Kisah Nyata, Usaha Hancur Berkali-Kali, Terjawab dari Sedekah Subuh

Avatar of PortalMadura.com
Penulis: HartonoEditor: Putri Kuzaifah
Kisah Nyata Usaha Hancur Berkali Kali Terjawab dari Sedekah Subuh 1
Pipi Dian Hartini (YouTube JagaLilin)
    Bagikan:

PortalMadura.Com – “Bisnis itu bukan soal untung rugi, tapi pada halal-haram. Jadi, pada saat berbisnis, kita harus benar-benar tawakal. Jangan gampang menyerah, tapi berani mencoba untuk maju. Dan bergantung pada Allah. Hasil itu bukan wilayah kita, tapi wilayah Allah”.

Hal tersebut diungkapkan Owner Eggs Hall, Pipi Dian Hartini yang mengalami ujian dan cobaan sangat panjang dalam mencari pekerjaan hingga merintis sejumlah usaha yang berkali-kali runtuh, hancur lebur bertubi-tubi dan sempat trauma berbulan-bulan.

Pipi Dian Hartini membagikan cerita hidupnya hingga menemukan cahaya terang melalui “Sedekah Subuh” dan kini sukses menjadi Owner Eggs Hall. Kisah nyata ini, dikutip PortalMadura.Com, pada Jumat (17/6/2022) dari kanal YouTube JagaLilin.

Sosok wanita tangguh, Pipi Dian Hartini sungguh kuat menghadapi berbagai ujian dan cobaan hingga kini sukses menjadi distributor telor 150 ton setiap bulan. “Sepanjang ujian itu, kuncinya rida dan ikhlas. Dan tetap berikhtiar. Allah akan memberi jawaban,” katanya.

Jiwa untuk berbisnis itu sudah tertanam sejak usia sekolah dasar (SD). Ia mulai belajar berbisnis dengan cara menyewakan buku. Memasuki usia SMP, usahanya berkembang dengan berjualan teh manis bungkus. Usaha itu dijalankan sepulang sekolah.

Pada usia SMA, mengembangkan usahanya dengan berjualan batik. Dari usaha ini, baru bisa menabung dan mampu membeli komputer, printer dan TV yang ia pakai di tempat kosnya.

Pada tahun 2001, wanita berhijab itu memutuskan untuk bekerja atau jadi karyawan diperusahaan milik orang lain di kawasan Cibinong Jawa Barat.

Dari tempat kerjanya itu, ia melihat akan terjadi perlambatan untuk menuju sukses bila dibandingkan dengan usaha rumahan yang dilakukan orang tuanya.

“Melihat peluangnya, kok biasa-biasa saja. Padahal, bapak saya perkembangan secara visualnya begitu cepat,” katanya.

Untuk menambah pendapatan dari honor yang diterima bulanan sekitar Rp2 juta, maka pada tahun 2003 memutuskan membeli 1 unit angkot dengan sistem cicilan.

Ilmu cara menjalankan bisnis angkot itu, ia peroleh dari sopir angkot yang diwawancarai setiap kali pulang kerja. Ia pun selalu mengincar tempat duduk dekat dengan sopir. “Maka, tahun 2003 saya beli angkot,” terangnya.

Hasil dari analisa bisnis angkot, ia memprediksi selama 3 tahun sudah bisa mempunyai angkot sendiri. Artinya, sudah lunas dari cicilan.

“Ternyata, bisnis itu tidak gampang, semua orang pasti mengalami ujian. Enam bulan angkot saya ditabrak bus. Ok, saya terima, ini ujian,” katanya.

Ujian dan cobaan datang kembali. Sopir angkot miliknya malah dihipnotis dan mobil angkotnya hilang. “Ya, Allah angkot saya masih nyicil. Gaji saya baru Rp2 jutaan. Cicilan angkot Rp2,3, boro-boro buat bayar angkot, gaji saya aja gak cukup,” ucapnya.

Dalam kondisi nyaris menyentuh titik nadir. Hanya support orang tua yang membuatnya ia tetap semangat. Ia pun mulai introspeksi diri dengan memulai salat malam, salat duha, dan terus berdoa.

Baca Juga:  Perangi Hoaks, Gubernur Jatim Lantik Komite Komunikasi Digital

“Saya tidak merasa, apa yang saya lakukan berlangsung satu bulan. Lalu, saya mendapat telepon dari polisi dan diminta datang ke Polres Bekasi, bahwa angkot saya katanya ditemukan,” terangnya.

Bisnis angkotnya pun kembali dijalankan meski pada akhirnya kembali ujian menimpanya. Saat ada di kampung halamannya justru mendapat berita jika sopirnya dibunuh orang.

“Saya berusaha mengecek ke teman di kantor, ternyata benar, itu angkot saya. Saat itulah, saya bilang kalau bisnis angkot gak cocok buat perempuan,” katanya.

Untungnya, orang tua Pipi Dian Hartini tetap memberi support besar, bahwa bisnis itu terletak pada mental yang kuat. “Kalau mau sukses maju terus, tidak boleh nyerah,” katanya, menirukan ungkapan orang tuanya.

Support orang tua membuktikan Pipi Dian Hartini bangkit kembali setelah 3 bulan kemudian. “Setelah 3 bulan, akhirnya saya bisa bangkit lagi dan saya memutuskan untuk beli angkot lagi. Jadi angkot saya 2,” terangnya.

Sambil menjalankan bisnis angkot, ia pun memutuskan berhenti dari tempat kerjanya dan pindah ke lembaga asuransi. “Tidak sampai 1 minggu, saya dapat 15 nasabah. Dan akhirnya saya sampai pada zona aman hingga memutuskan beli rumah senilai Rp 1,5 miliar,” katanya.

Ia keluti lembaga asuransi sejak tahun 2008. “Income saya Rp70 juta 1 bulan hingga mencapai level ternyaman saya di sini (pucuk pimpinan),” ucapnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, sejak 2016 mulai datang ke kajian-kajian Islam. Dan menemukan penjelasan bahwa asuransi dalam perdebatan, antara halal dan haram. “Syubhat itu sebaiknya ditinggalkan, karena mendekati haram,” katanya.

Pipi Dian Hartini mulai berfikir untuk menata hati. Ia pun memutuskan meninggalkan pekerjaan yang diragukan itu. “Ya Allah, tunjukkan, saya ingin mendapat ridla-Nya. Saya semakin ragu. Saya benar-benar pada puncak keraguan dan saya galau banget. Akhirnya memutuskan untuk berhenti dari lembaga asuransi,” tandasnya.

Ia meyakini, jika orang itu benar-benar akan hijrah, maka akan dipertemukan dengan orang yang satu frekuensi. “Maka semakin menguatkan saya untuk meninggalkan riba,” ucapnya.

Semua harta benda yang dimiliki, seperti rumah yang dibeli dari uang riba ia jual semuanya. “Saya jual, saya tinggalkan itu. Mobil mewah saya dijual. Dan saya ganti mobil kecil saja,” katanya.

Pada tahun 2019, ia memulai dengan usaha baru dengan jualan telur. Kala itu, ia punya tabungan Rp400 juta. Namun, karena berhadapan dengan pandemi, akhirnya pemasukan dan barang keluar tidak seimbang. “Saya berhenti dulu,” terangnya.

Bisnis telur yang ia jalankan awalnya sudah mampu mencari peluang pasar diangka 1,8 ton. “Satu ton sudah ada pembeli, sisanya saya suplay ke warung-warung kecil,” jelasnya.

Baca Juga:  Sejarah Baru, Jatim Memiliki Komite Komunikasi Digital

Ternyata, Allah masih memberikan ujian dan cobaan. Pada April 2021 harus gulung tikar akibat banyak yang tidak bayar dan karyawan tidak terbayar dan telur tidak terbayarkan ke peternak.

“Disitulah benar-benar saya berfikir. Kalau saya maju, akan ketemu dengan kemenangan atau saya hancur. Situasi ini, bagi saya bukan titik terendah, tapi proses hijrah dari asuransi itu titik terendah saya,” katanya.

Ia pun memutuskan tidak mau bergantung kepada siapapun. “Saya tidak mau tergantung pada manusia. Tergantung pada Allah akan lebih baik. Tabungan saya saat itu, hanya Rp10 ribu,” ucap Pipi Dian Hartini sambil meneteskan air mata.

“Saya yakin, setiap bergantung pada Allah, tentara Allah akan membantunya. 28 April 2021, saya ingat banget, karena saat pembukuan minus. Karyawan belum digaji, telur gak kebayar,” katanya.

Bahkan, ia diminta pulang oleh orang tuanya. Tapi ia tetap ingin menjalankan bisnis telur mengingat banyak pelanggannya. “Sambil salat tahajud dan berdoa untuk meneruskan usaha telur. Kalau gagal lagi, setidaknya saya sudah memulai dan berusaha,” katanya.

“Ya Allah, saya punya wilayah berusaha, tapi untung itu punya Allah. Dan doa saya, jauhkan dari hutang. Dalam 1 minggu berjalan, malah sopir saya kenak hipnotis. Rp17 jutaan nilai barang saya hilang,” ujarnya.

Tapi ia tidak putus asa dan yakin Allah akan memberikan pertolongan besar. “Ya Allah, hasilnya kan punya Engkau, saya cuma berusaha,” begitu doa Pipi Dian Hartini.

Lalu, ia diingatkan oleh adiknya soal sedekah. Ia diminta selalu bersedekah dengan menerapkan Sedekah Subuh. “Sedekah subuh yang saya lakukan, tiap hari naruk uang di kotak, saya mulai angka Rp10 ribu. Saya lakukan setiap hari dan hari Jumat saya berikan sama orang,” terangnya.

Pipi Dian Hartini justru merasa sedikit dengan nilai sedekah yang dilakukan. Dalam syiar agama yang ia pahami, bahwa sebagian dari harta itu milik orang lain. “Kalau sebagian kan banyak, sampai saya tentukan dari laba bersih itu 10 persen untuk sedekah,” ucapnya.

Kebiasaan bersedekah subuh tersebut dihitung setiap hari dari laba bersih. “Akhirnya dijawab oleh Allah, saya diganti sama Allah. Awalnya 1 ton (telur) penjualan, kenaikan itu terasa, dari 2 ton, 3 ton, 4 ton hingga 10 ton setiap harinya,” terangnya.

Bahkan, Allah memberikan jauh lebih besar dari yang diinginkan Pipi Dian Hartini. Ia sampai over pesanan. Kini, setiap bulannya mampu mendistribusikan telur pada pelangganya diangka 150 ton. Subhanallah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.