraksi 32,55 persen secara tahunan.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan besok rupiah kemungkinan masih melemah di level Rp14.820 hingga Rp14.920 per dolar AS, karena data eksternal dan internal.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Ibrahim mengatakan, Bank Indonesia melaporkan surplus NPI pada periode April-Juli 2020 adalah USD9,2 miliar jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit USD8,5 miliar, sementara defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) juga semakin tipis.

“Namun, secara bersamaan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Impor Indonesia pada Juli 2020 tumbuh negatif atau terkontraksi walaupun neraca perdagangan surplus,” kata Ibrahim dilansir Anadolu Agency.

Ibrahim mengatakan, kontraksi impor sebesar 32,55 persen secara tahunan menjadi USD10,47 miliar lebih dalam dari prediksi analis dengan kontraksi 22,96 persen secara tahunan.

Sementara itu, nilai ekspor Indonesia sebesar USD13,73 miliar, turun 9,9 persen secara tahunan sehingga neraca perdagangan surplus USD3,26 miliar.

Dia mengatakan, kontraksi ekspor secara tahunan lebih baik dari prediksi analis yang sebesar minus 18,2 persen.

“Meski Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) tidak minus, namun kejatuhan ekspor-impor yang begitu dalam tentu membuat alarm tanda bahaya kembali menyala,” jelas Ibrahim.

Menurut dia, ada kemungkinan pemulihan ekonomi pada kuartal ketiga 2020 akan kembali terkontraksi sehingga harapan terhindar dari resesi akan kembali sirna.

“Ini merupakan tanggung jawab kita semua terutama pemerintah dan Bank Indonesia untuk kembali menggairahkan pasar terutama sektor konsumsi rumah tangga dan investasi,” kata dia.

Pasar mempertanyakan efektivitas Bank Indonesia dan pemerintah dalam pemulihan ekonomi kuartal ketiga yang hanya tersisa satu bulan lagi di September.

“Apakah bisa pemerintah dan BI kembali menggairahkan konsumsi rumah tangga dan investasi untuk mengangkat PDB kuartal ketiga atau malah trekontraksi,” tanya dia.

Kemudian, Ibrahim menjelaskan faktor eksternal yang mempengaruhi nilai tukar rupiah antara lain pembacaan Produk Domestik Bruto (GDP) kuartal kedua Jepang yang mengalami kontraksi.

Dalam perkembangan terbaru, ekonomi Jepang sudah menyusut -27,8 persen di kuartal kedua 2020 secara tahunan dan secara kuartalan terkontraksi -7,8 persen akibat melemahnya konsumsi dan ekspor swasta di tengah langkah-langkah pembatasan sosial guna mencegah Covid-19.

“Selain itu, pasar merasa lega dengan penundaan peninjauan kesepakatan perdagangan AS-China minggu ini, yang telah membuat perjanjian tetap berdiri,” lanjut Ibrahim,

Dia mengatakan kondisi ini memperkuat keyakinan bahwa hubungan perdagangan dapat bertahan bahkan di tengah konflik di berbagai bidang lainnya.

Menurut beberapa sumber, alasan penundaan adalah karena ada masalah kesesuaian waktu. Selain itu, AS juga berniat untuk memberikan lebih banyak waktu bagi China untuk dapat meningkatkan pembelian barang-barang AS.

Kemudian, dia menambahkan pasar pada minggu ini akan fokus pada rilis risalah rapat kebijakan terakhir Federal Reserve AS dan konvensi nominasi Partai Demokrat AS yang tensinya terus memanas.

“Pasar menantikan risalah the Fed, yang akan dirilis pada hari Rabu, untuk petunjuk apa pun tentang antisipasi perubahan dalam prospek kebijakan,” imbuh Ibrahim.(*)

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar