Penderita Limfangioma di Pamekasan Kakinya Kian Membesar dan Keluarkan Bau Tak Sedap

Avatar of PortalMadura.com
Penderita Limfangioma di Pamekasan Kakinya Kian Membesar dan Keluarkan Bau Tak Sedap
Balita yang Menderita Penyakit Limfangioma.

PortalMadura.Com, Pasangan suami istri Abd. Ra’uf (22) dan Khoiratun Nisa’ (22), warga Jalan Bazar, Gang 5, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, harus menanggung beban yang tidak ringan. Karena anak pertamanya yang baru lahir 7 bulan lalu menderita penyakit Limfangioma.

Nur Anisa Maharani (7 bulan), anak pertamanya yang ditunggu-tunggu kehadirannya setelah sembilan bulan berada dalam kandungan ternyata harus memikul beban yang cukup berat. Karena penyakit yang dideritanya jarang sekali ditemui pada balita pada umumnya.

Limfangioma ialah tumor jinak yang biasa menyerang anak-anak dan bayi baru lahir. Tumor ini menyebabkan pembengkakan. Jadi, mereka yang terserang penyakit ini pasti akan terlihat mengalami pembengkakan pada salah satu bagian tubuhnya.

“Penyakit ini diketahui setelah lahir, saya tidak menyangka kalau begini. Cuman, pada saat usia kandungan 9 bulan tidak bergerak di perut,” ujar Khoiratun Nisa’ (22), ibu balita tersebut saat ditemui di rumahnya, Sabtu (21/12/2019).

Baca Juga: Rektor Unija Sjaifurrachman Dorong Koperasi Mahasiswa Jadi Penggerak Ekonomi Nasional

Sambil menangis ia bercerita, saat anak pertamanya lahir pada tanggal 20 Mei 2019 lalu berat badannya 3 kilogram lebih, sementara pada usia 7 bulan berat badannya bertambah menjadi 7 kg lebih. Tubuhnya kecil, sementara bagian paha hingga kakinya semakin membengkak.

“Kalau nangis seperti orang kesurupan itu, menjerit. Saya kasihan. Mungkin sakit, karena kalau nangis itu saat pahanya ini memerah,” terang istri dari juru parkir di salah satu rumah sakit di Pamekasan tersebut.

Dirinya bersama keluarga sudah berusaha mengobatinya sang buah hati agar bisa seperti anak-anak pada umumnya dengan membawanya ke rumah sakit dr. Soetomo Surabaya. Namun, sampai sekarang belum ada tindakan apa-apa, hanya obat sebagai penahan sakit saja.

“Bolak-balik ke Surabaya, awalnya dijanjikan akan dioperasi kalau usianya sudah 6 bulan. Tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasan, kadang kami kadung datang ke Surabaya, namun tidak ada apa-apa, hanya dikasih obat. Sementara biaya wira-wirinya tidak sedikit meskipun biaya rumah sakit menggunakan BPJS,” tandasnya.

Obat yang diberikan pihak rumah sakit tidak ada efek terhadap penyakit yang diderita buah hatinya, dirinya bersama keluarga saat ini menunggu kepastian tindakan operasi dari pihak rumah sakit. Tetapi berdasarkan informasi terakhir, tindakan operasi itu akan dilakukan sekitar bulan Februari 2020.

“Kami sempat sampai 2 bulan di sana (RS Soetomo, red). Kalau sekarang tiap bulan ke sana. Awalnya kaki bisa ngangkat, tapi sekarang sudah tidak bisa gerak,” terangnya.

Pantauan PortalMadura.Com, balita perempuan itu berkulit putih dengan paras cantik, kaki bagian kiri membengkak dengan bintik-bintik hitam, ada benjolan yang terkadang keluar darah. Benjolan itu mengeluarkan bau tidak sedap. Saat ini, pihak keluarga membutuhkan uluran tangan para dermawan untuk mengobati buah hatinya.

“Mungkin karena gunakan BPJS tidak segera diambil tindakan operasi,” tutup dia sambil menangis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.