oleh

Menunggu Reformasi Kepemimpinan Sumenep

Oleh: Moh. Syaihol Hadi (Ketua Umum HMI Cabang Sumenep)

Hampir dalam dua dekade terakhir, kepemimpinan di Kabupaten Sumenep tidak menemukan efek kejut sama sekali, selain hanya suguhan kepemimpinan yang begitu konservatik. Mungkin kita tidak bisa mengadili kepemimpinan tersebut sebagai gagal, sejauh kalau semua dilekatkan pada sistem emosional, naluri, dan nalar kepuasan masyarakat umumnya di Sumenep.

Hal yang sangat relevan dan hampir tak bisa dihindarkan dalam masyarakat yang memiliki latar belakang atau genealogis kerajaan dan keratonisme yang begitu kuat dan mengakar; serba ewuh-pakewuh dan romantik, seperti di kabupaten ujung timur Madura ini.

Sulit untuk menyangkal pencapaian – untuk menghindari penggunaan kata prestasi – kepemimpinan KH. Ramdhan Siraj yang begitu populer dan kharismatik sehingga mengantarkannya sampai terpilih dua kali periode bahkan seandainya memungkinkan bisa saja terpilih untuk yang ketiga kali, dan seterusnya.

Sepenggal yang penulis tahu beliau begitu dihormati dengan akseptabilitas yang kuat di masyarakat. Hampir sukar kepemimpinan beliau dibantah.

Loading...

Begitupun seorang KH. Busyro Karim, yang juga sukses terpilih untuk kedua kalinya. Meskipun yang terakhir ini, harus diakui rasio elektabilitas dan akseptabilitas tak sekuat kepemimpinan yang sebelumnya itu. Namun harus diakui beliau seorang kiai yang memiliki mental dan kemampuan politik yang begitu kuat dan cemerlang di Sumenep.

Barangkali faktor tersebut yang paling berpengaruh dan menjadi penentu terbesar dalam kiprah dan karir politik beliau di kepemimpinan Kabupaten Sumenep yang begitu mentereng.

Yang pasti, mereka sama-sama berangkat dari latar belakang sosial, strata, dan kelompok sosial yang hampir sama; tokoh agama, ulama, dan pesantren – tepatnya sama-sama pengasuh pesantren.

Tentunya, mereka sangat ditopang oleh aspek “achieved status“; strata dan status sosial seorang keturunan kiai. Karakter tradisionalis, figuristik, dan kharismatik adalah tipologi kepemimpian yang hampir sering kali dilekatkan pada seorang ulama ataupun kiai.

Kalau ditilik …

Halaman: 1 2 3 4 5

Penulis : Moh. Syaihol Hadi
Editor : Hartono

Komentar