Tanda Anak Harus Ikut Terapi Kejiwaan dan Perilaku

Tanda Anak Harus Ikut Terapi Kejiwaan dan Perilaku
Ilustrasi
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Layaknya orang dewasa pada umumnya, anak-anak pun bisa merasakan perubahan emosi. Mulai dari sedih, takut, senang, cemas, dan khawatir. Bahkan, seiring pertumbuhannya, segala perasaan itu akan semakin besar.

Sebagaimana yang disampaikan oleh seorang psikolog anak dari Cleveland Clinic, Kristen Eastman, PsyD, mengatakan, “Kegelisahan, kesedihan, dan kesulitan sosial akan semakin membesar seiring dengan pertumbuhan anak.”

Kondisi ini wajar terjadi pada anak dan sekaligus menjadi tantangan baginya. Karena dari emosi tersebut, anak harus belajar untuk mengubah pandangan, mempelajari keterampilan baru, dan memikirkan bagaimana cara menghadapi masalah.

Apabila ia tidak mampu memecahkan persoalan dan masih bergantung pada orang tua maka ia mungkin membutuhkan terapi perilaku dan mental. Dalam hal ini maksudnya, Anda menilai kesehatan Anda tidak hanya dari kondisi fisiknya saja melainkan juga dari perasaan, pemikiran, dan tindakan yang mereka lakukan.

Jika anak memiliki masalah dengan hal tersebut maka ia perlu mengikuti terapi. Namun, kapan terapi mental dan perilaku untuk anak harus dilakukan?.

Dilansir PortalMadura.Com, Jumat (2/8/2019) dari laman Hellosehat.com, ada beberapa hal yang menjadi tanda bahwa terapi kejiwaan dan perilaku untuk anak sangat diperlukan, di antaranya:

1. Sulit mengendalikan perasaan sedih, putus asa, atau marah dengan mudah. Sering merasa cemas dan takut berlebihan di berbagai situasi.

2. Mengalami penurunan nilai di sekolah dan kehilangan minat pada aktivitas yang dulunya disukai anak.

3. Pola makan berubah dan kesulitan untuk tidur.

4. Lebih suka menyendiri, dibanding bermain bersama dengan keluarga atau teman.

5. Kesulitan untuk memusatkan pikiran dan terlihat tidak tenang.

6. Melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain, seperti memukul, menggigit, atau bahkan melukai binatang.

7. Sulit mengekspresikan perasaan, sering mimpi buruk, atau cenderung melakukan kegiatan secara berulang, seperti mencuci tangan berkali-kali.

Apa yang Dilakukan Anak Ketika Mengikuti Terapi?

Sebelum menjalani terapi, dokter, psikolog, atau terapis akan mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Biasanya, para ahli itu akan mengadakan sesi tanya jawab seputar perubahan emosi dan perilaku anak yang mengkhawatirkan.

Jika penyebabnya sudah diketahui, dokter akan merekomendasikan terapi kejiwaan serta perilaku yang cocok untuk anak. Ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak dalam terapi tersebut, meliputi:

Berbicara

Pada sesi ini terapis akan mendengarkan berbagai keluhan, curahan perasaan, atau pikiran yang mengganggu anak. Dengan begitu, anak akan mengekspresikan perasaannya. Adapun pembicaraan yang terjalin layaknya mengobrol santai. Jadi, tidak akan membuat anak merasa tertekan saat diajak berbicara.

Bermain

Tidak bisa dipungkiri, anak-anak sangat menyukai permainan sehingga sangat cocok untuk memperbaiki suasana hati anak. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan menyusun balok, menggambar, mewarnai, story telling, atau memainkan alat musik.

Permainan yang dilakukan saat anak menjalani terapi mental dan perilaku bisa melatih anak untuk mengalihkan pikiran diri dari rasa cemas, meningkatkan kepercayaan diri, mengasah rasa empati, dan mengekspresikan diri.

Baca Juga : Kenali 10 Tipe Anak yang Perlu Jalani Play Therapy

Anak Anda mungkin akan menjalani sesi permainan khusus yang dirancang oleh terapis untuk menghadapi ketakutan anak pada sesuatu. Terapi yang erat kaitannya dengan permainan biasanya dikenal dengan terapi bermain (play therapy).

Berlatih Mengendalikan Emosi

Anak-anak dengan masalah kejiwaan, biasanya sangat mudah panik, cemas, dan stres. Untuk mengatasi hal tersebut, terapis akan mengajari anak keterampilan baru, yaitu terapi inhalasi dan visualisasi.

Terapi ini dilakukan dengan mengatur napas lebih teratur sambil membayangkan sesuatu hal yang indah atau disukai anak. Perasaan tenang akan didapatkan anak sehingga panik, cemas, dan stres yang mereka rasakan akan berkurang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.