PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Kamis, 28 Mei 2026, terpantau berada di level yang melemah, mendekati rekor terendah sepanjang sejarah di kisaran Rp 17.828,5 hingga Rp 17.830,4 per dolar AS.
Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren fluktuatif yang didominasi oleh tekanan eksternal, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai sumber data keuangan.
Pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, rupiah sempat menguat tipis ke Rp 17.703 per dolar AS namun kemudian kembali tertekan hingga mencapai Rp 17.722 per dolar AS pada pukul 09.40 WIB, menurut data Bloomberg.
Bahkan, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah ditutup pada Rp 17.743 pada 25 Mei 2026, menandai depresiasi terdalam yang memecahkan rekor sebelumnya di Rp 17.719 pada 19 Mei 2026.
Sebelumnya, pada akhir April 2026, rupiah juga mencatat rekor penutupan terburuk pada posisi Rp 17.346 per dolar AS.
Kekuatan indeks dolar AS yang saat ini berada di angka 99 menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap mata uang Garuda.
Kondisi ini diperparah oleh meningkatnya risiko inflasi di AS yang membuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve tetap hawkish, mendukung penguatan dolar.
Faktor geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah terkait hubungan AS-Iran dan isu Selat Hormuz, turut menimbulkan ketidakpastian signifikan di pasar keuangan global.
Pernyataan Presiden AS yang menyebut negosiasi konstruktif sempat meredakan harga minyak dunia, namun perbedaan pandangan Iran mengenai Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel akibat konflik tersebut secara langsung meningkatkan beban impor energi Indonesia, memberikan tekanan tambahan pada rupiah.
Selain itu, analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut penurunan minat pelaku pasar asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia juga menjadi penyebab pelemahan rupiah, sejalan dengan menipisnya selisih yield dibandingkan obligasi pemerintah AS.
Secara domestik, terdapat faktor musiman pada kuartal kedua tahun 2026 yang meningkatkan permintaan dolar AS.
Faisal Rachman, Kepala Riset Ekonomi Makro dan Market Permata Bank, menjelaskan bahwa ini disebabkan oleh pembayaran kembali aset keuangan domestik kepada investor non-residen, serta kebutuhan valas untuk musim Haji dan pembayaran utang luar negeri korporasi.
Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) telah mengambil berbagai langkah stabilisasi untuk meredam volatilitas rupiah.
BI telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dan menerapkan skema intervensi ganda di pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta obligasi.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga kuat, namun perkembangan nilai tukar memang sangat dipengaruhi sentimen global.
Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa tingkat depresiasi rupiah saat ini masih relatif terkendali berkat kekuatan ekonomi nasional yang didukung oleh perbankan dan korporasi yang solid.
Ia juga mencatat bahwa pelemahan rupiah secara tahun kalender berjalan sebesar 5 persen masih terbilang terjaga dibandingkan periode 10 tahun sebelumnya.
Dalam upaya jangka panjang, BI juga tengah mengembangkan penggunaan Local Currency Transaction (LCT) ke Arab Saudi dan negara-negara lain untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Meskipun fundamental ekonomi nasional dianggap kuat, beberapa analis memproyeksikan rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan.
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi dari Beritasatu.com bahkan memprediksi rupiah berpeluang menembus level Rp 18.000 per dolar AS apabila tekanan eksternal terus berlanjut sepanjang bulan Mei 2026.
Sementara itu, Faisal Rachman menilai tekanan depresiasi kemungkinan akan berlanjut, namun rupiah diperkirakan masih mampu bertahan di bawah level Rp 18.000.
Pelemahan rupiah sepanjang Mei 2026 telah mencapai sekitar 2,1 persen, menurut Jessica Tasijawa dari Mirae Asset Sekuritas.
Masyarakat dan pelaku bisnis diimbau untuk terus memantau perkembangan kurs rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.





