oleh

Para Orang Tua, Kenali 4 Posisi Anak yang Dijelaskan dalam Alquran

PortalMadura.Com – Bagi pasangan yang baru menikah, kehadiran seorang anak merupakan hal yang paling dinanti-nanti. Untuk itu setelah lahir sang buah hati, semua orang tua memiliki kewajiban untuk menyayangi dan mendidik si kecil sesuai dengan ajaran syariat Islam.

Pasalnya, anak adalah amanah bagi setiap pasangan suami istri untuk dididik dengan sebaik-baiknya. Bahkan, di dalam Alquran dijelaskan bahwa anak bisa dilihat dari empat posisi, yaitu sebagai penyejuk, perhiasan, ujian, hingga musuh bagi orang tuanya, seperti dilansir dari Okezone.com, Selasa (10/12/2019).

Berikut ini penjelasannya:

Pertama, anak sebagai penenang hati, atau penyejuk jiwa, dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Tipikal ini menjadi yang terbaik dan tertinggi dari seorang anak.

Hal tersebut sebagaimana yang terungkap dalam doa Alquran berikut ini:

رَبَّنا هَبْ لَنا مِنْ أَزْواجِنا وَذُرِّيَّاتِنا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنا لِلْمُتَّقِينَ إِماماً

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS al-Furqan : 74).

Para ulama tafsir menyebutkan, maksud qurrata a’yun dalam ayat di atas adalah anak-anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama. Tidak heran, bila anak yang memiliki perangai seperti yang disebut dalam ayat di atas menjadi pemimpin orang-orang yang bertakwa, menjadi kebanggaan dan pembela bagi para orang tua di dunia dan akhirat. Akan tetapi, tipikal anak yang seperti ini sebenarnya tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan perjuangan keras dari orang tua untuk mengasuh, membina, dan mendidiknya, bahkan sudah pasti membiayainya.

Selain itu, yang tidak kalah penting adalah doa, baik dari orang tua maupun dari orang-orang yang saleh. (Lihat: Tafsir Muqatil ibn Sulaiman, [Beirut: Daru Ihya at-Turats], 1424 H, jilid 3, hal. 242).

Kedua, anak sebagai perhiasan dunia. Hal itu sebagaimana yang diungkap ayat berikut: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,” (QS. Al-Kahfi : 46).

Dalam ayat ini, anak diposisikan sebagai perhiasan dan kekayaan dunia bagi orang tuanya. Layaknya perhiasan dan kekayaan, si kecil harus diperlakukan, dijaga, bahkan disayang sebaik-baiknya oleh para orang tua. Kaitan dengan tipikal ini, anak disejajarkan dengan perhiasan dan kekayaan dunia yang lainnya, sebagaimana yang diisyaratkan dalam ayat yang lain.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: “Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga), (QS. Ali ‘Imran : 14).

Sayangnya, akibat kecintaan orang tua yang berlebihan terhadap si kecil terkadang membuat mereka terlena dan seringkali mengabaikan hal-hal yang membahayakan sang anak itu sendiri. Orang tua lupa, jika perlakuan yang diberikannya justru akan merusak masa depan anak kesayangannya. Karena itu, dalam ayat lain, Allah mengingatkan agar kekayaan dan keturunan tidak sampai melalaikan para hamba-Nya.

Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi, (QS. Al-Munafiqun : 9).

Baca Juga: 5 Cara Cerdas Didik Si Kecil Menurut Ajaran Islam

Ketiga, anak sebagai fitnah atau ujian, sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat Alquran, yaitu: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. At-Taghabun : 15).

Mungkin ini pula yang dimaksud anak sebagai amanat atau titipan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Dipenuhi hak-haknya, disayang, dirawat, dididik agar memiliki masa depan yang cerah dan membahagiakan orang tuanya.

Ingatlah Allah memiliki balasan yang besar bagi mereka yang menjaga amanah ini. Maka janganlah sia-siakan jiwa dan raga anak, jangan bunuh mereka karena takut miskin. Demikian yang diamanatkan dalam Alquran. Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar, (QS. Al-Isra’ : 31).

Keempat, anak menjadi musuh. Hal itu diungkap dalam ayat berikut: “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. At-Taghabun : 14).

Sementara sebagian mufasir menjelaskan, maksud sebagai musuh di sini adalah menjadi pihak yang menghalang-halangi jalan Allah, merintangi jalan ketaatan kepada-Nya. Maka hati-hatilah agar tidak dijerumuskan oleh mereka. Ini pula yang terjadi kepada sejumlah sahabat yang ingin berhijrah mengikuti Rasulullah, namun dihalang-halangi oleh anak-istri mereka. Lihat: Tafsir at-Thabari, Terbitan Muassasah ar-Risalah, 1420 H, Cet. Pertama, jilid 23, hal. 423).

Akan tetapi, mufasir lain mengemukakan, maksud sebagai musuh seperti yang disebutkan di atas adalah musuh seperti yang terjadi pada hari Kiamat, di mana antara orang tua dan anak, antara seseorang dengan kerabatnya tidak hanya dipisahkan, tetapi juga bermusuhan, bahkan saling gugat dan menyudutkan, akibat hak masing-masing tidak dipenuhi, kezaliman di antara mereka sewaktu di dunia, dan seterusnya.

Hal itu berdasarkan ayat lain yang menyatakan: “Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tidak bermanfaat bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Mumtahanah : 3). Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : okezone.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar