Stop! Jangan Konsumsi Makanan Haram, Ini 4 Bahayanya

Avatar of PortalMadura.com
Stop! Jangan Konsumsi Makanan Haram, Ini 4 Bahayanya
Ilustrasi

PortalMadura.Com – Makanan, minuman haram atau bahkan syubhat harus dihindari umat Islam. Mengapa demikian? Karena sangat berbahaya, bukan hanya dari segi kesehatan tapi juga sisi spiritual.

Larangan untuk tidak mengonsumsi makanan haram tentu memiliki dasar hukum yang kuat dalam Islam. Seperti beberapa sabda Rasulullah tentang makanan dan minuman haram serta bahaya yang dapat ditimbulkan jika tetap mengonsumsi makanan haram.

Sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Rabu (27/11/2019) dari laman okezone.com yang dikutip dari laman NU Online. Berikut beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan jika mengonsumsi makanan haram:

Energi Tubuh yang Lahir dari Makanan Haram Cenderung Dipakai Maksiat

Sahabat Sahl radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Siapa saja yang makan makanan yang haram, maka bermaksiatlah anggota tubuhnya, mau tidak mau” (al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, jilid 2, hal. 91).

Oleh karena itu pantaslah Rasulullah bersabda: “Tidaklah yang baik itu mendatangkan sesuatu kecuali yang baik pula” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Secara tidak langsung, hadis ini mengatakan: “Tidaklah yang buruk itu mendatangkan sesuatu kecuali yang buruk.” Lebih berat lagi, makanan haram itu menjadi darah daging keturunan Anda atau diberikan kepada keturunan Anda, maka kemungkinan keturunan Anda menjadi keturunan saleh menjadi kecil.

Tidak heran jika para ulama akhlak mempersyaratkan diterimanya suatu amal ditopang dengan makanan yang halal.

Hal ini dianalogikan kepada hadis tentang sedekah, di mana sedekah tidak diterima kecuali yang berasal dari usaha yang halal. “Sesungguhnya tabaraka wata‘ala tidak menerima suatu salat tanpa bersuci dan tidak menerima suatu sedekah yang berasal dari ghulul (khianat/curang).” (HR Abu Dawud).

Terhalangnya Doa

Hal itu berdasarkan pesan Rasulullah kepada sahabat Sa‘d radliyallahu ‘anhu: “Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari” (Sulaiman ibn Ahmad, al-Mu‘jam al-Ausath, jilid 6, hal. 310).

Selain makanan yang baik, amal perbuatan yang baik dan ketaatan secara umum juga dapat menjadi pintu cepat terkabulnya doa.

Baca Juga: BreakingNews- Ribuan Santri Kepung Polres Bangkalan Tuntut Sukmawati Diadili

Sulitnya Menerima Ilmu Allah

Ketahuilah ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Itu pula yang pernah dikeluhkan oleh al-Syafi‘i kepada gurunya Imam Waki‘.

Walau as-Syafi‘i tidak menyebutkan sulitnya menerima ilmu akibat makan makanan yang tidak halal, tetapi dapat dipahami bahwa memakan makanan tidak halal itu termasuk perbuatan maksiat. (Lihat: Muhammad ibn Khalifah, Thalibul ‘Ilmi bainal Amanah wat-Tahammul, [Kuwait: Gharas]: 2002, Jilid 1, hal. 18).

Makanan tidak halal, kemaksiatan, dan perbuatan dosa secara umum juga berdampak pada malasnya beribadah, sebagaimana yang pernah dirasakan oleh Imam Sufyan al-Tsauri, “Aku terhalang menunaikan qiyamullail selama lima bulan karena satu dosa yang telah aku perbuat.” (Lihat: Abu Nu‘aim, Hilyatul Auliya, [Beirut: Darl KItab], 1974, Jilid 7, hal. 17I).

Ancaman Keras di Akhirat

Bentuk ancamannya apalagi jika bukan siksa api neraka. Ancaman ini jelas disampaikan dalam Alquran dan hadis. Di antaranya ancaman api nereka bagi orang yang makan harta anak yatim dan harta riba.

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka), (QS al-Nisa’ [4]: 10). Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya,” (QS Al-Baqarah [2]: 275).

Ancaman siksa neraka yang bersifat umum akibat makanan tidak halal juga disampaikan Rasulullah : “Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya,” (HR Al-Thabrani).

Maka marilah berusaha semaksimal mungkin menghindari perkara yang tidak halal, baik yang haram maupun yang syubhat. Mengapa yang syubhat juga harus dihindari? Karena menghindari yang syubhat merupakan benteng dalam menjauhi yang haram.

Rasulullah pernah berpesan: “Siapa saja yang jatuh kepada perkara syubhat, maka ia akan terjatuh kepada perkara haram.” (HR Muslim).

Dari empat poin di atas, dapat dipahami bahwa betapa bahayanya makanan yang tidak halal bagi Anda, baik terhadap diterimanya amal, dikabulkannya doa, dibukanya cahaya Allah, maupun terhadap keselamatan di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.