Mengapa Tidak Boleh Berandai-Andai dalam Islam?

  • Bagikan
Ilustrasi 4
Ilustrasi

PortalMadura.Com – Apakah Anda pernah berandai-andai atau berangan-angan ? sebagian besar orang banyak yang menyuai aktivitas ini. Biasanya apa yang diandaikan adalah apa yang kita inginkan dan berharap untuk segera terwujud. Ketika kita berandai, seakan segala sesuatunya akan mudah untuk menggapai apa yang kita tuju.

Namun sebaliknya, ketika menyesali sesuatu yang sudah terjadi, dan merasa putus asa karena alasan mengapa mau melakukan itu. Kemudian mengatakan, “Kalau saja…, “Seandainya”, “Ah, tau gitu..”, dan lainnya.

Perlu Anda ketahui bahwa sejatinya bentuk pengandaian itu adalah merupakan bentuk protes terhadap takdir yang sudah Allah SWT tetapkan untuk kita. bLantas, bagaimana Islam memandang hal tersebut? Berikut penjelasannya.

Allah SWT pernah menjelaskan dalam firmanNya:

“Mereka (orang-orang munafik) berkata: Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”.

Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (QS Ali Imran: 154).

Dari firman Allah SWT diatas, bisa diambil sebuah pernyataan yaitu pengandaian adalah sebuah bentuk protes kita kepada takdir Allah SWT. Kemudian, beberapa ulama juga sepakat bahwa hal tersebut hukumnya haram.

Hal ini dikarenakan pengandaian semacam ini biasa dilakukan orang-orang yang munafik. Ia percaya takdir Allah SWT, namun di lain waktu ia meragukanya, dan menyesalinya apabila takdir tersebut tidak sejalan sesuai dengan keinginannya.

Rasullullah SAW juga bersabda: “Semangatlah dalam menggapai apa yang manfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jangan pula mengatakan: Andaikan aku berbuat demikian tentu tidak akan terjadi demikian namun katakanlah: Ini takdir Allah, dan apapun yang Allah kehendaki pasti Allah wujudkan karena berandai-andai membuka tipuan setan.” (HR Muslim 2664).

Kemudian, hukum dari pengandaian itu sendiri bergantung dari apa yang kita andaikan. Apabila kita angankan suatu kebaikan, akan bernilai pahala didalamnya. Sebaliknya, apabila yang diangankan keburukan, maka bernilai dosa.

Diriwayatkan dalam hadits dari Abu Kabsyah Al-Anmari, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Aku sampaikan kepadamu sebuah hadis, mohon dijaga: sesungguhnya penduduk dunia ada 4 macam:

Pertama, hamba yang Allah berikan rezeki berupa harta dan ilmu. Kemudian dia gunakan rezekinya untuk bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahim, menunaikan hak harta untuk Allah. Inilah jenis manusia yang paling mulia.

Kedua, hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak Allah beri harta. Kemudian dia jujur dalam niatnya, dan berangan-angan: Andai aku memiliki harta, maka aku akan beramal seperti yang dilakukan si A (sedekah, zakat, dst) Dua orang ini pahalanya sama.

Ketiga, hamba yang Allah berikan harta namun tidak Allah beri ilmu. Kemudian dia habiskan hartanya tanpa ilmu, tidak digunakan untuk bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturahim, dan tidak menunaikan haknya untuk Allah. Inilah jenis manusia yang paling jelek.

Hamba yang tidak Allah berikan harta dan ilmu, namun dia berangan-angan, Andaikan saya memiliki harta, akan saya lakukan seperti yang dilakukan si A. Dua orang ini dosanya sama.” (HR. Thabrani, 110)

Berandai-andai memang terlihat suatu aktivitas yang sepele dan menyenangkan bagi sebgaian orang. Namun seperti yang telah dijelaskan di atas bawa hal tersebut merupakan suatu yang haram dan harus berusaha untuk dihindari agar tidak mendapatkan dosa yang menumpuk amalan buruk di akhirat nanti.(dalamislam.com/Nanik)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.