oleh

Susah Cari Bocah Jomblo di Pulau Poteran Sumenep

SUMENEP (PortalMadura) – Sinar mentari pagi mulai sedikit menyengat tubuh seiring dengan bunyi musik kleningan (Jawa: klenengan) seakan menyeruak seantero Pulau Poteran, Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep.

Itu tanda salah satu warganya mempunyai hajatan yang cukup sakral dan dilakukan secara turun temurun dimasyarakat sana. Hajatan yang satu ini cukup langka atau sulit dijumpai di daerah lain, yakni acara manten tunangan yang dilakukan anak-anak di bawa umur.

PortalMadura mencoba mendekati acara yang dihadiri ribuan warga itu. Ternyata, peserta manten pun tidak hanya sepasang, melainkan 8 (delapan) pasang. Ini masih sedikit, kadang bisa mencapai 30 pasang cowok-cewek. Cukup unik untuk dinikmati. Ternyata mereka merayakan pesta tunangan. Meski umurnya berfariasi. Ada usia taman kanak-kanak (TK), ada pula yang usia Sekolah Dasar (SD).

Mereka yang masih bau kencur dan tidak tahu arti cinta terhadap lawan jenis itu, ternyata memang sengaja ditunangkan oleh orang tuanya. Proses tunangan pun ada yang sudah dilakukan sejak dalam kandungan. Meski kadang prediksi jenis kelamin sering meleset dari prediksi awal. Sehingga tidak jadi ditunangkan.

Di Pulau Poteran yang berpenduduk lebih dari 41 ribu itu, sulit dijumpai muda-mudi yang masih berstatus jomblo bila sudah berumur 9 tahun ke bawah. Sebab, maksimal kelas tiga sekolah dasar (SD) sudah dipastikan menyandang status bertunangan yang dicarikan oleh orang tuanya sendiri.

Budaya turun-temurun bagi warga delapan desa di Kecamatan Talango yang mempunyai luas 49,8 km2 tersebut, terus berkembang dan tak terkikis zaman. Sebab, status bertunangan bagi putra-putrinya yang masih di bawah umur menjadi simbol status sosial bagi keluarganya.

Cukup menarik memang. Acara tunangan pun dirayakan besar-besaran. Perayaanpun dilakukan bersama-sama. Bahkan, diarak keliling kampung dengan berpakaian manten alah setempat. Itu semua dilakukan sebagai bukti jika anak-anak itu sudah mempunyai tunangan.

“Rasanya malu, pak! Kalau anak-anak belum mempunyai tunangan. Jadi, sejak bayi langsung dicarikan pasangan. Kalau sudah bisa naik kuda langsung digelar pesta bertunangan dengan menggunakan baju manten,” kata salah seorang ibu rumah tangga Desa Palasa, Kecamatan Talango (Pulau Poteran), Sumenep, Selasa (22/10/2013).

Dengan iringan musik saronen, dan pakaian manten dan naik kuda yang dihias bunga warna-warni menambah keunikan dalam proses perayaan manten tunangan tersebut.

Tidak hanya itu, seragam yang kinclong bagi pengawal menyedot perhatian masyarakat setempat. Hampir disepanjang jalan kampung dan desa tumplek menyaksikan arak-arakan tunangan manten yang cukup sakral itu.

Perayaan manten tunangan pun menggambarkan sifat kekeluargaan yang sangat tinggi. Sebab, setiap kali ada yang akan merayakan manten tunangan tidak dilakukan sendirian, melainkan numpang disalah satu warga yang juga punya hajatan yang sama.

Proses persiapan pun dilakukan bersama-sama. Dari pembiayaan dan suguhan yang akan diberikan pada kerabat dan tamu, juga dilakukan dengan cara gotong royong dan sumbangan bersama.

Usai keliling kampung. Anak-anak yang masih lucu itu duduk mendatangi tokoh agama setempat. Warga setempat menyebutnya, ‘guru ngaji’ (guru agama) di kampungnya. Mereka yang duduk bersama disebuah musallah, harus membaca Al-Qur’an dan dibimbing langsung oleh sang guru.

Sepulang dari guru ngajinya, mereka harus pulang ke tempat perayaan manten tunangan. Disana sudah banyak tamu yang menunggu. Di tempat perayaan pun terdapat klenengan dan sinden yang siap menghibur.

Salah seorang tokoh masyarakat Desa Palasa, Kecamatan Talango (Pulau Poteran), Sumenep, H. Yusuf Mostofah mengatakan, budaya bertunangan dan menggelar mantenan tunangan secara bersama-sama (massal) merupakan warisan sesepuh desa, sehingga masyarakat terus mengembangkan dan menjaga kesakralannya.

“Pesta bertunangan yang digelar jauh lebih besar dibanding pesta perkawinannya nanti,” katanya.

Menurut dia, mereka yang bertunangan sejak anak-anak mayoritas langgeng hingga perkawinan. Hanya sebagian kecil yang putus di tengah jalan.

“Kalau dampak positifnya sih bagus, karena kedua keluarga (antar besan, red) saling menjaga dan berusaha untuk tetap langgeng,” ujarnya.

Tokoh masyarakat lainnya, Samsudin (48), menjelaskan, setiap kali warga menggelar pesta mantenan tunangan secara massal menghabiskan biaya antara Rp 80 juta sampai Rp 150 juta.

“Biaya terbesar pada pagelaran musik kleningan. Sebab, sinden yang dihadirkan bersama perangkatnya lebih dari Rp 40 juta. Lalu, disusul biaya konsumsi untuk ribuan tamu yang berkunjung saat pesta bertunangan,” terangnya.

Setiap kali menggelar pesta bertunangan, berlangsung dua sampai tiga hari. Hari pertama merupakan arak-arakan pasangan manten. Hari kedua dan ketiga merupakan puncak acara yang dikemas dengan pagelaran kleningan.

Pihak yang punya hajat, kata dia, juga menyebarkan undangan kesanak famili yang berada di luar desa. “Jadi, setiap kali ada perayaan manten tunangan pasti ramai,” tandasnya.(redaksi).


Komentar