oleh

Menurut Rasulullah: Ini 3 Penyebab Hancurnya Bangsa

PortalMadura.Com – Sebagai umat Islam dan bangsa Indonesia tentunya tidak ingin mengalami keterpurukan. Walaupun pada hakikatnya pasang surut tidak bisa dihindari. Di mana, ada masanya hidup dengan kemuliaan dan kejayaan, namun pada saat yang lain dalam kehinaan dan kesengsaraan.

Oleh karena itu, sebagai bangsa yang baik harus mencari sebab utama kehancuran suatu umat atau bangsa agar bisa mencegahnya sejak dini dan bila tanda-tanda itu sudah ada segera hentikan agar tidak lenyap.

Dalam hal ini lenyapnya suatu bangsa pasti ada penyebab yang ditimbulkannya. Di antara faktornya adalah penolakan untuk bertauhid kepada Allah SWT dan menghalangi-Nya.

Selain kepada Allah SWT juga penolakan terhadap Rasul-Nya, ketidakpercayaan terhadap rahmat-Nya, melanggar larangan Allah, ketidakadilan, perilaku amoralitas, dan tirani.

Dilansir PortalMadura.Com, Rabu (24/2/2021) dari laman Republika.co.id berikut ini adalah penjelasan sejumlah faktor yang membinasakan suatu bangsa menurut Rasulullah:

Membeda-bedakan Hukuman

Menetapkan suatu hukum tentu memiliki manfaat yang terhingga karena hal ini akan bisa menghapus perbuatan buruk seperti korupsi, ketidakadilan, menegakkan keadilan, memelihara kehidupan masyarakat dan sebagainya.

Oleh karena itu, hukum sepantasnya tidak tembang pilih, antara yang kaya dan yang miskin. Rasulullah telah memperingatkan tentang situasi terdahulu di mana ada pembedaan antara yang terhormat dan yang tidak, yang lemah dan yang kuat sehingga memunculkan kasta di dalamnya.

Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa Rasulullah telah menyampaikan mengenai kehancuran Bani Israil yang diakibatkan sikap mereka yang membebaskan para pemimpinnya dari hukuman. Rasulullah SAW bersabda:

إنَّما أَهلك الذين قبلكم: أنَّهمْ كانوا إذا سَرقَ فيهم الشَّريفُ تَرَكُوه، وإذا سَرَقَ فيهم الضعيف أقاموا عليه الحدّ. وَأيْمُ الله لَوْ أنَّ فاطمةَ بنْتَ محمدٍ سَرَقَت لقطعتُ يَدَهَا

Sesungguhnya yang telah membinasakan umat sebelum kalian adalah jika ada orang terhormat dan mulia di antara mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Sebaliknya jika orang rendahan yang mencuri, mereka tegakkan hukuman terhadapnya. Demi Allah, bahkan seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya!

Ibnu Taimiyah menambahkan, “Tidak ada yang berubah pada ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Wanita dari keluarga yang terhormat itu tetap harus menjalani hukuman potong tangan“.

Pelit

Tidak bisa disangka, ternyata sifat tersebut bisa membinasakan suatu bangsa. Sifat pelit ini merupakan bentuk keserakahan jiwa. Sifat ini adalah salah satu penyebab musnahnya bangsa-bangsa.

Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah dalam riwayat hadis dari jalur Jabir bin Abdillah RA. Rasulullah bersabda:

عن جابر بن عبد الله – رضي الله عنهما – أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم- قال: «اتقوا الظلم، فإن الظُّلم ظُلماتٌ يوم القيامة، واتقوا الشُّحّ، فإنه أهلك من كان قبلكم، حملهم على أن سفكوا دِماءهم واستحلّوا محارمهم»

Hindarilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan (yang membawa kesengsaraan) pada Hari Kiamat, dan jauhilah kekikiran karena kekikiran telah membinasakan kaum sebelum kalian, yang mendorong mereka untuk saling menumpahkan darah mereka sendiri dan menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh diri mereka sendiri” (HR Muslim).

Sering Mempertanyakan Ucapan Nabi dan Ulama

Mempertanyakan ucapan Nabi dan ulama merupakan salah satu penyebab terjadinya kehancuran suatu bangsa. Penolakan tersebut juga termasuk kepada para ulama dan dai yang bekerja dengan ikhlas. Sebab para ulama adalah ahli waris para Nabi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: “يَا أَيُّهَا النَّاسُ! قَدْ فُرِضَ عَلَيْكُمُ الحَجَّ فَحُجُّوا”. فَقَالَ رَجُلٌ: أَفِي كُلِّ عَامٍ يَا رَسُولَ الله؟! فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثاً، ثُمَّ قَالَ: ذَرُونِي مَا تَرَكْتكُمْ، لَوْ قلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلمَا اسْتَطَعْتُمْ، إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَثْرَةِ سُؤَالهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah berkhutbah di hadapan kami, lalu dia berkata: “Wahai sekalian manusia, telah diwajibkan kepada kalian ibadah haji maka berhajilah kalian.” Lalu, seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah haji ini dilakukan setiap tahun?”

Rasulullah pun terdiam. Lalu, orang tersebut mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Setelah itu, Rasul menjawab, “Andaikan aku jawab ‘ya’ maka tentu aku akan mewajibkannya, sementara kalian tidak mampu melaksanakannya.”

Beliau pun melanjutkan, “Biarkanlah sesuatu yang aku diamkan karena sesungguhnya kehancuran umat sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan terhadap para nabi mereka. Oleh karena itu, jika aku perintahkan kepada kalian untuk mengerjakan sesuatu maka tunaikanlah, dan jika aku melarang sesuatu maka tinggalkanlah“.

Salah satu yang dapat dipetik dari hadis tersebut, ialah larangan untuk tidak banyak bertanya pada sesuatu yang prinsip dan berbantah-bantahan. Rasulullah berkata, “Tinggalkanlah perbantahan karena perbantahan tidak dapat dipahami hikmahnya dan tidak dapat dijamin keamanan fitrahnya” (HR at-Thabrani). Wallahu A’lam.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : Republika.co.id

Komentar