oleh

Susahnya Mengendalikan Rokok di Negeri Ramah Tembakau

Portal Madura.Com, Jakarta – Kenaikan cukai industri hasil tembakau sebesar 10,04 persen dianggap belum cukup untuk mengendalikan konsumsi rokok, terutama di kalangan generasi muda, ujar seorang pengusaha senior yang sekarang menjadi aktivis pengendalian tembakau, Arifin Panigoro, Kamis.

“Ngukur uang saku, sekarang masih bisa terbeli oleh generasi muda. Kalau sudah Rp50 ribu, itu baru (mengendalikan konsumsi),” ujar Arifin saat sosialisasikan penyelenggaraan acara The 12th Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (Apact12th), di Jakarta. Apact sendiri adalah forum pegiat-pegiat pengendalian tembakau untuk bertukar gagasan. dilaporkan Anadolu Agency, Kamis (23/8/2018).

Pasar rokok Indonesia, menurut Arifin yang juga pernah jadi politisi ini, sangat besar dengan jumlah perokok aktif mencapai sekitar 70 juta orang.

Indonesia merupakan negara yang sangat mudah memperoleh rokok dengan harga murah di bawah Rp20 ribu dan bisa dibeli per batang, sehingga semakin murah dan mudah didapat.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok laki-laki terbanyak di dunia, sekitar 67 persen. Di negara ini, menurut The Tobacco Atlas, lebih dari 469 ribu anak-anak (10-14 tahun) dan 53.248.000 orang dewasa (dihitung 15 tahun ke atas) yang masih mengonsumsi rokok.

Setiap tahun ada 225.700 orang meninggal dunia karena penyakit yang berhubungan dengan kebiasaan merokok. Kini setelah menguasai segmen laki-laki dewasa, industri rokok berusaha mengejar kelompok anak muda dan perempuan sebagai konsumennya.

Menurut dia, salah satu upaya mengendalikan konsumsi rokok yang sangat besar itu adalah dengan kenaikan harga. Paling tidak, kenaikan cukai rokok mencapai 20 persen tiap tahun. Sehingga dalam beberapa tahun berturut-turut, harga rokok di Indonesia bisa mengejar ketertinggalan harga dengan Malaysia, Thailand atau Singapura.

“Seharusnya harga rokok mendekati Rp50 ribu, paling tidak Rp40 ribu itu orang sudah mulai berpikir sudah mendapatkan rokok,” ujar dia.

Menurut Arifin yang juga ketua Apact12th ini, rokok tidak hanya berhubungan dengan isu kesehatan yaitu sebagai penyebab munculnya penyakit mematikan. Namun berhubungan dengan masalah ekonomi, politik dan sosial budaya.

Kondisi perokok Indonesia menjadi lebih parah karena rokok menjadi pengeluaran terbesar keluarga setelah makanan pokok, terutama pada keluarga miskin. Keluarga miskin dengan pendapatan Rp2 juta akan mempunyai pengeluaran untuk rokok mencapai Rp400 ribu.

“Kalau anaknya minta didaftarkan ke sekolah, mereka tidak kuat. Jadi rokok itu bukan hanya tidak sehat. Tapi juga masa depan,” ujar dia. “Dampak rokok itu tidak hanya di kesehatan.”

Momentum anak muda lawan rokok

Apact12th yang akan digelar di Bali 13-15 September yang bertema “Sustainable development, ensuring a healthy generation” nanti diperkirakan dihadiri oleh 800 delegasi dari 20 negara lebih.

Ketua Komite Pemuda Apact12th Hasna Pradityas mengatakan keterlibatan anak muda dalam pengendalian rokok sangat penting. Terutama karena segmen ini kini menjadi target konsumen industri rokok.

Menurut Hasna, pemuda berhak memastikan anak-anak Indonesia bebas dari epidemi membahayakan yang dihasilkan dari konsumsi rokok.

“Masih ada banyak kebohongan dari industri rokok. Mereka menyembunyikan kebenaran, misalnya iklan rokok bukan untuk anak muda, tapi mereka menjadi sponsor acara anak muda,” ujar dia.

Menurutnya ini momentum bagi anak muda Indonesia untuk menjadi gerakan kreatif dan inovatif melawan tembakau.

“Keterlibatan anak muda penting bisa menjadi nyawa pergerakan karena 60 persen populasi anak muda dunia ada di Asia Pasifik,” ujar dia.

Penasihat Apact Emil Salim mengatakan anak muda memegang peranan penting dalam sejarah kebangkitan Indonesia dan harus terbebas dari penyakit-penyakit yang terkait dengan konsumsi rokok.

“Kalau Indonesia ingin mencapai masyarakat adil makmur pada 2045 maka calon-calon pemimpinnya yang lahir pada dekade 2000-an harus bebas rokok, sehingga bisa mencapai puncak pada usia 40-an,” ujar dia. “Kita harus selamatkan generasi muda yang berusia 17-19 tahun dari zat-zat perusak otak.”

Pemerintah, menurut dia, perlu memberi perhatian pada persoalan ini. Dimulai dengan menyusun aturan komprehensif untuk melindungi generasi penerus bangsa melalui pengendalian tembakau.

Sekjen Apact ke-12 Nurul Luntungan mengatakan secara teknis, acara akan diisi pembahasan berbagai tema, seperti cuka rokok dan kemiskinan, perlindungan perempuan dan anak, pertanian tembakau, pekerja industri hingga pariwisata bebas asap rokok.

“Tembakau selama ini dekat dengan sektor kesehatan. Kita buka pada sektor lebih luas,” ujar dia.

Pengendalian tembakau di Indonesia sendiri beberapa tahun belakangan semakin agresif. Mulai upaya meratifikasi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), kenaikan cukai tembakau dan pengenaan pajak.

Efeknya sudah terlihat pada kinerja industri hasil tembakau yang menunjukkan tren penurunan. Data dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) menyebutkan produksi tahunan rokok rata-rata turun 1 persen dalam beberapa tahun belakangan.

Tahun ini, industri menargetkan produksi sebanyak 342 miliar batang, namun dirasa sulit direalisasi. Pelaku industri rokok baru memproduksi sebanyak 237 miliar batang rokok, prediksi produknya hanya 325 miliar batang.

Kontribusi cukai tembakau tidak mencapai target pada 2016 yaitu sebesar Rp137 triliun atau 93,6 persen dari target. Pendapatan cukai baru mencapai target kembali pada 2017 sebesar Rp147,8 triliun.

Sebelumnya, realisasi cukai hasil tembakau selalu lebih dari target. Pada 2008, mencapai Rp49,9 triliun atau 112 persen dari target. Pada 2010 mencapai Rp63 triliun atau 113 persen dari target Rp55,9 triliun. Pada 2012, pencapaian cukai hasil tembakau mencapai titik tertinggi yaitu 114,4 persen sebesar Rp90,6 triliun. (AA)


Komentar