Tantangan dan Geliat Industri Wisata di Sumenep, Mana Kehadiran Pemerintah?

Avatar of PortalMadura.com
pantai-slopeng-4
dok. Sejumlah Wisatawan tampak Menunggangi Kuda di Pantai Slopeng

Semakin terkenalnya objek wisata di Sumenep malah menghadirkan ide-ide segar dalam mengemas potensi wisata di Sumenep, seperti paket wisata pulau Gili Labak, dan sejumlah lokasi wisata lainya baik di wilayah Sumenep daratan maupun yang berada di kepulauan.

Data yang berhasil dihimpun Tim PortalMadura.Com mencatat, ada sekitar 5 travel agent yang menawarkan jasa pariwisata berkunjung ke pulau Gili Labak. Baik yang masih berbentuk perseorangan, kelompok, maupun telah berbentuk unit usaha tersendiri.

Tidak hanya menawarkan paket wisata saja, mereka juga telah bekerjasama dengan sejumlah hotel untuk memenuhi kebutuhan penginapan, dan juga kebutuhan akomodasi menuju pulau Gili Labak.

Tentunya hal tersebut direspon positif oleh masyarakat setempat, terutama masyarakat Gili Labak. Sebab sedikitnya ada 30 sampai 50 orang yang berkunjung ke Pulau Gili Labak setiap minggunya.

Dan akan naik secara signifikan pada masa-masa liburan, terutama hari Sabut-Minggu dimana sediktinya ada 4-5 rombongan yang terdiri masing-masing rombongan terdiri dari 10-15 orang.

Geliat objek wisata baru juga mulai tampak di wilayah kepulauan Kagean, dimana sejumlah pihak membuka jasa paket wisata berkunjung ke sejumlah destinasi wisata baru di Pulau Kangean. Tidak hanya itu, dalam paket wisata tersebut juga turut mengangkat budaya daerah seperti penangkaran Ayam Bekisar dan sejumlah acara Adat lainya.

Baca Juga:  Landasan Bus Terminal Sumenep Rusak, Fasilitas Penunjang Tak Layak

Minim Promosi

Walaupun pariwisata Sumenep semakin terkenal, terutama objek wisata baru. Sayangnya hal tersebut tidak didukung dengan promosi yang maksimal. Bahkan upaya promosi umumnya masih dilakukan oleh mereka yang bergelut di jasa travel.

Dan umumnya masih menggunakan web jejaring pertemanan atau Social Media secara konvensial, tidak ada satupun pihak yang terlibat langsung dalam industri pariwisata di Sumenep melakukan upaya promosi secara massif dan tertarget.

Padahal promosi secara massif dan tertarget dapat memaksimalkan potensi industri pariwisata di Sumenep. Seperti penggunaan jasa Facebook Ads (Periklanan Milik Facebook), Google Adword (Periklanan Milik Google). Maupun promosi secara massif di media-media yang memiliki potensi dan jangkauan yang besar. Seperti Televisi, Radio, Situs Berita Online, Maupun Media Cetak.

Baca Juga:  Rapat Paripurna DPRD Sumenep Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI

Padahal sudah banyak cerita sukses pengembagnan Industri Pariwisata berkat promosi masif yang dilakukan. Sebut saja, Pulau Karimun Jawa yang kini menjadi destinasi wisata Internasional berkat promosi sederhana melalui youtube yang disambut abik oleh pemerintah setempat dan kini terus berkembang.

Ada juga cerita sukses Banyuwangi yang melakukan promosi besar-besaran terhadap potensi wisata daerahnya sehingga kini, Banyuwani menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang menjadi daerah dengan kunjungan wisatawan yang tinggi. Berbeda dengan beberapa tahun lalu hanya menjadi perlintasan bagi wisatawan yang hendak ke Pulau Bali.

Menanti Infrastruktur Pendukung

Selain minimnya usaha promosi, tantangan terbesar pengembangan industri pariwisata di Sumenep tersedianya infrastruktur yang memadai. Sebut sisi akomodasi ke sejumlah lokasi objek wisata yang terbilang sulit diakses.

Belum lagi infrastruktur penunjang, seperti penginapan dan tersedianya fasilitas penunjang di lokasi objek wisata.
Hal ini tentu sangat menggangu, terlebih lagi sifat objek wisata umumnya selalu direkomendasikan oleh para pengunjung yang sudah datang.

Baca Juga:  Tanamkan Persatuan dan Kesatuan ala Bunda PAUD Sumenep

Dan jika infrastruktur pendukung di area objek wisata tidak tersedia dengan baik atau malah tidak ada sekali, tentu para wisatawan akan segan untuk kembali berkunjung maupun merekomendasikan objek wisata tersebut.

Kini saatnya menunggu apakah pemerintah Kabupaten Sumenep dapat mewujudkanya? Toh jika APBD tidak dapat mengatasi masalah infrastruktur tersebut, seharusnya pemerintah daerah dapat menggandeng pihak ketiga atau swasta untuk ikut serta membangunnya.(baca : 3 Lokasi Wisata di Sumenep Hanya Ditarget Sumbang PAD Rp188 Juta)

Sudah banyak cerita sukses pemerintah daerah di Indonesia yang menggandeng pihak swasta dalam pengembangan wisata.

Yang menjadi pertanyaan apakah pemerintah daerah, visioner dan mau mengambil resiko untuk mensejahterakan rakyatnya dari SEKTOR PARIWISATA? Kita tunggu!!! (Firman Ghazali Akhmadi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.