oleh

Perlukah MUI sampai Mengharamkan PUBG?

PortalMadura.Com – PUBG, PlayerUnknown’s Battlegrounds ini merupakan permainan online dikategori perang dan dimainkan bersama-sama. Pertanyaannya sekarang adalah, Mengapa MUI mau mengaharamkan PUBG? padahal jika dipikir dengan logika, ini hanyalah sebuah permainan. Dimana pada dasarnya permainan itu dimainkan hanya untuk sekedar hiburan. Lalu mengapa sampai ada pernyataan untuk mengharamkan PUBG? Mari kita bahas bersama.

Dikutip dari CNN Indonesia, bahwasanya “MUI beranggapan wacana fatwa haram ini dipicu karena teror penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang disebut terinspirasi gim baku tembak PUBG.”

Selamat Ibadah Puasa 1

Tidak masuk akal bukan? apakah iya kapasitas serta tindakan MUI ini sudah benar? Jika dipikir secara logika serta lebih mendalam lagi tentunya tidak bukan?

seperti yang dikatakan tadi, bahwa sejauh ini landasannya adalah peristiwa penembakan di Christchurch, Selandia Baru, di mana beberapa orang menganggap sang pelaku terpicu oleh gim tersebut. Sehingga MUI menilai gim ini menjadi salah satu illat terjadinya perilaku teror, oleh karena itu, pantas untuk dihilangkan. Jika MUI hendak merujuk kaidah fiqih yang berbunyi; menghilangkan keburukan lebih utama daripada mendatangkan kebaikan. mungkin MUI keliru dalam memandang apa yang harus dihilangkan itu.

Perilaku teror itu ada di mana-mana, jika gim PUBG disebut sebagai salah satu penyebab utama, maka seharusnya MUI juga mengharamkan gim seperti Grand Theft Auto atau Counter Strike, Point Blank atau bahkan game perang yang lain yang telah lebih dahulu hadir mewarnai belantika gim Indonesia.

Penyebab seseorang berlaku teror bisa beragam, dan keberadaan gim mungkin ada di urutan yang entah ke berapa. Selain itu, dari sekian ribu orang Indonesia yang memainkan gim ini, berapa besar jumlah orang yang punya kemungkinan untuk melakukan teror.

Wacana mengharamkan gim ini tidaklah berbeda dengan upaya Kemenkominfo untuk memblokir situs porno. Padahal dengan ikhtiar yang lebih, siapa saja bisa membuka situs porno dengan berbagai macam cara dan sukses. Akhirnya kebijakan tersebut malah tidak berguna dan dianggap sebagai buang-buang anggaran. Jika MUI hendak melarang orang Indonesia bermain gim ini, maka niscaya para gamers ini akan menemukan berbagai cara lain untuk tetap bisa memainkannya.

Sudut pandang lain yang memungkinkan pengharaman ini tidak akan berjalan dengan baik adalah keberadaan MUI itu sendiri. Sesuai dengan produknya, fatwa adalah kesepakatan beberapa ulama tentang suatu hal, namun Masyarakat boleh dan berhak untuk mengikutinya dan boleh tidak.

Fatwa bukanlah sesuatu yang mengikat, katakanlah MUI mengharamkan PUBG, maka tidak semua muslim akan mengikuti fatwa tersebut. Ditambah juga orang-orang yang beragama Kristen, Katolik, Buddha, Konghucu dan lain-lain, mereka jelas tidak akan mengikuti fatwa tersebut.

Dalam tanda kutip, karena Negara Indonesia bermayoritas muslim, MUI memang punya wewenang untuk memberikan pendapat atau sudut pandang terhadap suatu hal yang harus disesuaikan dengan kaidah Islam, itu fakta. Namun, sekali lagi haruskah persoalan permainan PUBG ini juga ikut dimasukkan kedalam fatwanya? sedangkan jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, sebab-sebab terjadinya terorisme ini banyak hal yang jadi pemicunya.

Jujur saja, alasan MUI untuk mengharamkan permainan mungkin tidak memberikan spesifikasi yang mutlak, mutakhir dan efisien. Yang artinya, ini mendatangkan pertanyaan yang begitu besar terhadap fatwa ini.

Menetapkan sebuah permainan boleh dimainkan atau tidak bukanlah wilayah lembaga agama untuk mengurusnya. Adapun jika permainan tersebut berhubungan dengan perilaku mudarat, maka psikolog dan ilmuwan sosial lain yang lebih punya hak untuk mengkaji hal ini.

MUI bukanlah lembaga Negara, ia adalah badan yang menaungi para ulama untuk berkhidmat dan saling bertukar pikiran untuk kemaslahatan bangsa. Namun semua itu harus didasari dengan kesungguhan dan keterbukaan untuk melihat hal-hal yang mampu dan tidak mampu dilakukan oleh MUI.

Sekali lagi, bukan untuk memberikan ujaran kebencian, akan tetapi ini bukanlah koridor MUI untuk membahasnya atau bahkan mengharamkannya. It is just a game. Dan bagi kami, orang-orang yang memainkannya, masih memiliki otak serta akal yang sehat. Hanya ingin membuat diri sendiri jadi terhibur, hanya menjadikannya kesenangan semata untuk melepas penat, bukan untuk berlatih untuk menjadi seorang teroris. Dan bahkan, bagi orang yang tidak memainkan permainan ini akan memakluminya, karena sekali lagi, this is just a game for having fun, bukan tempat orang untuk berlatih menjadi seorang teroris. Semoga bermanfaat, Wallahu a’lam.

Rewriter : Agnes Hafilda Kusuma
Sumber : islami.co

Komentar