Penurunan Neto Devisa Pariwisata Kuartal I Relatif Rendah

Avatar of PortalMadura.com
Bank Indonesia tempuh 5 kebijakan hadapi ekonomi 2019
dok. Gedung Bank Indonesia. (Foto. AA)

PortalMadura.Com – Bank Indonesia (BI) menyebutkan penurunan neto devisa pariwisata pada kuartal pertama tahun ini relatif rendah.

Hal ini akan berdampak pada rendahnya defisit transaksi berjalan kuartal pertama yang akan berada di bawah 1,5 persen PDB.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menjelaskan, penurunan devisa pariwisata lebih rendah dari perkiraan semula, karena pada penghitungan awal hanya menghitung penurunan devisa dari turis yang masuk dan belum memperhitungkan adanya pembatasan kunjungan ke luar negeri.

“Larangan kunjungan ke luar negeri seperti umrah dan wisata juga akan menurunkan penggunaan devisa untuk pariwisata ke luar Indonesia,” jelas Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Jumat (17/4/2020).

Perry memperkirakan penurunan devisa yang berasal dari turis asing pada kuartal pertama sekitar USD2 miliar, sementara penghematan devisa dari turis Indonesia yang ke luar negeri sekitar USD1,6 miliar.

“Sehingga secara net penurunan devisa pariwisata tidak setinggi perkiraan sebelumnya,” ujar Perry.

Baca Juga:  Arsul Sani Sebut Reformulasi 14 Pasal RKUHP dari DP Wajib Dibahas di DPR

Selain dari devisa pariwisata, dia mengatakan faktor lain yang mendorong rendahnya defisit transaksi berjalan kuartal pertama berasal dari neraca perdagangan yang terdampak Covid-19.

Dia mengatakan, Covid-19 berdampak pada penurunan ekspor karena permintaan dunia turun dan harga komoditas turun serta terganggunya mata rantai perdagangan dunia.

Namun, penurunan impor lebih besar lagi karena turunnya ekspor membuat kebutuhan impor bahan baku turun, serta aktivitas produksi dalam negeri juga turun dalam periode Covid-19 ini.

“BPS sudah melakukan komunikasi di Maret ada surplus perdagangan USD743 juta dolar dan keseluruhan kuartal I sebesar USD2,62 miliar,” imbuh Perry.

Kemudian, defisit dari neraca jasa untuk biaya angkut transportasi impor yang nilainya sekitar 8 persen dari nilai impor juga turun akibat penurunan impor. Dengan begitu, maka defisit neraca jasa juga akan lebih rendah lagi.

Baca Juga:  Arsul Sani Sebut Reformulasi 14 Pasal RKUHP dari DP Wajib Dibahas di DPR

“Faktor-faktor itu yang membuat defisit transaksi berjalan kuartal I akan lebih rendah dari 1,5 persen dan di kuartal dua akan tetap rendah,” lanjut Perry.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.