oleh

Pentingnya Ilmu Agama Dalam Kehidupan Sehari-hari

PortalMadura.Com – Ilmu agama sangat penting bagi manusia, karna agama sudah mengatur dengan jelas dan rinci bagaimana cara hidup yang baik dalam kehidupan Sehari-hari.

Agama menjadi pedoman bagi manusia dalam hidupnya, yang mana ilmu agama bisa menjadi kendali untuk setiap perilaku yang menjerumuskan pada hal negatif. Karena baik buruknya perilaku seseorang bisa dilihat dengan bagaimana dia mempelajari dan mengamalkan ilmu agama itu sendiri.

Di lansir dari laman f, Jumat (11/09/2020), berikut penjelasan selengkapnya.

Diantara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah,

[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan dalam rangka menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2).

Sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama bahwa yang dimaksud paling bagus amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas yaitu mengerjakan segala sesuatu karena Allah, sedangkan benar maksudnya mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tidak mungkin seseorang bisa ikhlas dan mengikuti tuntunan kecuali jika berlandaskan dengan ilmu.

Dalil yang lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah pahamkan dalam agama.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini sebagaimana telah diterangkan pula oleh para ulama menunjukkan bahwa paham tentang ilmu agama adalah syarat mutlak untuk menjadi baik.

Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullah menerangkan, diantara faidah hadis di atas adalah :

Dorongan untuk menimba ilmu (agama) dan motivasi atasnya, penjelasan mengenai keutamaan para ulama di atas segenap manusia, penjelasan keutamaan mendalami ilmu agama di atas seluruh bidang ilmu, pemahaman dalam agama merupakan tanda Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba.

Dengan demikian, ketika kita berbicara mengenai keutamaan belajar ilmu agama sesungguhnya kita sedang membahas mengenai pentingnya seorang muslim mencapai keridaan Allah dan cinta-Nya. Karena tidak mungkin dia bisa mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan-Nya kecuali dengan mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah berfirman,

Katakanlah; Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (rasul) niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Al-Imran: 31)

Allah berfirman,

Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama/amal untuk-Nya dengan hanif, mendirikan salat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Allah berfirman,

Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal saleh dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Allah juga berfirman,

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Ayat-ayat di atas dengan gamblang menunjukkan kepada kita bahwa setiap muslim harus :

Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beribadah kepada Allah dengan ikhlas dan bersih dari syirik, melandasi amal salehnya dengan keimanan dan tauhid, tunduk kepada syariat Allah, menegakkan salat dan membayar zakat, menegakkan nasihat dan kesabaran, sementara tidak mungkin melakukan itu semuanya kecuali dengan dasar ilmu dan pemahaman.

Maka sekali lagi, belajar ilmu agama ini bukan kegiatan sampingan. Ini adalah kebutuhan setiap insan. Tidakkah kita ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) niscaya Allah akan mudahkan baginya dengan sebab itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Kita tentu butuh bantuan Allah untuk bisa istikamah dalam beragama hingga akhir hayat. Lantas bagaimana seorang hamba bisa istikamah apabila dia tidak berpegang dengan ilmu agama?

Akar atau kunci istikamah terletak pada keistikamahan hati; sejauh mana hati itu tunduk kepada Allah dan mengagungkan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah istikamah iman seorang hamba sampai istikamah hatinya.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Albani). Hadis ini menunjukkan bahwa keistikamahan anggota badan tergantung pada keistikamahan hati, sedangkan keistikmahan hati adalah dengan mengisinya dengan kecintaan kepada Allah, cinta terhadap ketaatan kepada-Nya dan benci berbuat maksiat kepada-Nya.

Rewriter : Muthmainnatul Lizamah
Sumber : muslim.or.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.