Umat Muslim, Ini Cara Mendidik Anak soal Interaksi Sosial

  • Bagikan
Umat Muslim, Ini Cara Mendidik Anak soal Interaksi Soal
Ilustrasi

PortalMadura.Com – Interaksi sosial merupakan suatu hal yang sangat penting untuk kita pelajari sebagai manusia yang pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Dalam Islam pun selalu mengajari untuk saling berinteraksi, peduli terhadap sesama, toleransi baik sesama atau pun beda agama.

Interaksi sosial juga merupakan penunjang masa depan kita. Mengapa demikian? Karena dengan interaksi sosial kita bisa menjalin relasi atau hubungan untuk kelangsungan hidup kita. Kita juga tahu bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Yang artinya manusia masih membutuhkan manusia yang lainnya untuk meminta pertolongan dalam hal apapun itu.

Mengajarkan interaksi sosial kepada anak kita juga merupakan hal yang penting agar anak kita tidak buta akan sosial atau termasuk anak yang introved , juga dia bisa membatasi pergaulannya serta memfilter mana yang baik dan mana yang buruk.

Lalu bagaimana memberikan pelajaran tentang interaksi sosial kepada anak menurut pandangan Islam? Mari kita bahas bersama.

Dalam ajaran Islam, ada beberapa hal yang hendaknya dilakukan oleh para orang tua agar anak mereka mudah berinteraksi sosial.

Pertama, yaitu mengajari anak-anak untuk menyapa orang lain dengan mengucapkan salam. Menyapa orang lain dengan mengucap salam menjadi suatu hal mendasar yang hendaknya dibiasakan kepada anak. Sebab memberikan salam kepada orang lain adalah suatu bentuk penghormatan kepada orang lain dan merupakan sebuah doa. Imam Bukhari meriwayatkan bahwa sahabat Anas bin Malik r.a. ketika melewati anak-anak, Dia mengucapkan salam kepada mereka. Dia berkata, “Nabi saw. melakukan hal itu.” (H.R. Al-Bukhari)

Sebelum membiasakan anak untuk mengucapkan salam kepada orang lain, para orang tua hendaknya memberikan contoh dengan menyapa anak-anak kecil lainnya. Dahulu Rasulullah SAW selalu mengucapkan salam kepada anak-anak sehingga mereka terbiasa melihat dan mendengarnya. Setelah terbiasa, mereka pun memulai salam terlebih dahulu seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Ucapan salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak menunjukkan ketawadhuan, akhlak yang agung, dan sifat beliau yang mulia. Hal tersebut juga merupakan pembiasaan terhadap sunah dan melatih anak-anak dengan adab yang mulia, sehingga jika mereka baligh nanti akan mereka akan beradab dengan adab Islam.” (Syarah Shahih Al-Bukhari)

Kedua, yaitu dengan mengajak anak-anak untuk menginap atau bermalam di rumah kerabat atau saudara yang saleh. Dengan hal tersebut, mereka bisa belajar berinteraksi sosial di luar keluarga inti mereka. Seperti halnya berinteraksi dengan kakek, nenek, paman, bibi, dan sepupu. Dalam riwayat dari Ibnu Abbas r.a., “Beliau mengajarkan kepada para anak untuk bersemangat bermalam di rumah kerabatnya yang saleh serta mengambil faedah dari mereka. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah binti Al-Harits, istri Nabi saw.” “(HR. Al-Bukhari)

Kemudian yang ketiga, menyuruh anak untuk melakukan suatu keperluan. Saat melaksanakan keperluan yang ditugaskan oleh orang tua, rasa percaya diri pun akan tumbuh dalam diri sang anak sejak kecil. Ia pun akan mudah beradaptasi dengan hal-hal yang semula tidak pernah dilakukannya. Sehingga di masa dewasa ia akan mudah berinteraksi dan melakukan tugas apapun karena sudah berpengalaman di masa kecil.

Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari saya membantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sampai pekerjaan itu selesai. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidur sebentar, sehingga saya keluar ke tempat anak anak yang sedang bermain. Saya mendatangi mereka untuk melihat permainan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan memberi salam kepada anak-anak yang bermain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku dan mengutusku untuk suatu keperluan. Saya melaksanakan perintahnya.” (HR. Ahmad)

Demikianlah tiga cara yang dapat dilakukan oleh para orang tua agar anak mereka lebih mudah melakukan interaksi sosial. Pertama, dengan membiasakan anak untuk mengucapkan salam kepada orang lain. Kedua, dengan mengajak anak untuk menginap di rumah kerabat. Lalu ketiga, dengan membiasakan anak melaksanakan suatu keperluan.

Itulah cara sederhana yang Rasulullah SAW ajarkan. Mudah bukan? Ya, Pastinya.

Jangan selalu membentak juga menyumpahi anak jika ia melakukan kesalahan. Karena itu akan mengganggu psikisnya. Ia akan menjadi pribadi pembangkang, yang lebih memilih mengekspresikan kebebasannya diluar pengawasan kita karena sifat batu atau egoisnya kita sebagai orang tua yang tidak membiarkannya berkreasi sebagaimana seorang anak pada umumnya.

Sebagai orang tua kita harus berada di posisi menengah. Artinya, kita tidak boleh terlalu keras, dan kita pun juga tidak boleh terlalu lembek. Tetap kontrol dan awasi pergaulan anak kita. Selama itu baik, Mengapa tidak kita dukung untuk mengasah kemampuannya?

Dan seperti yang kita tahu bahwa anak adalah gambaran bagaimana diri kita sebagai orang tua. Jika ia darah daging kita, maka ia akan mewariskan sifat-sifat orang tuanya.

Maka dari itu, sebaiknya kebiasaan-kebiasaan yang buruk pada diri kita hendaknya tidak kita tunjukkan atau perlihatkan kepada anak kita. Mengapa demikian? Karena anak itu lebih mencontoh apa yang kita lakukan dari pada apa yang kita katakan. Maka dari itu, Jadilah panutan atau contoh yang baik terhadap anak kita agar ia tumbuh menjadi insan yang berakhlak, beriman, mengerti sopan santun, dan menjadi pribadi yang baik dan sukses sampai akhir hayatnya baik di dunia ataupun diakhirat. Semoga bermanfaat.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.