Produksi padi Kabupaten Sumenep mengalami penurunan signifikan sepanjang 2024. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep yang dirilis September 2025, luas panen padi tahun lalu mencapai 36,76 ribu hektare atau turun 5,67 ribu hektare (13,37 persen) dibandingkan 2023.
Penurunan serupa terjadi pada produksi, yang hanya mencapai 189,50 ribu ton gabah kering giling (GKG) atau setara 109,42 ribu ton beras—menurun 16,35 ribu ton (13 persen) dari tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kabupaten Sumenep Joko Santoso menjelaskan, pola panen tahun 2024 mengalami pergeseran dibandingkan tahun sebelumnya.
“Puncak panen yang biasanya terjadi pada Maret 2023 dengan luas 20,17 ribu hektare, pada 2024 bergeser ke April dengan luas panen 18,06 ribu hektare,” ungkapnya dalam laporan Luas Panen dan Produksi Padi Kabupaten Sumenep 2024.
Data menunjukkan produksi tertinggi sepanjang 2024 terjadi pada April dengan capaian 95,45 ribu ton GKG atau setara 55,12 ribu ton beras.
Sebaliknya, November menjadi bulan dengan aktivitas panen paling minim, hanya 0,00003 ribu hektare.
Meski Maret 2024 mengalami penurunan produksi hingga 62,59 ribu ton dibanding Maret 2023, penurunan tersebut sebagian terkompensasi kenaikan produksi April 2024 yang melonjak 76,25 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Penurunan produksi padi ini berdampak langsung pada kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi lokal.
Padahal, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung perekonomian Sumenep dengan kontribusi 20,79 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2024.
Sektor ini juga menyerap tenaga kerja terbesar di kabupaten ujung timur Pulau Madura tersebut—28,18 persen penduduk Sumenep bekerja di bidang pertanian berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional Agustus 2024.
Data statistik ini dikumpulkan melalui Survei Kerangka Sampel Area (KSA), metode pengukuran objektif yang menggabungkan citra satelit resolusi tinggi dengan pengamatan lapangan langsung.
Sebanyak 130 segmen sampel tersebar di seluruh kecamatan Sumenep diamati setiap bulan pada tujuh hari terakhir periode pengamatan. Realisasi pengamatan mencapai 100 persen sepanjang 2024, memastikan akurasi data yang tinggi.
Survei KSA merupakan kolaborasi nasional antara BPS dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), serta Badan Informasi Geospasial (BIG). Metode ini mulai diterapkan secara nasional sejak 2018 untuk menggantikan sistem pengukuran subjektif berbasis laporan administrasi yang dinilai kurang akurat.
Penurunan produksi padi Sumenep 2024 menggarisbawahi tantangan ketahanan pangan di tengah perubahan iklim yang memengaruhi pola curah hujan dan meningkatkan risiko gagal panen. BPS Sumenep menegaskan, ketersediaan data pertanian yang akurat dan tepat waktu menjadi fondasi penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pertanian yang responsif dan tepat sasaran pada 2025 dan tahun-tahun mendatang.





