oleh

Terbujuk Rayuan Manis, Perempuan Janda Terlantar Di Kalimantan

SUMENEP (PortalMadura)  – Perlu hati-hati bila mempunyai teman yang hanya kenal melalui Hand Phone (HP). Apalagi orang yang di jadikan teman ngobrol tersebut, masih belum diketahui keperibadiannya. Bisa saja orang tersebut akan mencelakakan dan menjerumuskan anda.

Seperti yang dialami Nurfadilah (35), warga Desa Campaka, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur harus terlantar di Kalimantan selama sepuluh (10) hari. Teman ngobrol Dela, sapaan akrab Nurfadilah, yang mengaku bernama Wisnu itu, mengaku asli orang Kalimantan dan mengaku banyak  memiliki perusahaan.

Anehnya, Dela tertarik dengan rayuan manis Wisnu, sehingga dirinya meminta dicarikan pekerjaan yang layak, karena dirinya hanya bekerja sebagai buruh tani di desa asalnya.

Mendapat sambutan positif dari teman barunya yang kenal melalui pesan singkat nyasar itu, wisnu mulai melancarkan aksi tipu muslihatnya. Pelaku membujuk korbannya (Dela), agar berangkat ke Kalimantan untuk menemuinya.

Korban dijanjikan pekerjaan diperusahaan yang ia kelola. Selain itu, Dela juga di iming-imingi akan di jadikan istri pelaku, karena kebetulan pelaku belum memiliki pendamping.

Merasa mantap dengan janji pelaku, Dela berangkat ke Kalimantan menuju tempat kakak sepupunya bernama Agus, yang sudah lama menjadi pembuat bata di Kalimantan. Namun setelah beberapa hari di Kalimantan, pelaku yang sebelumnya berjanji akan menjemputnya ke tempat kakak sepupunya di lokasi pembuatan bata itu, ternyata hanya bohong belaka. Pelaku yang diharapkan mejadi dewa penolong bagi kehidupan Dela, tak jua datang menjemputnya.

Akhirnya, Dela memutuskan untuk pulang Kekampung halamannya di Sumenep. Namun persoalan baru justru muncul saat dia akan memesan tiket kapal. Dela yang sudah sepuluh hari di Kalimantan dan tidak bekerja, tidak meiliki uang sepeserpun. Sehingga korban meminta batuan kakak sepupunya, sehingga Agus menghubungi orang tuanya di Pasongsongan untuk membicarakan masalah biaya pemulangan Dela.

Orang tua korban berjanji akan mengganti biaya pemulangan Dela. Selama perjalanan pulang, Dela dititipkan pada Ujang bersama istrinya Nining, asal warga Pulau Sepudi, yang akan pulang ke Madura. Ujang juga menanggung biaya hidup dan transportnya.

Sesampainya di Sumenep, orang tua Dela justru tidak menjemputnya ke sebuah hotel yang di sewa Dela bersama Ujang dan istrinya. Sehingga oleh ujang Dela tidak di ijinkan pulang dengan alasan uang transport belum di ganti. Padahal Ujang harus sampai kekampung halamannya secepatnya. Karena ada urusan keluarga yang harus secepatnya di selesaikan.

“Bukan penyekapan mas, saya hanya menunggu ganti uang transport yang di pinjam Dela, kalau belum diganti, kami tidak bisa pulang kampong. Sementara uang kami juga pas-pasan,” katanya dengan nada memelas, Kamis (24/10/2013).

Sempat merebak kabar jika Dela mengaku disekap di salah satu  hotel di Sumenep, oleh orang yang membawanya dari Kalimantan. Padahal setelah di kroscek ke lapangan, ternyata Dela, hanya di minta mengembalikan uang transport yang dipinjamnya. Uang transpot yang dipinjam Dela pada Ujang sebesar Rp2,7 juta.

“Masak uang Rp2,7 juta tidak mau diganti. Sementara uang saya juga pas-pasan,” imbuh Ujang.

Saat PortalMadura mendatangi kamar nomor 29 di salah satu hotel, Jalan Wahid Hasyim No 3 Sumenep, Dela sedang menangis. Karena selain harus mengganti uang transportasi yang cukup besar, juga keluarga besarnya belum mempunyai uang untuk menutupi hutangnya tersebut.

“Saya takut dilaporkan ke polisi, mas!, saya sudah tertipu saat di Kalimantan. Sekarang ini juga harus menanggung hutang pada orang yang membawa saya pulang ke Sumenep,” ujarnya sambil menangis. (udien/htn).


Tirto.ID
Loading...

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

portalmadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE