Rumah Bersalin Gratis, Solusi Melahirkan Bagi Duafa

Rumah bersalin gratis, solusi melahirkan bagi dhuafa
Para ibu melakukan senam hamil di Rumah Sakit Bersalin Cuma-Cuma di Cigondewah, Kota Bandung pada 17 Januari 2018. (Muhammad Latief - Anadolu Agency)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Bandung – Pekerjaan suami Pipih (30), pada sebuah konveksi di daerah Sindangpalay, Margahayu, Bandung, Jawa Barat, sedang sepi.

Pesanan topi tidak sebanyak biasanya. Dengan kondisi begitu, gaji yang dibawa pulang ke rumah pun berkurang.

Pipih, yang ditemui di Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC) Bandung pada Kamis, bercerita bahwa dia yang saat itu sedang hamil begitu khawatir.

Dia butuh banyak biaya untuk periksa dan biaya persalinan nanti.

Setiap periksa kehamilan di bidan, paling tidak harus mengeluarkan biaya sekitar Rp50 ribu.

Selama hamil ada saja pengeluaran ekstra untuk perbaikan gizi bagi dia dan jabang bayi yang dikandungnya.

“Biaya bersalin di bidan yang normal itu sekitar Rp1,7 juta. Kami benar-benar tidak ada uang untuk membayarnya,” ujar Pipih. dilaporkan Anadolu Agency, Minggu (21/1/2019).

Saudara Pipih pernah mengalami hal serupa. Saat itu mereka tidak ada uang dan harus membayar biaya persalinan.

Tetapi pada akhirnya mereka berdua mendapat solusinya. Pipih dan saudaranya tidak perlu membayar biaya persalinan.

Mereka mendapatkannya di Rumah Bersalin Cuma-cuma (RBC), Cigondewah, Kota Bandung.

Setelah mendaftar, hidup Pipih seolah tiba-tiba menjadi lebih tenang.

Setiap bulan dia periksa kehamilan, ditangani bidan dan dokter umum di rumah sakit tersebut. Tiba saat bersalin, dia datang dan ditangani dengan baik.

Setelah melahirkan, pelayanan RBC berlanjut. Dia mendapatkan perawatan pasca-melahirkan dan anaknya mendapat pelayanan hingga berumur satu Tahun.

“Imunisasi anak saya juga diberikan di sini. Kalau dia sakit juga berobat ke sini. Semuanya gratis,” ujar dia.

Tak cuma pelayanan medis. Selama kehamilan Pipih juga ikut senam hamil, aktivitas yang terasa mewah baginya. Biasanya bidan juga memberikan bubur kacang hijau, tambahan gizi bagi dia dan bayinya.

RBC juga mempunyai program spiritual. Tiap ibu hamil diperdengarkan kalam-kalam Ilahi.

Sebagai ibu, kegiatan spiritual itu membuat Pipih merasa tenang dan siap menjalani kehamilan dan persalinan nanti.

Sejak didirikan 2004 lalu, RBC sebuah klinik di Kota Bandung, Jawa Barat sudah melayani lebih dari 8.036 kali persalinan dengan cuma-cuma.

Kini mereka mempunyai 9.724 orang anggota yang bisa mengakses layanan cuma-cuma. RBC didirikan oleh Sinergi Foundation, sebuah yayasan pengelola zakat, wakaf, infak dan sedekah di Bandung.

Sari Rakhmani, dokter di klinik tersebut mengatakan pelayanan klinik tersebut berbasis keanggotaan.

Jika warga ingin mendapatkan pelayanan mereka mendaftar terlebih dahulu dengan rekomendasi dari masjid setempat.

Setelah itu tim dari RBC melakukan verifikasi dangan mewawancarai mereka dan lingkungan tempat tinggal untuk memastikan kelayakan mereka mendapatkan pelayanan.

Jika lolos, mereka akan mendapatkan pelayanan sejak masa kehamilan hingga anak berusia satu Tahun.

“Karena ini didanai zakat, jadi sasarannya orang yang berhak saja. Salah satunya kaum duafa (fakir miskin),” ujar dia.

RBC kini menjadi salah satu klinik andalan bagi kaum duafa di Kota Bandung. Mereka biasanya datang dari profesi non formal, seperti pedagang makanan keliling, tukang ojek atau buruh konveksi.

Banyak juga di antara mereka yang tidak bekerja. Misalnya sang suami dipecat, dan istri karena hamil tidak diperbolehkan untuk bekerja, sehingga dalam kehamilan dan menunggu persalinan ini tidak memperoleh pendapatan apa pun.

Dengan bangunan seluas 700 meter persegi dengan lima ruang rawat inap dengan kapasitas 2-3 tempat tidur di setiap ruangan.

Setiap hari, mereka melayani 40-60 pasien yang terdiri dari ibu hamil dan anak-anak.

RBC juga siap mengantarkan ibu yang bermasalah saat persalinan ke rumah sakit rujukan.

“Kami bantu urus administrasinya, misalnya dengan BPJS Kesehatan atau Jampersal di tingkat Kabupaten,” ujar dia.

Di kawasan miskin perkotaan, menurut Sari masalah yang paling banyak ditemui adalah minimnya asupan nutrisi bagi ibu hamil.

Kata Sari, mereka makan, tapi bisa saja hanya dengan nasi dan kerupuk atau hanya sayur saja. Sehingga tidak ada kecukupan gizi, terutama protein.

“Ada juga ibu hamil yang makan cuma sekali,“ ujar Sari.

Masalah berikutnya adalah ibu hamil yang terpapar asap rokok.

Menurut Sari, problem kemiskinan perkotaan ini membuat banyak bayi yang lahir dari kalangan mereka bermasalah.

Misalnya, ada masalah dengan tali pusar, berat bayi yang kurang atau masalah kesehatan lain.

Pelayanan persalinan terhadap kaum duafa ini menurut Sari akan dikembangkan.

Dalam waktu dekat Sinergi Foundation akan membangun Rumah Sakit Ibu dan Anak untuk memberikan pelayanan yang lebih lengkap.

“Nanti pelayanannya lebih lengkap dan bisa jadi rumah sakit rujukan,” ujar dia. (AA)


Ikuti Berita Kami Lainya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.