PortalMadura.com–Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan melemah hari ini, bergerak di kisaran Rp16.820 hingga Rp16.850 per dolar AS. Meski sempat dibuka menguat 0,23% ke level Rp16.782 pagi tadi, tekanan eksternal dan dinamika geopolitik global mendorong pelemahan dalam perdagangan siang.
Data Bloomberg mencatat, pada penutupan Jumat (23/1), rupiah menguat 0,45% ke posisi Rp16.820 per dolar AS. Namun, sentimen pasar berubah seiring perkembangan terbaru di Amerika Serikat, termasuk spekulasi soal calon Ketua The Fed pengganti Jerome Powell dan data ekonomi yang menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pasar kini menunggu keputusan Presiden AS Donald Trump terkait sosok baru di pucuk pimpinan Federal Reserve. “Jika Trump memilih figur yang lebih ‘dovish’ atau lunak, itu bisa memicu ekspektasi pemotongan suku bunga lebih cepat,” ujarnya. Namun, data PDB kuartal III/2025 yang melampaui proyeksi dan stabilitas pasar tenaga kerja justru mengurangi peluang penurunan suku bunga dalam pertemuan Fed pekan ini.
Di sisi geopolitik, pernyataan Trump soal Greenland dan ancaman tarif terhadap Uni Eropa turut mengganggu stabilitas pasar keuangan global. Para pemimpin Eropa bahkan akan menggelar pertemuan darurat Kamis mendatang untuk meninjau ulang hubungan transatlantik.
Dari dalam negeri, Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan Bank Indonesia (BI) agar tetap hati-hati dalam melakukan intervensi di pasar valuta asing. Menurut IMF, rupiah sebaiknya tetap berfungsi sebagai penyangga terhadap guncangan eksternal, meski BI memiliki ruang untuk meredam volatilitas melalui instrumen seperti pasar spot, DNDF, dan NDF.
Sementara itu, mata uang Asia lainnya juga menunjukkan pergerakan campuran. Ringgit Malaysia dan won Korea Selatan mencatat penguatan signifikan, masing-masing naik 0,89% dan 1,38%, sedangkan baht Thailand dan peso Filipina bergerak lebih moderat.
Untuk sepekan ke depan, rupiah diprediksi berfluktuasi di rentang Rp16.790 hingga Rp17.000 per dolar AS, tergantung pada respons kebijakan moneter global dan dinamika politik internasional.





