Puasa Hari Kelahiran, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?

Avatar of PortalMadura.com
Puasa Hari Kelahiran, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?
ilustrasi

PortalMadura.Com – Ada beberapa puasa sunah yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya di dunia. Mulai dari Puasa Senin Kamis, puasa Syawal, maupun puasa Daud. Selain mendapatkan pahala dari Allah SWT, puasa tersebut juga dipercaya bisa menyehatkan tubuh manusia.

Tidak heran, banyak orang yang mulai mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tapi selain puasa tersebut, ada sebagian masyarakat yang juga melakukan puasa hari kelahiran. Lantas, apakah puasa tersebut juga diajarkan oleh Rasulullah?.

Banyak sekali masyarakat yang senang memperingati hari kelahiran mereka dengan berpuasa sunah padahal belum tentu mereka mengetahui dan memahami kejelasan hukum dari puasa tersebut.

Nah, agar ibadah sunah Anda tidak termasuk ibadah yang mengada-ada dan mengatasnamakan sunah hanya atas dasar taklid, yuk simak informasi berikut ini:

Puasa Hari Kelahiran Rasul, Bukan Hari Kelahiran Umat-umatnya
Rasulullah adalah sosok yang rajin mengerjakan puasa sunah terutama pada hari Senin. Pada saat itu beliau ditanya oleh para sahabat tentang puasa yang dilakukannya setiap hari Senin. Kemudian Rasulullah menjawab, “Itu hari kelahiranku dan diturunkannya wahyu,” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Menurut sebagian ulama, hadis tersebut menegaskan bahwa meskipun hari senin bertepatan dengan hari kelahiran Rasulullah, tetapi tidak terdapat anjuran bagi umatnya untuk ikut menjalankan puasa hari kelahiran seperti beliau.

Baca Juga:  10 Muharam 1444 H, Momentum Santuni Anak Yatim

Hal ini dikarenakan puasa sunah yang dilakukan oleh beliau lebih dikarenakan pada hari itu Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Rasul. Selain itu, jika Rasul mensyariatkan untuk melakukan puasa hari kelahiran, tentu bukan pada hari kelahiran Anda melainkan hari kelahiran Rasulullah.

Apabila Anda mengkaji tentang kehidupan para sahabat maka tidak akan ditemukan kelompok sahabat yang melakukan puasa hari kelahiran mereka.

Hal ini juga dapat menjadi salah satu acuan apakah ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan syariat yang dianjurkan untuk Anda lakukan atau tidak. Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada untuk tidak hanya mengikuti sunah yang beliau ajarkan tetapi juga mengikuti praktek ibadah dari para sahabat.

Tidak Terdapat dalam Puasa Sunah yang Diajarkan Rasulullah
Sebelum menyimpulkan hukum puasa hari kelahiran dalam Islam, marilah kaji terlebih dahulu jenis-jenis puasa sunah yang diajarkan oleh Rasulullah.

1. Puasa Senin Kamis
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, “Amal-amal perbuatan itu diajukan (diaudit) pada hari Senin dan Kamis, oleh karenanya aku ingin amal perbuatanku diajukan (diaudit) pada saat aku sedang shaum,” (H.R. Tirmidzi).

Baca Juga:  10 Muharam 1444 H, Momentum Santuni Anak Yatim

2. Puasa Enam Hari pada Bulan Syawal
Diriwayatkan dari Abu Ayyub r.a., Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang shaum pada bulan Ramadan kemudian diikuti dengan shaum (Sunah) enam hari pada bulan Syawal, ia seakan-akan shaum sepanjang tahun,” (H.R.Muslim).

3. Puasa Tasu’a dan A’syura (9-10 Muharram)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Telah bersabda Rasulullah, ‘Shaum yang paling utama setelah shaum Ramadan adalah shaum pada bulan Muharram, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam’,” (H.R.Muslim).

4. Puasa Daud
Rasulullah saw. bersabda, “Shaumlah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah shaum Daud a.s. Dan itu shaum yang paling tangguh,” (H.R. Muslim).

5. Shaum Pada Bulan Sya’ban
Aisyah r.a. menjelasakan, “Tidak terlihat oleh saya Rasululllah. melakukan shaum dalam waktu sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadan, dan tidak satu bulan pun yang sehari-harinya lebih banyak diisi dengan shaum oleh Nabi daripada bulan Sya’ban,” (H.R. Bukhari-Muslim).

6. Shaum Tiga Hari Setiap Bulan
Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Shaum tiga hari setiap bulan itu seperti shaum sepanjang tahun,” (H.R. Bukhari-Muslim).

Baca Juga:  10 Muharam 1444 H, Momentum Santuni Anak Yatim

Abu Dzar ra berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila kamu shaum tiga hari dalam sebulan, shaumlah pada tanggal 13,14,15,” (H.R. Tirmidzi).

7. Shaum ‘Arafah
Rasulullah ditanya tentang shaum hari ‘Arafah, beliau menjawab, “Dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan yang tersisa,” (H.R. Muslim).

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah melarang shaum ‘Arafah bagi mereka yang sedang berada di ‘Arafah (sedang haji) (H.R. Abu Daud dan An-Nasai).

Berdasarkan jenis-jenis puasa tersebut diketahui bahwa tidak ada sumber yang menyebutkan bahwa Rasulullah mengajarkan untuk melakukan puasa hari kelahiran. Oleh karena itu, janganlah mengada-ada suatu ibadah yang tidak ada tuntunannya atau tidak disunahkan oleh Rasulullah. Wallahu A’lam. (islamidia.com/Putri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.