oleh

Sanggar Tarara, Wujud Kebangkitan Kesenian Bangkalan (Part 4-Habis)

“Meski saya yang menjalani ajang ini, namun Sanggar Tarara yang membuat saya bisa menari. Dari sanggar pula pengetahuan dan wawasan saya soal dunia tari mulai terbuka. Berdosa sekali rasanya bila saya tak turut mempersembahkan gelar ini pada Sanggar Tarara, khususnya Mas So (Sudarsono),” ungkap Reni.

PAUD-TK Permata Bunda, tempat Reni Wulandari mencurahkan kecintaannya pada dunia anak. (Foto: Agus Hidayat)

Sebagai pribadi, Reni dikenal mudah bergaul, cekatan, juga tegas. Namun gaya bicaranya terkadang blak-blakan, mengungkapkan sesuatu apa adaanya. Saat melatih tari, ia berusaha menyampaikan materi lewat pendekatan kesabaran, ketelatenan, hingga pada situasi tententu yang mengharuskannya bersikap tegas.

Dinaungi Faktor Keberuntungan

Predikat Duta Penari Jawa Timur 2010 menjadi prestasi paling membanggakan bagi Reni. Prestasi yang sekaligus jadi pembuktian pada kedua orang tua, khususnya sang ayah. Sebelum terpilih mewakili Bangkalan, sang ayah sempat memintanya untuk berhenti dari Sanggar Tarara.

“Ayah menginginkan saya menimba ilmu di pondok pesantren ketimbang beraktifitas tari. Tak satupun kata yang saya ucapkan setelah mendengar keinginan beliau. Saya memilih diam dan segera pamit saat hendak berangkat latihan tari. Saya merasa semangat dan gairah yang ada pada diri saya mengarah ke tari,” cetus Reni yang sempat vakum beraktifitas di sanggar selama lima tahun.

Namun betapa …

Penulis : Agus Hidayat
Editor : Putri Kuzaifah
Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE