Muslim Pekerja Keras Dicintai dan Dibanggakan Rasulullah

Muslim Pekerja Keras Dicintai dan Dibanggakan Rasulullah
ilustrasi (kompasiana.com)
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Dikisahkan, suatu ketika seorang pemuda berjabatan tangan dengan Rasulullah, tiba-tiba Rasulullah mencium tangan pemuda itu sambil berkata, “Inilah kedua tangan yang dicintai Allah SWT” (HR Jamaah).

Padahal, kedua tangan pemuda tersebut begitu keras dan agak kasar yang mencerminkan bahwa ia seorang pekerja keras yang tidak mengenal lelah. Tergambar pula dari raut wajahnya dan penampilan fisiknya. Ternyata, sosok Muslim pekerja keras inilah yang dicintai dan dibanggakan oleh Rasulullah. Benarkah?.

Ya, Islam memang agama yang mendorong umatnya untuk selalu bekerja dan bekerja dengan penuh keikhlasan serta kesungguhan, mempersembahkan kerja dan amal yang terbaik (ihsan), baik dalam kaitannya dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia, bahkan dengan dirinya sendiri. Sebab, hanya dengan cara inilah seorang Muslim akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia maupun akhirat.

Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS at-Taubah : 105).

Selain itu, dalam firman lain: “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya (bekerja keras) dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS al-Mulk : 15).

Rasulullah pun sangat memuji orang yang berusaha dan bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, seperti digambarkan dalam hadis di atas dan hadis riwayat Imam Bukhari No 1.470; “Sesungguhnya seseorang dari kalian pergi mencari kayu bakar yang dipikul di atas pundaknya itu lebih baik daripada meminta-minta, baik diberi atau tidak”.

Dalam hadis lain riwayat Bukhari No 2.072. “Tidak lah seseorang makan-makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri dan Nabi Dawud AS juga makan dari usahanya sendiri”.

Bahkan, “Jika seseorang tertidur kelelahan karena mencari rezeki yang halal, tidurnya itu akan dipenuhi dengan ampunan dari Allah SWT” (HR Imam Tabrani).

Sebaliknya, Rasulullah sangat membenci bermalas-malasan, tidak mau bekerja. Dan, beliau selalu memohon perlindungan Allah SWT dari sifat malas. “Allahumma inni a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasali wal jubni wal harami wa a’udzu bika min fitnatil mahya wal mamat wa a’udzu mika min ‘adzabil qabri“ (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sikap lemah, malas, pengecut, dan kepikunan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur)” (HR Bukhari).

Untuk itu, Umat Islam harus bersyukur dan memberikan apresiasi (penghargaan) yang tinggi kepada generasi muda yang telah berhasil berkarya untuk negeri ini dan masyarakat serta masa depannya. Wallahu A’lam. (republika.co.id/Salimah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.