oleh

Politisi PBB Pertanyakan Reses Anggota Dewan

SUMENEP (PortalMadura) – Salah satu Calon legislatif (Caleg), Fathol Bari, dari Partai Bulan Bintang (PBB) Sumenep, Madura, Jawa Timur dari daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi Kecamatan Ganding, Guluk-Guluk dan Pragaan menyoroti berbagai kejanggalan  terkait pelaksanaan reses anggota DPRD Sumenep priode 2009-2014, yang dinilai tidak proporsional.

Buktinya, kata dia, banyak tokoh masyarakat seperti Kepala Desa dan beberapa ormas yang selama hampir lima tahun Pemilu, mengaku tidak pernah diundang oleh satupun anggota dewan dalam kegiatan reses.

“Kalau boleh saya jujur, selama priode 2009-2014 ini, saya belum pernah diundang sekalipun oleh anggota dewan dalam kegiatan reses di dapil saya. Malah banyak pengakuan yang sama dari tokoh masyarakat, Kepala Desa dan ormas lainnya. Jelas mereka sangat kecewa”, ujar Fathol Bari, dalam rilisnya yang dikirim ke Redaksi PortalMadura, Selasa (25/02/2014).

Tokoh pemuda yang pernah bikin geger karena mengungkap dugaan pungli e-KTP di Dispenduk Capil Sumenep ini menambahkan, harusnya para anggota DPRD di Dapil III Sumenep itu profesional dan gentle mengundang seluruh elemen masyarakat yang memang memiliki kapasitas SDM mumpuni dan iktikad baik membangun daerahnya.

“Jangan hanya karena dianggap lebih cerdas dari anggota dewannya, kemudian tokoh-tokoh kriritis tidak dilibatkan dalam kegiatan reses anggota dewan”, tandasnya.

Namun ketika disoal tentang kemungkinan, apakah para anggota dewan di dapil III itu tidak melaksanakan kegiatan reses sesuai juknis, pihaknya enggan membeber dengan alasan timingnya tidak tepat.

“Nanti saja saya ungkap lebih detil. Sekarang posisi saya khan sebagai caleg, jadi kurang etislah kalau saya buka-bukaan semua tentang mereka, apalagi mayoritas anggota dewan kita di dapil III jadi caleg incumbent”, sindirnya.

Tak hanya itu, Fathol Bari, yang selama ini sangat kritis dan tegas menyuarakan kepentingan wong cilik ini berharap, agar masyarakat tidak hanyut oleh stresing politik yang cenderung mengarah ke hal pragmatis.

“Jangan terpengaruh dengan ulah oknum yang ingin mengeruk keuntungan pribadi dengan cara membangun opini negatif, seperti sering kita dengar istilah ada uang ada suara. Pilih saja dengan hati nurani.

Insya Allah bisa dibedakan calon tikus kantor dengan calon wakil rakyat”, pungkas pria kelahiran Dusun Mandala, Desa Ketawang Karay, Kecamatan Ganding ini penuh semangat.(*htn)


Tirto.ID
Loading...

Komentar